Kurikulum 2013 (K-13) Tidak Sempurna

Kurikulum 2013 (K-13) Tidak Sempurna

  Kamis, 13 Oktober 2016 08:37   726

Oleh: Mujahir

PEMBERLAKUAN Kurikulum  2013 yang lebih populer dengan sebutan K-13 memang sampai saat ini telah mengalami perbaikan. Perbaikan itu membawa gaduh dan kebingungan  khususnya guru- guru sebagai pelaksana pendidikan pada tatanan implementasi di sekolah.  Namun kebingungan itu, tentulah membawa dapak positif bagi pengguna kurikulum 2013 , pemerhati pendidikan atau pelaku pendidikan. Dampak itu adalah perbaikan kuirkulum 2013 ( K-13 ) , nama kurikulum nasional yang digunakan tetap kurikulum 2013. 

Penyelarasan antara KI-KD dengan silabus, dan buku. Penataan Kompetensi Sikap Spiritual dan Sikap Sosial pada mata pelajaran selain Pendidikan Agama-Budi Pekerti dan Mata Pelajaran PPKn, pembelajaran dan penilaian hasil belajar . Penataan kompetensi yang tidak dibatasi oleh pemenggalan taksonomi berdasarkan jenjang pendidikan. Perbaikan kurikulum berdasarkan pada prinsip; mudah dipelajari, mudah diajarkan, terukur, dan bermakna untuk dipelajari. 

Adahal yang menarik bahwa konsekuensi perubahan Kurikulum 2013 adalah perubahan urutan penyajian materi dalam buku. Buku lama tetap dapat dipergunakan sebagai sumber belajar dengan melakukan penyesuaian urutan penyajian materi pembelajaran. Sebagai pemerkaya pembelajaran telah diberlakukan pojok-pojok buku sebagai bahan bacaan setiap sekolah. Wajub baca tersebut dikenal dengan Gerakan Literasi Sekolah ( GLS ) memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai.

Walau sampai saat ini belum ada buku yang sesuai dengan pembelajaran yang diharapkan, maka untuk mengatasi ketiadaan buku yang sesuai dengan kuirkulum 2013 yang diperbaiki , guru diharapkan menggunakan referensi yang lain ( buku lama atau tererensi lainnya yang relevan ). 

Pelaksanaan Kurikulum 2013 ( K-13 ) memang banyak kendala yang harus diatasi bahkan berubah drastis , hal tersebut perlu dipelajari dan disosialisasikan secara cepat , tepat agar tidak mengalami kekeliruan berkepanjangan . Perubahan  harus selalu diantisipasi karena  dapat menyebabkan kefatalan  dalam pelaksanaan tugas sebagai pelaksana pendidikan di sekolah. 

Dalam sistem penilaian  muncul Permendikbud   Nomor 66 Tahun 2013 tanggal  4 Juni 2013 ,  direvisi kembali dengan munculnya Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tanggal 3 Oktober 2014, dan direvisi lagi dengan munculnya Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016. Perubahan ini membuat para pelaku pendidikan untuk ekstra belajar guna memberikan penilaian yang benar.

Pergantian peraturan setiap satu tahun , hal ini cukup menyita pemikiran para guru  karena harus mempersiapkan instrumen penilaian , menentukan sistem penilaian dengan benar antara bobot dan skor. Apalagi dengan perubahan peraturan yang sering tiba-tiba berganti , maka  bagian  kurikulum di Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota , Provinsi dan sekolah harus sering sering berinteraksi dengan kementerian pendidikan dan Kebudayaan agar perkembangan yang pendidikan yang pesat diketahui sedini mungkin. 

Kemajuan pendidikan tidak terlepas  dari perubahan dan perkembangan nasional dan global. Perubahan itu membawa dampak yang akan mengubah prilaku dan perlakukan bagi lembaga pelaksana teknis. 

Sejak dimulainya  kurikulum KTSP pembelajaran di SD kelas rendah sudah menggunakan pendekatan tematik   terpadu , dan kelas tinggi pernah mengunakan tematik tepadu juga. Namun masih ada yang menggunakan pendekatan mata pelajaran. Namun dalam Permendikbud Nomor 24 tahun 2016 , pasal 1 , ayat 3 berbunyi : Pelaksanaan pembelajaran pada Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) dilakukan dengan pendekatan pembelajaran tematik-terpadu, kecuali untuk mata pelajaran Matematika  dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri untuk kelas IV, V, dan VI.

Namun pasal 1 , ayat 3 . Permendikbud Nomor 24 tahun 2016 ini cukup mengubah pola pengajaran yang selama ini telah tersusun. Selama ini materi matematika diajarkan secara tematik terpadu namun dengan  tiba-tiba diajarkan dengan pendekatan mata pelajaran.   Maka perubahan itu akan mengubah sistem pembelajaran , mengubah perangkat pembelajaran dan mengubah buku pembelajaran . 

Pembelajaran yang mengalami perubahan secara  drastis akibat perubahan peraturan yang akan diberlakukan . Kiranya pihak pemerintah kabupaten , kota serta provinsi dapat mensosialisasikan setiap peraturan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Pemberlakuan hal yang baru harap dikaji dan di analisis agar tidak berdampak  terhadap proses pembelajaran. Pembelajaran yang bermutu membawa perubahan dalam dunia pendidikan.  

*) Widyaiswara  LPMP Kalimantan Barat