Lapak Jajanan Musiman Semarak di Bulan Ramadan

Lapak Jajanan Musiman Semarak di Bulan Ramadan

  Jumat, 17 June 2016 09:44
TAKJIL: Penjual gorengan sedang melayani seorang pembeli di jalan Hasanuddin. Selama bulan Ramadhan lapak jajanan seperti ini marak. HARYADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Selama bulan Ramadan, masyarakat berlomba-lomba membuka lapak kecil untuk menjajakan jajanan. Santapan yang populer disebut takjil ini laku keras. Tak ayal, penjual musiman pun muncul setiap tahunnya.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

LAPAK musiman yang dibuka hanya saat bulan Ramadan ini semakin ramai setiap tahunnya. Di sepanjang jalan, akan sangat mudah untuk menemukan satu atau dua lapak penjual makanan dan minuman dari berbagai jenis. Mulai dari gorengan seperti bakwan, kue bingka, berbagai jenis minuman es dan lain sebagainya.

Pemandangan yang menarik mata itu salah satunya terlihat di Jalan H Rais A Rahman, Sungai Jawi Pontianak. Setiap sore, jalanan dibikin macet oleh warga yang membuka lapak di sepanjang jalan ini. Warga yang melintas menjadi tertarik untuk sekedar melihat ataupun langsung singgah dan membeli dagangan para penjual.

“Hitung-hitung sekalian jalan-jalan sore bersama anak sekalian belanja untuk buka puasa,” kata Tomi (34) ditemui saat berbelanja takjil bersama anak dan istrinya, Rabu (15/6) sore.

Lapak dagangan itu seolah bertambah setiap tahunnya berkat masyarakat yang melihat peluang menggiurkan dari usaha tahunan itu. Jaka (28) salah satu pedagang takjil di Sungai Jawi mengatakan, lapak dagangan takjil itu ialah sampingannya setiap tahun. Sehari-harinya ia menjadi pegawai dalam sebuah perusahaan di Pontianak. setiap sore hari di Bulan Ramadan, ia menyempatkan diri untuk membuka lapak bersama tetangganya untuk berjualan.

Ia mengaku sudah berjualan takjil sekitar tiga sampai empat tahun. Yang dijualnya hanya jajanan biasa, seperti gorengan dan kue bingka yang menjadi favorit warga. Karena jenis jajanan itulah yang menurutnya paling laku dan cepat habis. “Lainnya yang cepat laku itu minuman segar, seperti es kelapa atau es buah,” katanya sambil menunjukan es kelapa dagangannya.

Berjualan takjil setiap harinya memang tidak menawarkan pendapatan sampingan yang begitu besar, akan tetapi menurut Jaka, hasilnya sudah lumayan. “Sedikit-sedikit bisa ditabunglah untuk lebaran,” tuturnya.

Hal itu dikatakannya karena omzet selama ia berjualan tidak bisa ditebak setiap harinya. “Selalu naik turun,” katanya. Belum lagi jika hari hujan, ia terpaksa tidak berjualan karena sepinya pelanggan. “Kalau masih bagus, kue-kuenya disimpan buat esoknya lagi, kalau tidak, ya terpaksa rugi,” katanya.

Lain lagi Hendra (27) dan Eko (35), salah seorang penjual yang juga berjualan di sepanjang Jalan H Rais A Rahman mengatakan, setiap harinya ia memang sudah berjualan martabak di daerah itu. Setiap bulan Ramadan pun, ia bula sedikit lebih awal untuk mendapatkan pasar masyarakat yang ingin membeli dagangannya sebagai santapan berbuka.

“Biasanya baru keluarkan gerobak kan sekitar jam 05.00 sore,” ungkap Hendra. Pada bulan Ramadan ini pun ia sudah membuka gerobaknya sekitar pukul 03.00 sore. “Kalau telat, kami mungkin bisa kelewatan momennya,” tambahnya.

Walaupun begitu, hal itu tidak masalah bagi mereka. Momen Ramadan itu dapat dimanfaatkan untuk menggali omzet agar pada saat Idul Fitri nanti, mereka dapat beristirahat beberapa hari. “Justru ada sedikit peningkatan omzet setiap tahunnya, dan itu jauh lebih besar dari omzet setiap harinya,” tutur Hendra. (*)

Berita Terkait