Lahan Gambut Diduga Dibakar

Lahan Gambut Diduga Dibakar

  Kamis, 15 September 2016 09:33
ASAP LAGI: Kabut asap menyelimuti lagi udara Kota Pontianak. Cuaca gerah kembali dirasakan masyarakat. MUJADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Baru beberapa hari hujan tak turun, kebakaran lahan kembali terjadi. Kali ini dua hektare lahan gambut di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya terbakar pada Selasa (13/9).

Polisi dibantu petugas Manggala Agni berjibaku menjinakan api yang membakar lahan gambut sedalam lima meter itu. Api yang diketahui muncul sekitar pukul 15.00 baru dapat sedikit dijinakan hingga pukul 19.30. Meski api sudah tak nampak, kepulan asap putih masih muncul.

Kapolsek Sungai Raya, Kompol Abdullah Syam membenarkan jika telah terjadi kebakaran lahan gambut di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya. Di sekitar lahan terbakar tersebut, terdapat sejumlah tanaman warga, seperti sawit dan lidah buaya. 

"Dari lokasi kebakaran lahan dengan rumah penduduk jaraknya sekitar satu kilometer," kata Abdullah, Rabu (14/9).

Kebakaran lahan itu diketahui, lanjut dia, berkat informasi masyarakat yang takut, kobaran api yang terus membesar dan membakar lahan gambut, membakar tanaman dan mendekati rumah penduduk. 

"Ada warga yang menelepon memberi kabar tentang kebakaran lahan, kami pun berkoordinasi dengan mangga agni untuk turun ke lokasi guna memadamkan api," ucapnya.

Menurut mantan Kasat Reskrim Narkoba Polresta itu, api baru dapat dipadamkan tiga jam kemudian. Namun saat dilakukan pengecekan kembali pada malam hari, yakni sekitar pukul 19.30, masih terdapat kepulan asap yang keluar dari dalam gambut. "Hari ini kami akan kembali melakukan pengecekan," sambungnya.

Abdullah menuturkan kebakaran lahan gambut yang belum diketahui sebabnya itu, masih dilakukan penyelidikan. Apakah lahan gambut tersebut sengaja dibakar atau terbakar karena panas matahari. "Karena api cepat merambat, ada sebagian kebun sawit warga yang ikut terbakar," katanya.

Menurut Abullah, di lokasi dirinya sudah memanggil dan menanyakan kepada warga siapa pemilik lahan, namun dari beberapa warga yang dipanggil tidak ada yang mau mengakui. "Di lokasi, kami datang sudah tidak ada orang. Hanya warga sekitar yang bertani saja yang ditemukan," terangnya.

Untuk memastikan hal tersebut, lanjut dia, pihaknya akan mencari pemilik lahan untuk dimintai keterangan. "Saat kebakaran terjadi, kami sudah mencari pemilik lahan namun tidak berhasil ditemukan. Hari ini (kemarin) kami akan cari lagi. Semoga pemilik lahannya dapat ditemukan," tuturnya.

Abdullah menegaskan jika kebakaran lahan tersebut murni karena perbuatan orang tak bertanggungjawab, maka pihaknya akan melakukan tindakan tegas. "Perintah pimpinan sudah jelas, tangkap dan proses pelaku pembakar hutan dan lahan," tegasnya. 

Sementara itu, sebaran hotspot selama tiga hari terakhir terhitung tanggal 10 sampai 12 September 2016 telah terjadi peningkatan yang signifikan. Menurut pantauan satelit Terra Aqua, Lapan dan NOAA yang dirilis Sipongi tanggal 10 September 2016 berjumlah 7 titik, tanggal 11 September 2016 berjumlah 39 titik, dan Tanggal 12 September 2016 berjumlah 145 titik.

Adapun sebaran hotspot tersebut dominan berada di empat kabupaten yaitu Sintang, Sekadau, Sanggau, dan Melawi.

Di lain pihak Patroli Terpadu dan Terukur Tahap 4 yang saat ini dilaksanakan pada daerah sasaran perdana di tujuh kecamatan yaitu di Ketungau Hilir, Dedai, Belimbing, Bonti, Jangkang, Kapuas, dan Tayan Hulu.

