Kurang Modal? Ayo Ambil KUR

Kurang Modal? Ayo Ambil KUR

  Kamis, 25 February 2016 08:06
FASILITASI KREDIT: Industri kerakyatan seperti kerajinan batik ini terus didorong perkembangannya. Salah satunya melalui pinjaman lunak dari pemerintah, lewat perbankan berupa Kredit Usaha Rakyat.IST-INT

Berita Terkait

Pemerintah telah memulai kembali program Kredit Usaha Rakyat sejak tahun lalu. Namun kredit dengan bunga sangat rendah ini masih terfokus di Pulau Jawa. Tidak banyak pelaku UMKM di provinsi ini yang mengajukan kredit dengan plafon maksimal Rp25 juta ini. Aristono, Pontianak

PEMERINTAH telah menetapkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar 9% sejak awal tahun 2016 ini. Bunga kredit ini jauh lebih baik ketimbang bunga KUR tahun lalu yang tembus 12%. Kebijakan ini dilakukan untuk mendorong pengembangan sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Bahkan untuk plafon Rp25 juta, pemerintah membebaskannya dari agunan atau jaminan. Adapun besaran KUR bervariasi, tergantung jenis KUR dan bank penyalur.

Di Kalbar empat bank telah ditunjuk menyalurkan KUR, yakni Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, dan BPD Kalbar atau Bank Kalbar. KUR terdiri dari KUR Mikro, KUR Ritel, dan KUR TKI. Sebagai contoh BRI. KUR Mikro BRI adalah Kredit Modal Kerja dan atau Investasi dengan plafon hingga Rp 25 juta per debitur. Sementara KUR Ritel BRI adalah Kredit Modal Kerja dan atau Investasi kepada debitur yang memiliki usaha produktif dan layak dengan plafon Rp25-500 juta per debitur.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Dwi Suslamanto mengatakan KUR bisa membantu geliat dunia usaha di Pontianak. Apalagi tahun ini, bank-bank yang menyalurkan KUR di Kalbar mendapat penambahan target penyaluran. “Ada empat bank yang ditunjuk menyalurkan KUR di Kalbar, yaitu BRI, BNI, Mandiri dan BPD Kalbar. Rata-rata target mereka Rp180 miliar,” ujarnya kepada Pontianak Post.

Sementara itu, Michael Jeno Anggota DPR Komisi XI yang membidangi keuangan dan perbankan mengatakan pihaknya mendukung pemerintah menurunkan bunga menjadi 9 persen saja. Namun, di Kalbar sendiri, kata dia, belum banyak masyarakat yang mengambil KUR. Padahal syaratnya cukup mudah, asalkan yang bersangkutan memiliki usaha dan layak atau mampu untuk mendapatkan bantuan ini.

“Hal ini harus dimanfaatkan oleh sektor UMKM di Kalbar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Pemerintah sudah memberikan peluang, dan bunganya sudah lumayan rendah, walaupun dibandingkan dengan negara lain, bunganya masih terlalu tinggi. Tetapi dibandingkan dengan bunga kredit lain, ini jauh sekali. Mari kita tangkap peluang ini,” ungkap anggota dewan asal Kalbar ini.

Kurangnya penyaluran KUR di Kalbar juga diakui oleh Direktur Bisnis UMKM Bank Mandiri, Tardi. Menurutnya, para debitur KUR masih terpusat di Pulau Jawa. Dia mendorong pengusaha mikro Kalbar untuk mengambil peluang ini. “Di Kalbar sendiri masih kurang. Padahal kita membuka pintu selebar-lebarnya. Kita ada 17 kantor cabang pembantu dan 33 unit outlet yang siap melayani pengajuan KUR dari nasabah,” ungkap Tardi.

Pada tahun lalu, lanjut Tardi, pihaknya telah menyalurkan Rp3,5 triliun untuk KUR di seluruh Indonesia. Tahun ini pihaknya menargetkan peningkatan hingga hampir empat kali lipat. “Tahun lalu kita salurkan KUR kepada 313 ribu pengusaha UMKM dengan nilai Rp3,5 triliun. Target penyaluran kita tahun ini adalah Rp13 triliun. Sampai pertengahan Februari ini penyalurannya sudah Rp1,5 triliun. Masih banyak yang belum tersalurkan,” kata dia.

Hal senada diungkapkan, Pemimpin BRI Cabang Pontianak, F Sutaryo. Pihaknya siap menjalankan apapun ketentuan pemerintah. Dia mengatakan memberikan kredit kepada pelaku usaha harus dengan keyakinan dari pemutus kebijakan. Namun, pihaknya tetap hati-hati. Jika layak diberikan maka akan dibiayai dan mengikuti prosedur sesuai ketentuan perbankan. Apalagi BRI sudah lama bermain di segmen UMKM. “Untuk saat ini kami masih unggul dengan KUR mikro dengan rata-rata 20 realisasi perharinya dan didominasi sektor perdagangan sesuai potensi wilayah kita,” ujarnya.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalbar, Nedy Achmad mewakili dunia usaha memuji program KUR. Harapannya, persyaratan yang diberlakukan semakin mempermudah bagi pelaku usaha, sehingga program KUR ini bisa tepat sasaran. “Tetap harus ada syarat dan ketentuannya asalkan tidak memberatkan pelaku usaha,” pungkasnya. (**)

 

Berita Terkait