Lagi, Petani Keluhkan Harga Karet Turun, Baru Naik Rp6 Ribu, Kini Sudah Turun Lagi

Lagi, Petani Keluhkan Harga Karet Turun, Baru Naik Rp6 Ribu, Kini Sudah Turun Lagi

  Kamis, 3 March 2016 08:58
MENOREH: Petani masih berharap harga karet meningkat. Beban kian berat, harga kebutuhan semakin mahal. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Petani karet di daerah Kapuas Hulu kembali mengeluhkan harga karet yang terus turun. Turunnya harga karet dalam tiga pekan terakhir ini membuat petani kewalahan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Mustaan, Kapuas Hulu

BAKIR terduduk lesu. Perolehannya memotong (menoreh-red) memang lumayan. Tetapi, ketika diuangkan, hasilnya membuat miris. Sudah terlalu lama, petani karet mederita akibat harga yang anjlok drastis. Terakhir sampai anjlok hingga Rp4500.Sementara harga kebutuhan pokok sehari-hari terus naik, terlebih menjelang imlek beberapa waktu lalu. Harga beras, gula, telur, tepung dan minyak goreng naik.

Bakir 56, petani karet asal Mentebah Kecamatan Mentebah, Kapuas Hulu mengatakan, harga jual karet semakin turun berdampak terhadap kehidupan perekonomian masyarakat, utamanya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.”Harga karet kembali turun. Semula sempat naik Rp 6.000 per kilo, sekarang sudah turun lagi menjadi Rp 5000 per kilo. Ini jelas membuat petani semakin tidak berdaya,” ungkap Bakir.

Bahkan, kata Bakir, dalam sepekan terakhir ini harga karet kembali turun menjadi Rp 4.500 per kilog getah (jinton)."Harga karet ini sudah berkali-kali mengalami penurunan mulai dari harga Rp 20 ribu turun menjadi Rp 18 ribu, turun lagi Rp 15 ribu, Rp10 ribu, Rp 8 ribu, Rp 5 ribu dan terakhir Rp 4500 per kilog,"katanya, seraya mengatakan dampak dari penurunan harga karet bagi petani sangat besar.

Dijelaskannya, penurunan harga karet secara berangsur tersebut sudah berlangsung selama empat tahun terakhir."Jelaslah kami merasa sangat sulit dengan turunnya harga karet,"katanya. Bakir, mengaku dalam satu hari kebun miliknya mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram karet perharinya. Sehingga jika harga Rp 5 ribu, berarti dalam sehari penghasilannya Rp 50 ribu, itu kalau tidak hujan.

Senada dengan Bakir, yakni Rosidi Warga kecamatan Suhaid, dia juga mengeluhkan penurunan harga karet dari Rp 500O menjadi Rp 4500-4800 per kilo. "Sudah tiga empat minggu ini harga karet turun terus. Sekarang ekonomi masyarakat lagi sakit, karena kami hanya bisa bertahan dari hasil karet ini," katanya. Ia berharap pemerintah segera mencari solusi untuk mengembalikan harga karet anjlok ini.

Menurutnya, turunnya harga karet berdampak pada kehidupan anak-anak dari daerah pedalaman yang sekolah di kota. Orang tua yang semula bisa rutin mengirim uang pada anaknya Rp 1,5-2 juta per bulan, kini hanya bisa mengirim Rp 500-800 ribu per bulan. “Turunya harga karet ini berdampak luas pada sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan umumnya,” kata Rosidi. (*)

Berita Terkait