Kota Pontianak dan Smart City

Kota Pontianak dan Smart City

  Rabu, 13 April 2016 09:32   2,156

Oleh: Ir. Edi Rusdi Kamtono, MT, MM

Kota Pontianak didirikan pada 23 Oktober 1771 atau 14 Rajab 1185 Hijriah. Pendirinya Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Sebagai kota yang sudah berumur 245 tahun, banyak perkembangan bisa kita lihat dan rasakan pada kota yang kita cintai ini.

Kita tentu saja ingin terus membangun dan mengembangkan Kota Pontianak. Tak hanya sebagai salah satu kota besar di Indonesia, bahkan dunia. Untuk menuju ke sana, tentu butuh kerja keras kita semua, sebagai bagian dari warga yang tinggal di Kota Pontianak.

Salah satu cara untuk mengembangkan Kota Pontianak adalah, mengembangkan satu konsep atau prinsip yang sedang mewacana dan berkembang sekarang ini. Yaitu, Smart City. Konsep itu dianggap sebagai satu cara menyelesaikan masalah yang ada di perkotaan. 

Konsep Smart City pertama kali dikenalkan IBM, perusahaan komputer di Amerika. Ada enam indikator Smart City. Smart Government (Pemerintahan Pintar), Smart Economy (Ekonomi Cerdas), Smart Living (Hidup Pintar), Smart Environment (Lingkungan Pintar), Smart People (Masyarakat Pintar), Smart Mobility (Mobilitas Pintar). Smart City atau Kota Cerdas merupakan konsep yang telah bergulir di sebagian besar kota dunia sekarang ini. 

Smart City mengintegarasikan informasi dalam kehidupan masyarakat kota. Membantu masyarakat yang tinggal di dalamnya, mengelola sumber daya secara efisien, memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat atau lembaga dalam melakukan kegiatannya, dan mengantisipasi kejadian tak terduga. 

Selain itu konsep Smart City adalah bagaimana cara menghubungkan infrastruktur fisik, sosial, ekonomi dengan menggunakan informasi dan komunikasi yang mengintegrasikan semua elemen dalam aspek tersebut, dan membuat kota yang lebih efisien dan layak huni.

Konsep Smart City memiliki arti, kota yang bisa menggunakan SDM, modal sosial dan infrastruktur telekomunikasi modern, demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, menuju kehidupan lebih tinggi dan menggunakan manajemen sumber daya yang bijaksana, melalui pemerintahan berbasis partisipasi masyarakat.

Di dunia, sudah banyak kota lebih dulu menerapkan konsep Smart City. Di Indonesia sebenarnya, di sejumlah kota, seperti, Bandung, Surabaya, Balikpapan dan Makasar sudah menerapkan Smart City. Konsep Smart City butuh perkembangan dan pengguna teknologi informasi dan komunikasi. 

Sebagai gambaran, sekarang ini populasi penduduk di Indonesia 260 jiwa, terdiri dari 60 juta rumah tangga dengan Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita 3000, dengan pertumbuhan ekonomi diangka 5,4 per tahun. Dari segi penyebaran penduduk, 55% warga tinggal di perkotaan. 

Smart City tak bisa dipisahkan dengan penggunaan internet atau telepon seluler berbasis internet. Di Indonesia terdapat 300 juta pemakai telepon seluler dan dengan 4 juta komputer PC. Jumlah pengguna internet mencapai 80 juta. Dari jumlah itu, sebanyak 40% merupakan pengguna mobile. Jumlah pelanggan broadband internet 23 juta, dengan 30 juta mobile internet user.

Bagaimana dengan Kota Pontianak? Kota Pontianak pernah meraih berbagai penghargaan. Di antaranya, dua kali dinobatkan sebagai Kota Bersih dan Teduh se-Kalbar. Penghargaan tingkat Nasional, Penghargaan pelayanan terpadu satu pintu oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, Ki Hajar Award (kita harus belajar), Anugerah Kota Cerdas 2015 urutan ke IV, kategori kota sedang (penduduk 200 ribu-1 juta jiwa), dan lainnya.

Dalam rangka menuju konsep Smart City, Kota Pontianak sudah melakukan sistem pelayanan satu atap, pelayanan e-Kelurahan, sistem pengelolaan keuangan dan laporan. Dalam tata kelola pemerintahan dan keuangan, Kota Pontianak bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi dengan memanfaatkan sistem informasi teknologi komunikasi, menggunakan layanan IT untuk percepatan layanan masyarakat.

Dalam rangka menuju Kota Cerdas, ada beberapa syarat yang harus dilakukan. Yaitu, pembangunan soft infrastrukture, hard infrastrukture dan culture. Pembangunan Soft infrastrukture dilakukan dengan menyiapkan akses atau ruang publik dengan WIFI, dan menyiapkan data digital yang bisa diakses publik. Melalui cara itu, interaksi pemerintah dan masyarakat bisa terjadi.

