Kuncinya Ada Di Downforce

Kuncinya Ada Di Downforce

  Selasa, 2 Agustus 2016 09:30
BALAPAN: Teknisi Ferrari saat menangani kendaraan Kimi Raikkonen di balapan Hockenheimring, Jerman (31/7). REUTERS/Uli Deck/Pool

Berita Terkait

Raikkonen: Ini Menyakitkan Untuk Kami Semua

HOCKENHEIM -- Memasuki jedah libur musim panas Formula 1 pekan ini, Ferrari justru tak punya waktu untuk beristirahat. Pekerjaan rumah mereka tak bisa menunggu lebih lama untuk segera diselesaikan. Untuk kali pertama sepanjang paruh musim pertama ini, posisi kedua di klasemen konstruktor direbut rivalnya Red Bull-TAG Heuer.

Dengan dua pembalap Red Bull finis di podium GP Jerman Minggu (31/7) Ferrari ini tertinggal 14 poin di klasemen konstruktor. Red Bull sebenarnya bukan rival yang digadang harus ditumbangkan Ferrari tahun ini. Target utamanya adalah Mercedes. Namun kebangkitan Red Bull dalam lima balapan terakhir justru membuat Ferrari harus mengubah targetnya di paruh kedua musim ini.

Situasi saat ini sama sekali jauh dari ideal bagi Ferrari. Apalagi mereka baru saja pecah kongsi dengan Direktur Teknis James Allison. Meskipun sang bintang Sebastian Vettel dengan yakin menyatakan bahwa faktor Allison tidak akan berpengaruh besar pada tim dalam jangka pendek. Namun Ferrari sendiri punya analisa sendiri tentang kemerosotan performanya. Yakni, tim gagal bisa melakukan pengembangan chassis sejak di GP Spanyol. ''Kami tahu dimana harus memfokuskan kerja kami sekarang dan kami harus melakukannya segera, meskipun tidak mudah,'' jelas Maurizio Arrivabene, team principal Ferrari.  Menurutnya bahkan di Kanada, menurutnya, Ferrari masih bereaksi dengan baik terhadap kemajuan Red Bull.

Soal fokus pekerjaan rumah Ferrari, Arrivabene menjelaskan tentang sulitnya menemukan keseimbangan antara daya gravitasi mekanik dan aerodinamika. ''Ada dua jenis downforce, aku tak perlu mengajari anda soal ini. Kami harus bekerja pada area ini karena keduanya harus “saling berbicara” (padu). Tapi kenyataannya kini keduanya seringkali berbicara dengan bahasa yang berbeda,'' papar Arrivabene.

Namun Arrivabene mengaku belum menyerah dengan mobil 2016 dan tidak akan mencurahkan fokusnya pada pengembangan mobil musim depan. Karena dia percaya timnya punya sumber daya yang kuat untuk mengejar ketertinggalan itu. ''Aku harus mengakui mereka (Red Bull) telah mengalami kemajuan cukup besar, itu semua jelas di hadapan kita semua dan juga ada di dalam benakku. Kami akan mengevaluasi tim tanpa kepanikan karena untuk mengambil keputusan pikiran kami harus jernih,'' paparnya.  

Berbeda dengan Vettel yang begitu positif dengan timnya, Kimi Raikkonen menyatakan bahwa kegagalan Ferrari menghadapi Mercedes meninggalkan “kepedihan” pada seluruh anggota tim. Menurutnya kondisi saat ini dirasa sangat berat bagi skuad Maranello. ''Kami memang tidak cukup cepat (untuk bertarung dengan Red Bull dan Mercedes). Sesederhana itu,'' cetusnya.    

Bahkan saat ditanya keyakinannya pada performanya di Sirkuit Spa, trek dimana dia sudah empat kali merengkuh kemenangan, Raikkonen mengaku tak terlalu pede. Menurutnya, semua baru bisa dibaca ketika tim sudah bekerja sepanjang musim panas untuk menemukan solusi dari macetnya pengembangan chassis SF-16. ''Kita akan lihat dimana posisi kami, tapi yang jelas kami harus maju,'' tegasnya. 

Raikkonen juga mengakui bahwa mobil Ferrari saat ini juga mengalami degradasi ban lebih besar daripada yang dia perkirakan sebelumnya. Namun itu bukan faktor utama mengapa Ferrari tidak kompetitif di Jerman. ''Kami butuh downforce untuk bisa melaju lebih cepat dan ini akan berdampak pada usia ban. Ada momen dimana kami bisa sangat cepat saat balapan, tapi itu tidak akan berlangsung lama,'' ungkap pembalap Finlandia yang mengeluhkan kurangnya cengkeraman ban belakang di Jerman. (cak)

Berita Terkait