Lanud Supadio jadi Pangkalan Induk

Lanud Supadio jadi Pangkalan Induk

  Minggu, 15 November 2015 09:22
MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Komandan Pangkalan TNI AU (Danlanud) Supadio Pontianak Marsekal Pertama (Marsma) Tatang Herlyansah mengungkapkan rencana ke depan, di mana Lanud Supadio akan terus dikembangkan menjadi pangkalan induk. “Lanud Supadio sudah tipe A. Jadi kami akan terus kembangkan. Baik itu skuadron, penambahan alutsista, bahkan ke depan pangkalan ini menjadi pangkalan induk. Karena wilayahnya yang strategis,” terangnya.

Inilah yang menjadikan sejumlah alasan, kenapa senjata Oerlikon Skyshield MK II pun ditempatkan di Kalbar. Alasan yang paling memungkinkan, menurut perwira bintang satu di pundak tersebut, provinsi ini berbatasan langsung dengan negara-negara lain, baik laut, udara, maupun darat.

Menurut Tatang, untuk mencapai sasaran atau target, salah satunya runway yang menjadi objek vital hanya memerlukan hitungan menit. Bahkan, dia menambahkan, jika serangan tersebut dilakukan melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia I (ALKI I), musuh bisa dengan cepat menuju sasaran hanya dengan 15 – 20 menit. “Landasan atau runway merupakan salah satu objek vital kita. Kalau runway ini tidak bisa dioperasikan, bagaimana kita bisa mengerahkan pasukan secara cepat, bagaimana kita bisa deploy pesawat tempur kita untuk menanggulangi ancaman udara? Dengan adanya Oerlikon Skyshield MK II ini, tentunya ancaman-ancaman itu baik berupa pesawat, peluru kendali, bisa terdeteksi, karena senjata ini memiliki unit sensor. Dalam jarak 7 kilometer bisa terdeteksi,” kata dia, belum lama ini.

Alasan lainnya, lanjut Tatang, Kalbar merupakan wilayah yang strategis. Dengan dibukanya ALKI, menurut dia, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2008, siapa saja bisa berlalu lalang melalui alur tersebut. Karena, pada PP tersebut, ditegaskan dia jika Indonesia membebaskan negara lain untuk melalui ALKI. “Itulah risikonya jika negara kita adalah negara kepulauan. Siapa saja boleh lewat sana,” bebernya.

Secara geografis, Kalbar memang berbatasan langsung dengan negara lain, baik darat, laut, maupun udara. Hal inilah yang menjadikan salah satu alasan otoritas pertahanan dan keamanan untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Bahkan, belum lama ini,  TNI AU Lanud Supadio mendapat bantuan alutsista baru bernama Oerlikon Skyshield MK II  buatan Swiss. Senjata canggih gerenasi terakhir dari Rheinmetall Air Defence Swiss ini mengombinasikan auto twin canon 35 mm dengan rudal anti seragan udara jarak pendek. Fungsinya tentu saja untuk merontokkan pesawat maupun rudal yang datang. Meriam otomatis ini siap menembakkan seribu peluru permenit, jika dipasang peluru standar. Sistem penangkis serangan udara Skyshield juga bisa dihubungkan dengan sistem pertahanan udara lainnya, membuat jangkauan radar lebih luas dan efektif, sekaligus mengembangkannya pertahanan titik menjadi pertahanan wilayah atau area.

Dandenhanud 473 Paskhas Lanud Supadio, Komandan Detasemen Anang Baskoro, menjelaskan, alutsista baru bernama Oerlikon Skyshield MK II dari Rheinmetall Air Defence Swiss ini memiliki beberapa wilayah yang mendapat bantuan senjata penangkis serangan udara ini. wilayah-wilayah tersebut yaitu Adisucipto, Yogyakarta; Supadio, Pontianak; Hasanuddin, Makassar; dan Jakarta/Greater. Untuk penempatan senjata ini, lanjutnya, rencananya akan disesuaikan dengan SOP-nya. Tujuannya, ditegaskan dia, tentu saja untuk melindungi Bandara Supadio dari serangan udara. Diakui dia jika bandara internasional yang satu ini, termasuk objek vital di lingkup penerbangan. “Tugas kami (TNI AU, Red) untuk melindungi ancaman serangan yang datang dari udara,” jelasnya.