Pembangunan hard infrastrukture dilakukan dengan menyiapkan keamanan dan kenyamanan pada berbagai fasilitas publik. Seperti, transportasi publik yang baik, penyediaan energi yang berkelanjutan, penyediaan air bersih, dan lainnya. Pembangunan budaya dilakukan dengan membiasakan masyarakat menggunakan teknologi informasi, sehingga memudahkan pelayanan melalui sistem online.

Pemerintah tentu saja tidak bisa bergerak sendiri. Masyarakat penghuni kota bagian penting dari konsep Smart City. Sebagus apapun program dari pemerintah, kalau tidak didukung warga, tidak bakal bisa berjalan program itu. Itulah bagian dari pembangunan program budaya tersebut.

Misalnya saja pemerintah menggulirkan hidup sehat dan menjaga lingkungan. Namun, karena tidak ada arahan kepada masyarakat, mereka tetap saja membuang sampah sembarangan. Mendirikan bangunan yang bisa mempersempit bahkan menutup parit yang menjadi aliran air. Artinya, harus ada edukasi yang diberikan kepada warga penghuni kota.

Sebagaimana kita ketahui, sebagai tempat tinggal kota harus memberikan berbagai fasilitas dan kemudahan bagi warganya untuk beraktivitas. Karena itu fasilitas, sarana dan prasarana yang baik, menjadi bagian penting bagi sebuah kota.

Infrastruktur yang baik menjadi sesuatu yang patut disediakan. Begitu pun fasilitas pendidikan berkualitas. Fasilitas kesehatan yang mudah dijangkau. Termasuk juga penanganan sampah yang baik, dan lainnya. Tanpa fasilitas yang memadai, warga bakal kesulitan menjalani aktivitasnya.

Hal senada juga pada mobilitas manusianya. Ada pengaturan yang baik pada sistem lalu lintas, sehingga ketika warga kota beraktivitas dari satu wilayah ke wilayah lainnya, lebih mudah dan tidak mengalami kemacetan.

Semua fasilitas itu harus diringkas dan diinformasikan dalam suatu website, media sosial, atau aplikasi yang mudah diakses seluruh warga kota, sehingga ketika warga ingin mencari informasi apapun tentang kota yang ditinggali, bisa didapat dengan mudah, cepat dan tepat. Prinsip Smart City mengintegrasikan atau menyatukan informasi secara langsung bagi masyarakat.

Selanjutnya, apa keuntungan yang diperoleh warga, ketika mereka mudah mengakses dan mendapatkan berbagai informasi itu? Tentu saja warga akan lebih mudah menjalankan aktivitas di kota yang ditinggali. Fungsi selanjutnya tentu, meningkatnya ekonomi warga, karena efisiensi dari mobilitas yang mereka lakukan. 

Misalnya, ketika harus menjemput anak sekolah. Melalui sebuah aplikasi atau informasi di web atau medsos, warga tak mendapatkan kesulitan ketika harus berhadapan dengan jalan macet, banjir atau peristiwa mendadak yang bisa menghambat perjalanannya.

Ada lagi, misalnya warga yang ingin mengurus dokumen kependudukan di Kantor Kelurahan maupun Kecamatan, sekarang ini warga sudah tidak lagi harus repot-repot datang ke Kantor Kelurahan atau Kecamatan. Cukup dengan mengakses dan mengisi aplikasi di E-Kelurahan atau E-Kecamatan di mana saja, permohonan pelayanan kependudukan yang dibutuhkan bisa langsung cepat, tanpa harus bolak-balik ke Kantor Kelurahan. 

Akses ini sudah diterapkan oleh Pemkot Pontianak, yakni pelayanan kecamatan dan kelurahan berbasis online. Begitu pun ketika ada warga harus mendaftarkan anaknya sekolah. Cukup dari aplikasi di telepon genggam, sudah bisa menyelesaikan pekerjaan itu. 
Contoh lain ketika seorang pengusaha akan mengurus suatu izin, cukup dengan mengisi persyaratan lewat website. Pemkot Pontianak akan memasang Closed Circuit Television (CCTV) di sejumlah titik di Kota Pontianak. Fungsinya, Pemkot bisa mengontrol langsung kondisi kota termasuk taman-taman, jalan-jalan utama, pasar-pasar, sekolah dan lainnya. Untuk menuju ke arah sana, tentu saja butuh koordinasi antar instansi terkait di seluruh kota. 

Di Pemkot sendiri, terdapat 13 dinas, 6 badan, 4 kantor, 6 kecamatan, dan 30 kelurahan. Kedepannya, semua instansi ini harus menata informasi yang dimiliki dan mempublikasikannya di web atau situs, dengan informasi yang terintegrasi dan selalu terbaru.

Begitu pula dengan institusi swasta, perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, klinik kesehatan dan lainnya. Semakin banyak instansi yang memberikan informasi, semakin memudahkan kehidupan warga.

Dengan cara itu, tentu konsep Smart City bisa lebih cepat kita terapkan di Kota Pontianak. Kote Kite…..*

*) Penulis: Wakil Wali Kota Pontianak