Lahan Uang di Obat Herbal

Lahan Uang di Obat Herbal

  Sabtu, 13 February 2016 08:08

Obat herbal tidak asing lagi di telinga masyarakat. Peluang bisnis produk inipun sangat menjanjikan. Sebab ini adalah bisnis kesehatan. Bisnis yang tak perlu lesu, karena setiap orang ingin sehat. Ramses L Tobing

BEBERAPA tahun terakhir bisnis obat herbal sedang naik daun. Seiring berjalannya waktu jumlah penjualnya pun kian bertambah. Jika dulunya menjual dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah, sekarang tidak lagi. Ada yang sudah memiliki kios bahkan memiliki karyawan yang mengelola penjualan obat herbal.Usaha ini pun tidak hanya tumbuh di ibu kota provinsi saja. Justru sudah merambah di berbagai kabupaten/kota. Pasaran penjualannya pun juga mulai masuk ke apotik-apotik.

Yon Kusnedi misalnya. Pria asal Kota Singkawang ini sudah bergelut di bisnis herbal sejak tahun 2008. Dia melihat herbal ini adalah bisnis kesehatan. Dimana bisnis kesehatan merupakan bisnis yang tidak pernah lesu. Sebab semua orang ingin selalu sehat tentunya. “Kenapa saya tetap bertahan disini, karena bisnis ini memberikan kepuasan tersendiri,” kata Yon saat diwawancara wartawan koran ini, siang kemarin.

Yon menyebutkan dalam agama Islam, herbal erat kaitannya dengan tibbun nabawi atau pengobatan cara nabi. Oleh karena ini, menjalankan bisnis ini tidak hanya sekedar berbicara keuntungan. Justru menjadi nilai ibadah. Karena itu, kata dia, sembari menjalankan bisnis ini bisa mengajak masyarakat masyarakat menerapkan sunnah.

Di perjalanannya, Yon menggunakan berbagai sistem pemasaran untuk mengenalkan produk ini ke masyarakat. Mulai dari rumah ke rumah, seminar, dan pelayanan kesehatan serta klinik herbal hingga membuat kegiatan jawara herbal.

Namun dia mengakui persaingan itu tetap ada. Lawan mainnnya ada obat non herbal atau sintetik. Obat-obat ini memang sudah merajai pasar. Meski menjadi pesaing bisnis, namun dia mengingatkan jika obat herbal ini tidak kalah dari sisi kualitas.

“Dari segi medis herbal dan obat sintetik sangat bersinergi. Obat herba sifatnya menjaga dan memperbaiki sedangkan obat sintetik menangani pada kasus bersifat darurat,” jelasnya.

Pesaing juga datang dari pelaku usaha yang sama. Hanya saja karena menjual produk yang sama, dia mengajak agar saling bersinergi. Namun dia mengakui ada oknum yang berulah nakal. Mencampur obat herbal obat-obat kimia hanya karena mengejar keuntungan semata.

“Kami mengimbau pelaku bisnis herba untuk tidak mencampur obat obatan kimia ke dalam herba sehingga menipu konsumen,” pesannya.

Sejauh ini, lanjut dia, masyarakat sudah sangat familiar dengan obat herbal. Hanya saja kesan kampungan dan tidak higinis ini yang membuat mereka enggan menggunakan herbal. “Karena kondisi itu, beberapa produk dikemas dalam bentuk yang praktis, higienis, enak di lidah serta halal,” tambah dia.Cara seperti itulah yang bisa menghilang stigma kampungan pada obat herbal. (*)