Kultur Berteknologi Ditengah Euforia Digital

Kultur Berteknologi Ditengah Euforia Digital

  Selasa, 20 September 2016 09:30   443

Oleh:Vandrektus Derek,S.Pd.

 
KEMAJUAN teknologi komunikasi global berkembang sangat pesat. Berbagai media komunikasi telah dikembangkan untuk masyarakat dunia. Mulai dari media komunikasi yang hanya bisa mengirim pesan singkat (sms) dan menelepon saja, sampai munculnya blackberry, telepon seluler pintar (Smartphone) dan iphone dan sejenisnya dengan fitur dan aplikasi yang mutakhir untuk menjawab semua kebutuhan komunikasi di masyarakat luas.

Peralatan komunikasi yang berbasis digital tersebut dikondisikan terkoneksi pada jaringan internet dengan sistem kuota atau paket internet murah. Ditambah lagi harga smartphone yang relatif murah telah mendorong setiap insan untuk ikut serta dalam euforia digital ini. Jumlah pengguna internet di Indonesia tahun ini  mengalami lonjakan hingga 130 juta orang. Jumlah tersebut naik 41,9 juta orang dibandingkan tahun 2014. Arus massive pertumbuhan teknologi tak terbendung. Namun, hal yang memprihatinkan adalah budaya berteknologi masih diabaikan.

Mengapa demikian? Tentunya sebuah data tentang pengguna internet menyebutkan bahwa sekitar 60- 70 persen pengguna internet adalah anak-anak dibawah umur (Dibawah 18 tahun menurut undang-undang). Mereka menjadi native digital utama yang setiap saat bergumul dengan arus deras informasi apapun yang ada di internet. Mereka sesungguhnya belum mampu memilah-milah informasi yang cocok bagi perkembangan mereka. Ditambah lagi belum adanya kemampuan anak-nak tersebut dalam menentukan sikap berdasarkan informasi yang mereka dapatkan dari internet. Kondisi lain yang cukup memprihatinkan ialah konsumerisme dalam berteknologi.

Seyogianya teknologi tidaklah disebut sebagai ancaman jika ada proses pematangan kultur berteknologi. Semua perangkat teknologi yang tersedia telah memberi kemudahan dalam mengerjakan apapun. Artinya teknologi diciptakan untuk memberikan manfaat bagi umat manusia. Hanya saja saat ini perlu mematangkan pemahaman bahwa ada kebutuhan kita akan pemanfaatan teknologi sebagai sarana budaya.

Larangan membawa handphone dan sejenisnya di berbagai sekolah di tanah air menegaskan bahwa belum terbangunnya sebuah kesadaran dan budaya berteknologi secara benar. Padahal kebutuhan dunia pendidikan akan kehadiran media dan alat komunikasi yang terkoneksi dengan internet sangat tinggi. Apalagi dengan kehadiran kurikulum 2013 yang menggunakan berbagai sumber belajar. Misalnya, dalam belajar terdapat arahan untuk mengakses situs-situs tertentu sebagai referensi belajar. Pertanyaannya kemudian adalah apakah yang muncul hanya referensi yang dibutuhkan saja? Jawabanya pasti tidak. Sebab, iklan dunia maya saat ini membanjiri laman yang kita perlukan.

Saat ini yang perlu dipikirkan adalah bagaimana kita saat ini mampu mensinergikan kebutuhan akan teknologi dan bagaimana budaya teknologi yang harus disepakati. Kembali lagi, peran kita bersama dan pemerintah. Untuk membangun suatu budaya berteknologi diperlukan pendekatan pendidikan di keluarga, masyarakat dan sekolah. Tiga rana ini harus mampu menjadi filter terhadap dampak negatif dari euforia teknologi digital melalui pendekatan norma-norma yang berlaku di masyarakat kita. Demikian juga peran pemerintah melalui kementrian komunikasi dan Informatika sangat diperlukan. Peran kementrian dalam melakukan pemblokiran terhadap situs-situs berbahaya bagi anak-anak dan generasi muda pada umumnya.

Kita tentu tidak menginginkan adanya gap terus menerus antara euforia teknologi dengan budaya berteknologi. Tentu tidak cukup dengan membuat undang-undang yang berisi ancaman pidana, tetapi juga bagaimana menyadarkan generasi pengguna internet untuk cerdas berinternet. Membangun kultur berteknologi internet yang baik dan benar dengan komentar yang mendidik di media sosial, tidak berbau SARA, tidak tepancing untuk membuka situs porno dan benar-benar menggunakan internet sebagai sarana belajar dan mencari informasi penting.

Teknologi digital yang banyak digunakan di Indonesia berasal dari Tiongkok. Mulai dari produk laptop, handphone, smartphone, iphone dan berbagai produk digital lainnya. Oleh sebab itu sudah sepantasnyalah kita perlu belajar dari Tiongkok tentang budaya berteknologi. Mencegah anak untuk tidak menggunakan teknologi digital atau internet bukanlah tindakan yang bijaksana. Sebab pengetahuan akan teknologi nantinya akan diwarisi dan dikembangkan oleh anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Langkah yang harus dilakukan saat ini adalah belajar mengatasi masalah budaya berteknologi dari negara Tiongkok. Lakukan adopsi dan adaptasi kebijakan tersebut sesuai dengan kondisi kekinian masyarakat kita.

Tidak bermaksud untuk memuji Tiongkok, dalam hal berteknologi dan antisipasi dampak negatifnya. Penulis ingin menggaris bawahi bahwa mereka adalah negara besar dengan penduduk terbesar di dunia memiliki sistem pengendalian dan penanaman kultur teknologi. Walaupun interpensi pemerintahnya melalui pemblokiran situs-situs berbahaya juga cukup dominan. Tidak ada salahnya negara kita belajar dari negara tersebut untuk hal berteknologi. Sebab pepatah kuno  juga mengatakan bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina (Tiongkok) sebagai kiasan peradaban tertinggi saat itu. Dan saat ini kita sepertinya dihadapkan pada kenyataan untuk belajar mengatasi kesenjangan teknologi dengan budaya berteknologi dari negeri tirai bambu tersebut.

Kesenjangan antara penggunaan teknologi internet atau digital dengan kultur berteknologi masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu kita selesaikan. Kita semua tentunya berharap agar ke depannya kita yang berada dalam euforia digital tidak abai dengan budaya berteknologi. Sebab teknologi sesungguhnya diciptakan untuk memudahkan dan mensejahterakan semua lapisan masyarakat.

 

*) Waka Kurikulum

SMA Santo Fransiskus Asisi

Pontianak