Mengingat lokasi sasaran patroli terpadu tidak mencakup keseluruhan dari kecamatan-kecamatan yang memiliki sebaran hotspot yang lumayan tinggi, untuk itu perlu dilakukan langkah dan upaya insidentil guna menyikapi sebaran hotspot yang terus meningkat.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Sustyo Iriyono mengatakan, untuk itu Manggala Agni Daops Sintang telah menentukan langkah dan upaya insidentil tersebut berupa penyebaran 30 anggota keempat kabupaten dengan mobilisasi dua orang anggota di tiap kabupaten yaitu Sintang, terdiri dari Kecamatan Sepauk, Kecamatan Sungai Tebelian, Kecamatan Tempunak, Kecamatan Kayan Hilir, Kecamatan Sintang, dan Kecamatan Kelam Permai. Di Kabupaten Sekadau, Kabupaten Melawi, dan Kabupaten Sanggau.

Menurut Sustyo, tujuan dilakukannya penyebaran anggota yaitu efektifitas dan efisiensi pelaksanaan patroli groundcheck hotspot dan kegiatan- kegiatan Dalkarhutla lainnya di tiap-tiap kecamatan.

Sementara untuk Daops Manggala Agni Ketapang menyebutkan setidaknya dalam tiga hari terakhir (tanggal 10-12 September 2016) juga terjadi peningkatan yang signifikan.

Pantauan satelit Terra Aqua, Lapan dan NOAA yang dirilis Sipongi tanggal 10 September 2016 berjumlah 43 titik, tanggal 11 September 2016 berjumlah 50 titik, dan tanggal 12 September 2016 berjumlah 80 titik. 

Sedangkan rilisan BMKG tanggal 10 September 2016 berjumlah 39 titik, tanggal 11 September 2016 berjumlah 0 titik, dan tanggal 12 September 2016 berjumlah 179 titik.

Adapun sebaran hotspot tersebut dominan berada di Kecamatan Simpang Hulu, Hulu Sungai, Jelai Hulu, Sungai Laur dan Sandai.

Patroli Terpadu dan Terukur Tahap 4 yang saat ini dilaksanakan pada daerah sasaran perdana di delapan kecamatan yaitu di Kecamatan Sukadana, Pulau Maya Karimata, Seponti, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan, Jelai Hulu, dan Kecamatan Simpang Hulu.

Mengingat lokasi sasaran patroli terpadu tidak mencakup keseluruhan dari kecamatan-kecamatan yang memiliki sebaran hotspot yang lumayan tinggi, untuk itu perlu dilakukan langkah dan upaya insidentil guna menyikapi sebaran hotspot yang terus meningkat.

Untuk itu Manggala Agni Daops Ketapang telah menentukan langkah dan upaya insidentil tersebut berupa penyebaran 16 anggota ke delapan kecamatan dengan mobilisasi dua orang anggota di tiap kecamatan yaitu Kecamatan Simpang Hilir, Simpang Dua, Hulu Sungai, Manis Mata, Nanga Tayap, Tumbang Titi, Sandai, dan Sungai Laur.

"Kami telah bekerjasama dengan Kodim 1203 Ketapang yang akan dilaksanakan selama 7 hari, dimana 16 anggota Manggala Agni Daops Ketapang diwacanakan akan stand by di Koramil pada 8 Kecamatan sasaran," katanya.

Menurut Sustyo, dalam beberapa hari terakhir di beberapa daerah seperti Sanggau, Sintang, Sekadau, Melawi, dan Ketapang bagian selatan tidak turun hujan atau cuaca kering. 

Kondisi ini dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk bakar lahan untuk penyiapan tanam padi ladang, dimana sebelumnya mereka tidak sempat bakar karena patroli yang cukup represif dan masih ada curah hujan yang turun.

Meski demikian lahan yang terbakar merupakan lahan mineral maka ketika bahan bakar permukaan habis api padam dengan sendirinya, dan asap tidak terlalu pekat jika dibandingkan dengan kebakaran lahan gambut. (adg/arf) 

Berita Terkait