Lagi, Malaysia Deportasi 74 TKI

Lagi, Malaysia Deportasi 74 TKI

  Minggu, 15 May 2016 10:36
BICARAKAN NASIB: Sejumlah TKI dari berbagai daerah saat berkumpul di ruangan shalter Dinas Sosial Kalbar, menunggu dipulangkan ke daerah asal mereka masing-masing, Sabtu(14/5). Para buruh internasional tersebut dipulangkan dari Malaysia terkait masa berlaku paspor dan dokumen keimigrasian. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK – Sebanyak 74 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kembali dideportasi oleh Pemerintah Malaysia melalui Depot Imigresen Semuja, Serawak, melalui Entikong, Kabupaten Sanggau, Sabtu (14/5) dini hari. Puluhan TKI yang dipulangkan tersebut selain tidak mengantongi visa kerja, juga tidak mempunyai paspor. 

Puluhan TKI tiba di Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalbar sekitar pukul 12.55 WIB. Sebanyak 74 rombongan itu dibagi menjadi tiga bus pada saat pemulangannya. Rombongan pertama datang membawa sekitar 24 TKI, termasuk di antaranya berasal dari Kalbar. sementara kedua bus lainnya, mengalami keterlambatan hingga dua jam. 

Kedatangan TKI langsung disambut petugas Dinsos Kalbar. Sebanyak 24 orang yang datang pertama langsung diminta untuk berbaris dan didata identitas mereka. Tak banyak dari TKI yang datang itu membawa barang, bahkan ada yang hanya mengenakan baju di badan.

Berdasarkan surat resmi dari Pemerintah Malaysia melalui Depot Imigresen Semuja, Serawak, jumlah TKI yang dipulangkan sebanyak 81 orang. Lima di antaranya perempuan, selebihnya laki-laki. Dari surat yang terlampir juga terlihat sebanyak 19 TKI tidak mempunya paspor.

Sementara Dinsos Kalbar mencatat total keseluruhan yang tiba sebanyak 74 orang, terdiri dari 38 warga asal Kalbar dan 36 dari luar. "Perempuannya ada empat orang, sementara sisanya laki-laki semua," kata staf  Pengurus Pemulangan TKI Dinsos Kalbar, Agustini, Sabtu (14/5) di kantornya.

Dari 38 warga Kalbar, di antaranya, dipastikan dia, sudah pulang ke daerah masing-masing dan ada juga yang dijemput keluarga. "Dari luar Kalbar, sisanya sekarang tinggal 19 orang. Tanggal 17 nanti, dipulangkan naik kapal laut. Bulan depan ada lagi pemulangan TKI dari Malaysia " sebut Agustini.

Diungkapkan Agustini, ada empat orang TKI asal Nusa Tenggara Timur, kabur dari Dinsos Kalbar. "Ada empat orang yang kabur. Kan semuanya datanya ada, baik yang pulang dijemput keluarga maupun yang pulang diantar ke terminal. Tapi ada 4 orang dari NTT kabur," ungkapnya

Gemuk di Penjara

Sebelum dipulangkan ke Indonesia, puluhan TKI harus mendekam dulu di Imigressen juga penjara selama beberapa bulan. Saat menjadi tahanan, banyak kecemasan serta ketakutan yang dihadapi oleh para TKI tersebut. Mereka takut dipukul, disiksa, tapi, kali ini sepertinya tidak.

Sustiawan (27) misalnya. Warga Asal Nusa Tenggara Timur ini mengaku ada perubahan dalam bentuk badannya, setelah menjalani masa tahanan di Penjara Pusat Sibu. Bagaimana bisa seorang tahanan seperti dia kemudian menjadi gemuk?

Diceritakan Sustiawan, saat mendekam di penjara, dia membantu petugas untuk mencuci 1.200 piring. Upahnya, dia berhak makan sepuasnya dengan lauk yang serba enak: daging ayam, sapi, telur, dan lain sebagainya. 

"Saya bantu cuci piring Bang. Ada empat orang nyuci 600 piring dibagi. Waktu makan, saya ikut bagi ke tahanan. Setelah itu, kami makan sepuasnya," ungkap Sustiawan.

Mendapatkan asupan makanan lebih dari cukup dan porsi lebih dari tahanan lainnya, hasilnya berat badannya pun melonjak hingga belasan kilogram. "Awalnya cuma 49 (kilogram) bobot saya Bang, sekarang 62 kilo (gram)," sebutnya. 

Sustiawan mengaku sudah tujuh tahun bekerja di Malaysia. Dia bertugas sebagai pengemudi eksavator di kawasan pembalakan kayu. Semula, dia masuk tahun 2008, tidak menggunakan visa kerja, hanya paspor melalui Entikong. "Saya ditangkap waktu belanja di pasar sama istri. Istri saya lolos, dokumennya lengkap. saya ndak punya Permit," ungkapnya.

Meski asalnya NTT, Sustiawan mempersunting istri asal Jeruju, Pontianak. Keduanya bertemu di Malaysia dan resmi menikah setahun silam. Istrinya Suharni bekerja sebagai pemasak di pondok tempatnya bekerja. 

Dalam sebulan, pekerjaanya sebagai pengemudi eksavator digaji RM4 ribu. Gaji itu disisihkannya RM2 ribu untuk mengirim keluarga di NTT dan Jeruju, tempat mertuanya. Sustyawan mengaku, meski menikah di Malaysia, dia enggan melahirkan di sana. "Ndak mau di sana (Malaysia, Red). Ngelahirkan anak di negara orang susah, apalagi kerja di hutan. Nanti kalau sudah pulang ke Pontianak, baru mau," ucapnya. (gus)

Berita Terkait