Latih Bahasa Inggris

Latih Bahasa Inggris

  Selasa, 19 April 2016 13:01

Saat ini banyak yang setuju bahwa dunia sudah dalam genggaman. Segala infomasi di berbagai belahan dunia bisa dengan mudah diakses lewat seluler pintar. Dalam hitungan detik saja, kita bisa mengakses banyak hal.  Disisi lain, berbagai tantangan dihadapi generasi muda, terutama terkait persaingan. Salah satu hal penting yang harus dikuasai adalah bahasa asing, terutama Bahasa Inggris yang menjadi bahasa komunikasi international. 

Ini pula yang menjadi salah satu alasan Azalia Nurtieka Dewi, Chairperson & Meiry Dintia Arini, Chief Executive di Kampoeng English Poernama, Jalan Purnama Agung 7, Komp. Pondok Agung Permata.

Setiap hari minggu, bersama beberapa volunteer lainnya, mereka melatih sejumlah anak-anak dari tingkat taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA hingga mahasiswa dalam berbahasa Inggris. Tentu saja harapan utamanya agar anak-anak tersebut menjadi terbiasa. “Saya bergabung disini sudah sejak tahun 2013. Dari masih duduk dibangku kelas 3 SMA. Ada yang bilang volunteer itu cara kita bersyukur karena sudah hidup di dunia. Kapan lagi bisa berbagi dengan orang lain,” jelas mahasiswi di Politeknik Negeri Pontianak ini. 

Meiry mengatakan, ada banyak hal yang bisa dilakukan perempuan saat ini, terutama dalam dunia pendidikan. “Pendidikan itu khan ujung tombak dari sumber daya suatu bangsa. Seorang ibu akan melahirkan calon-calon pemimpin masa depan. Tentu saja ini akan saling berkaitan. Demikian pula remaja putri saat ini bisa melakukan banyak hal positif dengan cara apa saja yang memang dibutuhkan oleh lingkungannya,” ajaknya. 

Dara 19 tahun ini berharap bisa menjadi manusia yang bermanfaat. Meskipun berbagai tantangan tak luput menjadi penghalang. “Dalam agama Islam dijelaskan, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat. Tantangan tentu ada, apalagi kemampuan bahasa Inggris saya belum begitu baik. Tetapi dengan mendidik adik-adik disini menjadi kesempatan buat saya untuk belajar dengan cara mengajar,” ucapnya. 

Hal penting lainnya, lanjut dia bisa melengkapi wawasan adik-adik yang tergabung didalamnya. “Bagaimanapun masa depan ada ditangan generasi muda. Semakin banyak ilmu yang didapat, semakin terbuka wawasan mereka. Apalagi dalam kesempatan tersebut kami juga mengundang tamu-tamu yang bisa menginspirasi mereka untuk memiliki harapan di masa yang akan datang,” ucap dia. 

Azalia Nurtieka Dewi (22 tahun) mengungkapkan emansipasi wanita itu tidak harus melakukan hal-hal yang besar. Terpenting kata dia lakukan apa yang terbaik sesuai dengan bidang masing-masing. “Saat ini bukan lagi bertanya apa yang negara berikan untuk kita, melainkan apa yang bisa kita berikan untuk negara. Lakukan apa yang bisa bermanfaat bagi banyak orang,” ucap lulusan Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP PGRI ini. 

Apa yang dilakukannya saat  ini, lanjut dia pada dasarnya sebagai bentuk pengabdian dengan masyarakat. Alasan lainnya untuk menerapkan ilmu yang didapatnya ketika menempuh pendidikan. “Saya lulusan S1 Bahasa Inggris. Sayang sekali jika ilmunya hanya untuk diri sendiri. Dengan berbagi kepada adik-adik memberikan kepuasan tersendiri bagi saya,”terangnya. 

Dia menilai saat ini pendidikan bahasa inggris belum menjadi bahasa kedua. Padahal kata dia, bahasa Inggris saat ini begitu penting untuk kemajuan seseorang. “Meskipun kita belajar bahasa Inggris, bukan berarti melupakan bahasa Indonesia. Cara berpikir kita yang harus diubah,” jelasnya. 

Tantangannya yang dihadapi, lanjut dia bagaimana mendesain suatu pembelajaran yang asyik dan menyenangkan. Sehingga ada daya tarik para peserta untuk datang setiap minggunya. “Kalau yang kecil-kecil sih semangatnya tinggi, yang usia SMA dan kuliah itu yang masih datang dan pergi,” pungkasnya.