Lapan Pontianak Diseminasi GMT 2016, Pontianak akan Mengalami GMS 93 Persen

Lapan Pontianak Diseminasi GMT 2016, Pontianak akan Mengalami GMS 93 Persen

  Jumat, 19 February 2016 07:42
AMATI: Kepala BPAA-LAPAN Pontianak Muzirwan mengamati matahari dengan teleskop saat memberikan edukasi tentang gerhana matahari, Kamis (18/2).IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAKPOST

Sekitar 20 hari jelang gerhana matahari total (GMT) Indonesia, 9 Maret 2016, BPAA-LAPAN Pontianak menggelar diseminasi GMT. Sosialisasi dan edukasi dilakukan untuk memberikan informasi yang tepat akan terjadinya peristiwa langka ini. IDIL AQSA AKBARY, PontianakKEGIATAN dimulai dengan pemaparan pihak Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional Pontianak di kantornya Jalan Lapan Nomor 1, Siantan Hulu Pontianak, Kamis (18/2). Kepala BPAA-LAPAN Pontianak Muzirwan menjelaskan langsung tentang proses terjadinya gerhana matahari. Baik di Indonesia maupun terkhusus di Pontianak.

Dia menjelaskan peristiwa langka gerhana matahari total (GMT) bakal terjadi di Indonesia pada Rabu, 9 Maret 2016. Gerhana matahari total akan bisa disaksikan di 11 provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Di Kalbar ada beberapa wilayah yang terlewati jalur gerhana matahari total. Terutama di bagian selatan, sekitar daerah Kendawangan, Manismata, Riam dan Penahan, Kabupaten Ketapang. Sementara di luar daerah tersebut hanya akan mengalami gerhana matahari sebagian (GMS). Termasuk wilayah Pontianak yang diprediksi hanya terjadi GMS dengan intensitas 93 persen.

Diseminasi ini ditujukan kepada seluruh pihak baik kelompok atau individu agar dapat memperoleh informasi yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan masing-masing. Berbagai kalangan dan stakeholder turut hadir mulai dari pihak sekolah, perguruan tinggi, peneliti serta pemerintah baik Pemkot Pontianak maupun Pemda Kalbar. 

Muzirwan menjelaskan, secara umum terjadinya gerhana matahari tidak akan berdampak pada kehidupan di bumi. Fenomena alam biasa, namun yang membuatnya spesial, salah satunya karena GMT hanya akan kembali berlangsung di tempat yang sama dalam periode 350 tahun. Untuk itu sangat sayang sekali jika terlewatkan. Apalagi saat kejadian nanti, Rabu (9/3) bertepatan dengan libur nasional Hari Raya Nyepi.

Dia pun mengingatkan bagaimana cara aman mengamati gerhana matahari. Jika matahari masih tampak maka harus mengunakan alat yang dilengkapi filter, seperti kacamata matahari, penyaring sinar atau proyeksi. Pada fase total, filter atau pelapis cahaya bisa dibuka, tetapi jangan terlalu asik karena saat fase total menjelang berakhir, cahaya terang yang muncul tiba-tiba berpotensi merusak retina mata. Untuk itu BPAA-LAPAN Pontianak juga telah menyediakan sekitar 100 kacamata gerhana.

Dalam diseminasi, para stakeholder juga berkesempatan melakukan pengamatan langsung menggunakan teleskop. Cara inilah yang akan dilakukan saat kejadian gerhana matahari nanti. Bekerjasama juga dengan Kemenag Kalbar dan IAIN yang memiliki teleskop sendiri. Hasil pengamatan tersebut juga dapat disaksikan streaming di intenet.

Dari hasil simulasi oleh Staf Teknis BPAA-LAPAN Pontianak Hadi Rasidi, gerhana matahari di Kota Pontianak akan mulai terjadi pada pukul 06.24 WIB (kontak pertama). Setelah itu, perlahan bulan akan mulai menutupi matahari, terus bergerak selama satu jam dua menit sampai masuk fase maksimum, tepatnya pada pukul 07.26.Kemudian setelah fase maksimum, bulan akan terus bergerak secara perlahan sampai matahari kembali terlihat penuh. Dari fase maksimum pukul 07.26  gerhana matahari akan berakhir pada pukul 08.40 (kontak terakhir). Jika dihitung keseluruhan dari pukul 06.24 sampai 08.40, artinya gerhana di Kota Pontianak akan terjadi selama kurun waktu dua jam 16 menit.(*)