Kriminalitas Tinggi, Ngopi pun Dikawal Bodyguard

Kriminalitas Tinggi, Ngopi pun Dikawal Bodyguard

  Selasa, 20 September 2016 09:30
Firzan Syahroni (tengah) bersama dua personel pasukan khusus pengaman presiden Venezuela. Selama KTT berlangsung, pasukan khusus dikerahkan untuk mengamankan acara. JAWA POS PHOTO

Berita Terkait

Mengunjungi Venezuela, Negara Kaya Minyak yang Berjuang Bangkit dari Kebangkrutan

Venezuela belum bisa lepas dari ancaman kemiskinan. Namun, di tengah krisis ekonomi dan politik, negara tersebut malah menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Ke-17 Gerakan Non-Blok (GNB). 

FIRZAN SYAHRONI, Venezuela

”NO camera, no camera,” kata Wilfredo terburu-buru. 

Ekspresinya seperti orang ketakutan. Petugas KBRI di Venezuela itu meminta saya memasukkan lagi kamera ke tas. Bola matanya lantas menyapu suasana sekitar Bandara Simon Bolivar dengan penuh curiga. 

Pagi itu suasana bandara sudah ramai. Porter berseragam berkerumun, mengamati kedatangan rombongan dari Indonesia. Beberapa di antara mereka lantas mendekat. Tangannya melambai-lambai, menawarkan jasa angkut. ”Biarkan saja, jangan dilihat,” timpal Miguel Ernandes, warga Venezuela yang sudah dua tahun bekerja di KBRI. ”Hati-hati di Venezuela,” lanjut dia, mengingatkan. 

Suasana di Bandara Simon Bolivar memang berbeda bila dibandingkan dengan bandara internasional lain. Banyak orang berlalu-lalang, keluar masuk bandara dengan bebas. Sekilas mirip Terminal Purabaya. Kondisi toilet juga cukup memprihatinkan. Tabung tempat sabun untuk mencuci tangan terlihat kosong. Beberapa lubang pembuangan air terlihat mampet. 

Rencana menjepret aktivitas di Bandara Simon Bolivar pun batal. Bukan apa-apa. Menurut Miguel, bandara di Venezuela termasuk tempat paling rawan kejahatan. Tidak sedikit pendatang yang menjadi korban kriminalitas. Paling banyak jambret. Karena itu, panitia KTT GNB membentuk tim khusus untuk menjemput para delegasi. Tim tersebut melibatkan para staf kedutaan besar dari negara masing-masing, termasuk KBRI. Begitu tiba di bandara, para delegasi langsung dikumpulkan di ruang VVIP, sebelum diberangkatkan ke Margarita dengan pesawat carter. Ruang VVIP menjadi satu-satunya tempat yang tidak bisa diakses oleh sembarang orang. Hanya ada satu pintu masuk yang cuma bisa dibuka oleh petugas keamanan. 

Para staf KBRI bahkan menyediakan ”bodyguard” bertubuh gempal untuk mengawal saat hendak ngopi di sebuah kafe. ”Buat antisipasi keamanan saja,” kata Wahid Fairuz, staf KBRI di Venezuela. 

Pengawalan juga diberikan saat menukar uang di loket money changer. Nilai tukar USD 1 setara dengan 630 bolivar. Jadi, USD 100 bisa mendapat 63 ribu bolivar. Namun, pecahan terbesar mata uang bolivar hanya 100. Karena itu, selembar USD 100 langsung berubah menjadi bergepok-gepok duit ketika ditukar dengan bolivar. Saking banyaknya tumpukan uang, para penukar dolar Amerika harus membawa ransel. ”Usahakan jangan sampai terlihat kalau habis menukar uang. Biar tidak mengundang penjahat,” ingat Rizki Trisna, staf KBRI lainnya.

Proses tukar uang juga ribet. Harus membawa paspor dan difoto. Di Indonesia, mirip tahap pembuatan e-KTP.   

Amir Fauzi, staf lokal KBRI, punya pengalaman menegangkan saat kali pertama tinggal di Caracas. Waktu itu dia memilih tinggal di sebuah apartemen di pusat Kota Caracas. ”Waktu itu saya tinggal di sana agar dekat dengan kantor,” katanya. Ternyata, lokasi apartemennya termasuk daerah rawan kriminalitas. Suatu ketika, saat baru pulang dari kantor, Amir dicegat seorang pria Venezuela bertampang sangar. Tanpa basa-basi, pria itu meminta Amir menyerahkan seluruh uang. ”Dia mengancam saya dengan senjata api yang ada di sakunya,” kenangnya. 

Amir tak berdaya. Dia hanya diam ketika uang USD 10 miliknya dirampas. ”Sejak itu, saya selalu berhati-hati setiap berjalan sendirian di jalanan Caracas,” ujar pria yang sudah lima tahun tinggal di Venezuela tersebut. 

