Lapas Bebaskan Sembilan Terpidana

Lapas Bebaskan Sembilan Terpidana

  Selasa, 16 Agustus 2016 09:30
/SUASANA RUTAN: Berbagai acara digelar di dalam Lapas Putussibau demi menyambut HUT ke-71 Kemerdekaan RI. Berita terkait di halaman 17. MUSTA’AN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Menyongsong HUT ke-71 Kemerdekaan RI, Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Putussibau membebaskan tiga terpidana. Dengan rincian, remisi umum (RU) satu dengan 64 terpidana dan RU dua atau langsung bebas murni dengan tiga terpidana. Tiga terpidana yang langsung bebas itu tersandung kasus perlindungan anak (traffiking), kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT), serta kasus pencurian.

 
Ditemui sejumlah wartawan, Senin (15/8), kepala Lapas Kelas (Kalapas) IIB Putussibau, Mulyoko, membenarkan, dalam rangka HUT ke-71 Kemerdekan RI, 17 Agustus mendatang, mereka akan menyerahkan remisi atau pengurangan masa hukuman untuk 67 narapidana dari total penghuni Lapas sebanyak 154 orang. Ia menjelaskan, narapidana yang mendapat remisi, merupakan terpidana yang memenuhi persyaratan.

“Yang mendapat remisi ada 67 orang, tiga di antaranya remisi umum (RU) dua atau langsung bebas, sedangkan 64 terpidana lainnya mendapat RU satu atau pengurangan masa tahanan. Pengurangan masa penahanan setiap terpidana berbeda,” kata Mulyoko. Penyerahan remisi tersebut, menurut dia, akan dilakukan oleh Bupati Kapuas Hulu AM Nasir atau pejabat yang mewakili Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas Hulu ini.

Mantan Kalapas Lampung ini menjelaskan, ketiga terpidana yang dinyatakan bebas tersebut merupakan terpidana kasus perlindungan anak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan kasus pencurian. “Untuk kasus perlindungan anak agak stres, namanya Samhor, ia sudah menjalani masa hukuman 4 tahun. Kami kebingungan mau mengantar dia ke mana, paling ke Dinsos. Keluarganya tak pernah besuk,” kata dia.

Lebih lanjut, Mulyoko menjelaskan, jumlah terpidana yang dinyatakan bebas pada peringatan HUT RI tahun ini adalah 9 terpidana, di mana 3 bebas murni dan selebihnya bebas bersyarat. Ia berharap para terpidana yang dinyatakan bebas tersebut berbuat sadar dan hidup di lingkungan keluarga serta masyarakat, dengan membawa dampak positif. Karena selama menghuni Lapas, dipastikan dia jika semua terpidana pada umumnya sudah diberikan pembinaan.

“Kami membina sebisa dan semampu kami. Dalam melakukan pembinaan mental dan kepribadian, (agar) statusnya menjadi warga yang baik dan berguna bagi warga sekitar dan keluarga,” harap Mulyoko yang pernah menjabat Kalapas Sanggau ini. Demikian juga masyarakat yang selama ini memiliki stigma negatif terhadap terpidana, diharapkan dia, harus dihilangkan, karena mereka sudah menerima hukumannya.

Tidak dipungkiri, kata dia lagi, pembinaan yang dilakukan belum mengikis anggapan dari masyarakat terhadap para terpidana tersebut. “Rasa ketakutan orang yang ada di Lapas luar biasa,” ucapnya.

Remisi, menurut dia, dapat diberikan kepada narapidana yang telah memenuhi syarat, berkelakuan baik, telah menjalani masa pidana lebih dari 6 bulan. “Unsur-unsur tersebut wajib dipenuhi,” terang dia.

Untuk persyaratan berkelakuan baik, menurut dia, harus dibuktikan dengan tidak sedang menjalani hukuman disiplin dalam kurun waktu 6 bulan terakhir. Terhitung, dia menambahkan, sebelum tanggal pemberian remisi dan telah mengikuti program pembinaan yang diselenggarakan oleh Lapas, tentulah dengan predikat baik. “Pemberian remisi kepada terpidana itu banyak persyaratannya,” tutur Mulyoko.(aan)

Berita Terkait