KPK Incar Pejabat Bulog

KPK Incar Pejabat Bulog

  Senin, 19 September 2016 09:19

Berita Terkait

Terkait Suap Kuota Impor Gula

JAKARTA – Praktik suap mafia kuota impor gula yang menjerat Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman terus didalami Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Saat ini, komisi antirasuah menelisik dugaan keterlibatan pejabat Bulog dalam menentukan kuota bisnis pangan yang sangat mengiurkan itu.

Bulog langsung menjadi sorotan setelah Irman ditangkap KPK. Sebab, Irman memberikan rekomendasi kepada Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto untuk mendapatkan jatah gula impor. Pengaruh Irman cukup besar dalam penentuan kuota gula. Khususnya di wilayah Sumatera Barat.

Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, yang lebih tepatnya CV Semesta Berjaya meminta tambahan jatah distribusi gula dari kuota impor yang diterima Bulog. ”Jatah itu didistribusikan di Sumatera Barat,” jelasnya, kemarin (18/9). Perusahaan swasta itu mendapatkan jatah gula impor dengan mudah, karena ada bantuan pengaruh dari Irman.

Tak tanggung-tanggung, Irman langsung menghubungi pihak Bulog. “Rekomendasi yang diberikan IG lewat telepon,” terang Agus. Jadi, rekomendasi bukan melalui surat tertulis, tapi langsung lewat sambungan telepon. Namun, Agus enggan membeberkan siapa pejabat Bulog yang dihubungi Irman dalam penentuan gula impor.

Apakah KPK akan mendalami dugaan keterlibatan pejabat Bulog? Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menyatakan, saat ini lembaganya masih terus menelusuri semua pihak yang terlibat dalam praktik suap itu. Baik dari pihak Bulog maupun pemerintah daerah. Jadi, penyidikan tidak hanya berhenti pada tiga tersangka saja. “Penyidik akan memeriksa pihak yang diduga terlibat,” terang dia.

Namun, Saut belum bisa menjelaskan kapan pemeriksaan terhadap pihak Bulog dilaksanakan. Penyidik yang akan menjadwalkan pemeriksaan untuk membongkar mafia gula impor yang merugikan masyarakat luas itu. KPK sangat konsen dengan persoalan pangan yang sudah menjadi isu nasional.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menegaskan, pihaknya mempunyai bukti kuat dalam perkara tersebut. Dia membantah pihak kuasa hukum Irman yang menyatakan bahwa Irman tidak mengetahui isi bungkusan yang berasal dari Xaveriandy. Saat petugas menyita bungkusan berisikan Rp100 juta, uang sudah dipindah ke kantong plastik putih. “Keduanya mengetahui isi bungkusan itu,” terang dia.

Sementara itu, Sekretaris Perum Bulog Djoni Nur Ashari saat dikonfirmasi kemarin menuturkan bahwa pihaknya tentu akan kooperatif pada langkah-langkah hukum yang ditempuh KPK. Tapi, dia tidak bisa bicara lebih banyak tentang langkah apa saja yang akan ditempuh perusahaan pelat merah itu.  ”Kami sudah siapkan penjelasan (langkah-langkah, red) resminya. Nanti akan dijelaskan oleh direksi,” ujar dia kemarin (18/9).

Djoni menuturkan, penjelasan resmi dari jajaran direksi Bulog itu direncanakan bisa berlangsung pada hari ini (19/9). Sejumlah awak media sudah diberitahu untuk pemberian keterangan resmi. ”Besok (hari ini) pagi saja ke kantor Bulog. Semuanya akan dijelaskan,” imbuh dia.

Penangkapan Irman menjadi perhatian dari berbagai pihak. Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan, pihaknya mengapresiasi tim KPK yang telah melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Dia mendorong komisi antirasuah untuk membongkar mafia gula impor. 

Menurut dia, penangkapan Irman Gusman merupakan momentum positif untuk memberikan shock therapy kepada para pejabat publik agar tidak coba-coba memperdagangkan pengaruhnya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. “Penangkapan Irman Gusman merupakan bukti bahwa kekuasan tidak orang yang tidak aman akan menjadi lahan rente,” terangnya.

Komite  Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia juga angkat bicara terkait kasus tersebut. Direktur Kopel Indonesia Syamsuddin Alimsyah mendesak Badan Kehormatan (BK) DPD RI agar segera menggelar sidang pleno untuk memberhentikan Irman secara tidak hormat. Irman telah memperburuk citra DPD. “Dia diduga sengaja memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan persekongkolan jahat dengan pengusaha,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, Irman ditangkap KPK setelah menerima suap dari Xaveriandy Sutanto dan istrinya, Memi (istri) di Jalan Denpasar Jakarta Selatan pada Jumat (16/9) malam. Petugas mengamankan uang sebesar Rp 100 juta. Uang itu digunakan untuk memuluskan permintaan jatah kuota gula impor dari Bulog untuk didistribusikan di wilayah Sumatera Barat. (lum/jun)

 

Berita Terkait