Pengalaman serupa pernah dirasakan beberapa staf KBRI lain. Para penjahat jalanan di Venezuela memang nekat. Bahkan, mobil resmi KBRI pernah dirampok. Saat itu, tutur Amir, mobil KBRI sedang melaju pelan di jalanan Caracas. Tiba-tiba tiga motor datang. Dua motor memepet mobil dari kiri dan kanan. Satu lagi menghadang di depan mobil. Salah seorang penjahat langsung menodongkan pistol ke arah sopir. ”Gagang pistol dipukul-pukulkan ke kaca mobil,” ujarnya. Waktu itu mobil tersebut hanya dikendarai dua staf KBRI. ”Para perampok itu merampas semua handphone yang ada di mobil,” paparnya.

Venezuela memang sedang jatuh. Kemiskinan membuat angka kriminalitas meningkat tajam. Caracas, ibu kota Venezuela, bahkan disebut sebagai salah satu kota dengan angka pembunuhan tertinggi di dunia. Pada 2015, ada 3.946 kasus pembunuhan yang terdata oleh pihak kepolisian setempat. Salah satu pemicunya adalah perang antargeng. Di Caracas, menggunakan senjata api dianggap hal lumrah. ”Jadi, harus hati-hati di Venezuela,” kata Miguel lagi, mengingatkan. 

Polisi dan tentara bersenjata laras panjang terlihat berseliweran di jalan-jalan. Mereka memeriksa siapa saja yang dicurigai. Siang itu misalnya. Seorang pemuda yang membawa ransel langsung pucat ketika dihentikan oleh dua polisi. Tasnya digeledah. Namun, polisi langsung melepas pemuda itu karena tidak menemukan benda mencurigakan. Menurut Wilfredo, polisi memang getol menggeledah orang-orang yang mencurigakan. Tak peduli siapa pun atau bertemu di mana pun. ”Mereka mencari orang-orang yang membawa senjata. Di sini, banyak yang bawa senjata meski sudah dilarang,” katanya.

Kondisi Venezuela saat ini sungguh bertolak belakang bila dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Awal 2010 misalnya. Saat itu Venezuela dikenal sebagai negeri impian. Bahkan, pada 2012, sebuah organisasi jajak pendapat menempatkan Venezuela sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia. Indikatornya, semua kebutuhan penduduk bisa terpenuhi. Venezuela juga dikenal sebagai negeri pencetak Miss Universe terbanyak. Sebut saja Alicia Machado, Dayana Mendoza, Stefania Fernandez, hingga Gabriela Isler. Semuanya berasal dari Venezuela. Lebih dari 24 gelar telah disabet cewek-cewek Venezuela dalam ajang Miss Universe. ”Tapi, itu dulu. Sekarang semua berubah,” kata Miguel.

Venezuela sebenarnya kaya minyak. Negara tersebut mampu memproduksi 2,1 juta barel minyak per hari. Sumber minyaknya disebut cukup untuk 300 tahun ke depan. Namun, harga minyak yang jatuh membuat Venezuela terbelit utang hingga miliaran dolar AS. Celakanya, negara penganut sosialisme itu tidak punya sumber pendapatan lain. Sejak harga minyak jatuh itulah kondisi ekonomi memburuk. Terpuruknya perekonomian berimbas pada tingkat keamanan dalam negeri. Bahan kebutuhan pokok mulai menghilang dari pasaran. 

Pada 10 Juli lalu, pemerintah Venezuela bahkan membuka perbatasan dengan Kolombia. Tujuannya, warga bisa berbelanja kebutuhan pokok di Kolombia. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil. Kelaparan masih terjadi, terutama di daerah pinggiran. Aksi kriminal juga masih merajalela. 

Tidak salah jika pengamanan menjelang pelaksanaan KTT GNB diperketat. Maklum, kalangan oposisi yang menguasai parlemen memang menolak KTT GNB. Mereka menganggap KTT itu hanya pemborosan saat kondisi ekonomi sedang sulit. Aksi demo terjadi beberapa kali di Caracas. Mungkin karena alasan itu pula, Presiden Nicolas Maduro Moros memilih Margarita sebagai lokasi KTT. 

Margarita adalah sebuah pulau di Venezuela yang terletak di Laut Karibia. Penerbangan dari Caracas ke Margarita hanya butuh waktu 35 menit. Di sana, suasana lebih aman dan kondusif. Namun, tetap saja pengamanan ketat diberlakukan. Tentara bersenjata laras panjang mengawal ketat venue. Ketika saya mencoba memotret venue dari luar bahkan diusir.  

Duta Besar Indonesia untuk Venezuela Mochammad Luthfie Witto'eng membenarkan bahwa kondisi Venezuela belum kondusif. Namun, dia mengapresiasi keseriusan pemerintah Venezuela dalam mempersiapkan KTT GNB. 

”Kalau di Margarita ini, memang kondisinya relatif normal dibanding Caracas,” katanya. 

Soal keamanan, menurut Dubes, sudah ada jaminan dari kepala operasi keamanan Venezuela. ”Jadi, sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir. Kita semua berharap KTT GNB ini berjalan dengan baik,” katanya. 

Dia justru menganggap KTT GNB sebagai peluang bagi pemerintahan Maduro untuk membuktikan kepada dunia bahwa Venezuela bisa bertahan menghadapi krisis. ”Ini momen yang bagus bagi pemerintah Venezuela,” tegas dia. (*/c11/ang)

Berita Terkait