Dijelaskan dia, kemampuan senjata ini untuk penangkis serangan udara dengan efektifitas 4 – 5 kilometer. Setiap sasaran udara yang bergerak cepat, yang mengancam, baik itu pesawat, roket, misil atau rudal, bahkan mortar, dipastikan akan pecah sebelum mengenai sasaran. Kunci dari kehebatan Oerlikon Skyshield ada di amunisi AHEAD (Advanced Hit Efficiency and Destruction) 35 mm yang ditembakkan dari dua meriam kembarnya. Peluru 35 mm AHEAD dari Rheinmetall Oerlikon akan menyembur dan membentuk semacam perisai (metal spin-stabilised projectiles) saat berada di dekat target. Ibarat seorang nelayan melemparkan jaring ke seekor ikan, perisai itulah yang akan menghantam dan merusak rudal/pesawat yang datang. Rheinmetall menyebut kemampuan ini sebagai skyshield alias perisai udara.

Amunisi Ahead bisa juga ditembakkan dari twin 35mm GDF series towed anti-aircraft guns yang dimodifikasi, untuk meningkatkan kemampuan mereka terhadap target yang kecil. Sejumlah konsumer Rheinmetal juga mengambil opsi ini untuk upgrade alutsista mereka dengan biaya yang lebih murah. Khusus untuk Denmark dan Venezuela, mereka memesan Oerlikon Skyshield Revolver Gun, versi pertahanan pantai.

Jerman terus mengembangkan Skyshield ini dengan memunculkan versi terbaru yakni Rheinmetall MANTIS (Modular, Automatic and Network-capable Targeting and Interception System). MANTIS didisain sebagai garda terdepan untuk melindungi aset sipil maupun militer dari ancaman serangan yang terkecil, termasuk mortir, karena memiliki kemampuan:counter-rocket and mortar (C-RAM). Sejauh ini ujicoba Mantis sukses mencegat serangan artileri, mortir dan tentunya roket.

Skyshield merupakan Short Range Air Defence yang dikembangkan oleh Oerlikon Contraves Swiss yang kini menjadi anak perusahaan Rheinmetall group, Jerman. Dengan peningkatan alutsista yang ada, pertahanan dan keamanan Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata.

Berdasarkan data Pontianak Post, TNI AU berhasil memaksa beberapa pesawat asing yang melintas di wilayah Indonesia tanpa izin. Kamis, 4 April 2014, sebuah pesawat jenis SE30 nomor N54JX berwarna merah dipaksa turun di Pangkalan Udara (Lanud) Soewondo, Medan. Pesawat milik warga negara Swiss itu dipaksa turun karena dinilai tidak mengantongi izin terbang melintasi wilayah udara Indonesia.

Selasa, 28 Oktober 2014, pesawat sipil Beechcraft 9L bernomor registrasi Singapura, VH-PKF dipaksa mendarat di Bandara Supadio Pontianak karena melintas di wilayah udara Indonesia tanpa izin. Pesawat latih tersebut lalu dicegat oleh dua Sukhoi Su-27/30MKI Flankers di atas perairan Laut China Selatan, di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau.

Rabu, 22 Oktober 2014, TNI Angkatan Udara juga mencegat sebuah pesawat asing dengan rute penerbangan Darwin-Cebu. Pesawat Australia tersebut melintasi wilayah udara Indonesia tanpa izin. Alhasil, pesawat asing itu dicegat dua pesawat tempur jenis Sukhoi TNI dan memaksa pesawat asing tersebut turun di lapangan udara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara.

Dan baru-baru ini, Senin, 9 November 2015, TNI Angkatan Udara berhasil menyergap dan memaksa pesawat asing yang terbang tanpa izin di wilayah Indonesia. Pesawat itu dikendalikan oleh pilot bernama Letkol James Patrick Murphy yang merupakan prajurit US Navy (resauorch).

Pesawat asing dengan nomor N-90676 itu sudah terdeteksi melintasi langit Kalimantan Utara pada Senin (9/11/2015) sekitar pukul 12.17 WIB. Penerbangan itu tidak tercatat rencana penerbangan Flight Cleareance Information System (FCIS) sehingga dikategorikan penerbangan gelap dan melanggar keamanan nasional Indonesia. (arf)

Berita Terkait