KPPU Sidak Flamboyan

KPPU Sidak Flamboyan

  Minggu, 21 February 2016 07:32
SIDAK: Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Flamboyan, Sabtu (20/2). Sidak yang dipimpin Ketua KPPU Syarkawi Rauf ini dilakukan terkait dugaan kartel atau persekongkolan perdagangan ayam ras di Kalbar. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Perwakilan Kalimantan bersama instansi terkait melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Flamboyan Pontianak, Sabtu (20/2) pagi. Sidak itu dimaksudkan untuk mengetahui harga ayam ras potong yang dijual di pasar tradisional terbesar di Kota Pontianak.

Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengungkapkan jika Kalbar merupakan salah satu produsen ayam ras terbesar di Indonesia. Untuk itu, menurut dia, perlu dilakukan pengecekan perkembangan harga ayam di Pontianak. "Kenapa kami memilih Pontianak atau Kalbar? Karena Kalbar merupakan salah satu produsen ayam ras terbesar di Indonesia, sehingga perlu dilakukan pengecekan perkembagan harganya" kata Syarkawi, kemarin di Pontianak.

Dibeberkan Syarkawi, di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Semarang dan Jawa Barat, harga ayam di tingkat peternakan mengalami penurunan. Bahkan, dia menambahkan, harganya berada di bawah pokok peternakan. Artinya, menurut dia, ada kerugian yang dialami para peternak tersebut.

Dari hasil sidak tersebut, dia melihat harga ayam ras potong yang dijual di Pasar Flamboyan tergolong normal. Menurutnya, di sana hanya dibanderol sebesar Rp48 ribu perekornya atau dalam kisaran Rp30 ribu – Rp32 ribu perkilogram, dengan berat ayam sekitar 1,5 kilogram. "Artinya harga ayam ras potong yang dijual pedagang masih normal," katanya.

Padahal, menurut dia, di daerah lain seperti di Pulau Jawa, di mana harga di peternakan turun dalam kisaran Rp15 ribu perkilogramnya, harga di pasaran tetap tinggi. Diungkapkan dia kisaran perkilogram daging tersebut yakni Rp30 ribu – Rp35 ribu.

Dalam kesempatan itu, dia tak memungkiri adanya keluhan dari para peternak di Pontianak, yakni harga pakan yang sangat tinggi. Hal tersebut, menurut dia, ditambah lagi dengan kebijakan apkir dini oleh Kementerian Pertanian RI, sehingga sempat membuat harga ayam mengalami kenaikan sekitar Rp39 ribu perkilogram. "Namun sekarang sudah turun dan kembali normal. Ke depan pemerintah memang harus fokus di pakan, dengan cara bagaimana mendorong agar pasokan pakan ternak bisa lebih stabil pada harga yang lebih rendah, sehingga harga ayam ras potong yang di jual di pasar-pasar juga ikut murah," ujarnya.

Wakil Wali Kota (Wawako) Pontianak Edi Rusdi Kamtono yang ikut serta dalam sidak tersebut mengatakan jika pihaknya bersama instansi terkait, terus melakukan kontrol harga antarpasar setiap hari, khususnya harga ayam ras. Dengan kontrol tersebut, Wawako menegaskan bahwa mereka bisa melihat rivalitas harga antara pasar satu dengan pasar lainnya. "Setiap hari kita lakukan kontrol. Harga di pasar satu dengan pasar lainnya kita connect-kan dengan digital harga, sehingga kelihatan. Stok kita jamin, sebab jika terjadi kelangkaan ayam, maka harga akan melonjak naik," katanya singkat.

Hal serupa juga diungkapkan kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Pontianak, Haryadi, yang mendampingi Wawako dalam sidak tersebut. Dipastikan dia jika harga jual ayam ras potong di pasar-pasar tradisional dan pasar rakyat di Kota Pontianak masih stabil.

Kalaupun harga jual ayam ras potong mengalami kenaikan, dipastikan dia tidak terlalu signifikan. Pasalnya, antara pasar tradisional satu dengan yang lainnya, mereka sudah memasang daftar harga secara elektronik. Dengan daftar harga tersebut, menurut dia, masyarakat tinggal memilih mau berbelanja di mana. "Dengan begitu, para pedagang tidak bisa semaunya menaikkan harga jual ayam ras potong dan kebutuhan pokok lainnya. Selain itu, kami juga melakukan tera ulang terhadap timbangan-timbangan milik pedagang, sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak dibohongi," ujarnya.

Terpisah, kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar, Abdul Manaf Mustafa menjelaskan jika hingga saat ini, 70 persen kebutuhan pakan ternak ayam ras di Kalbar masih dipenuhi dari luar. Hal itu, menurut dia, berpengaruh pada harga jual ayam potong. "Oleh karena ini, ke depannya harus dipikirkan, secara bertahap kebutuhan pakan itu bisa dipenuhi oleh pasokan lokal, yakni dengan cara dikembangkannya pertanian jagung," katanya saat turut serta dalam sidak tersebut. (arf)

Berita Terkait