Koruptor Baju Hansip Ditangkap

Koruptor Baju Hansip Ditangkap

  Rabu, 24 Agustus 2016 09:30
DITANGKAP: Danal Ginanjar, terpidana kasus tindak pidana korupsi baju hansip ini ditangkap dan dibawa ke Kejaksaan Negeri Pontianak untuk dilakukan pemeriksaan. Danal divonis 4 tahun penjara dan menjadi DPO bersama 14 terpidana lainnya.(ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Berita Terkait

Dua Tahun Buron, Ditangkap di Bandung

PONTIANAK- Danal Ginanjar, buronan Kejaksaan Negeri Pontianak ditangkap pada Senin, (22/8), pukul 20.15, di Jalan Mars Utara 6 Nomor 3, Margahayu Raya, Kota Bandung. Penangkapan ini dilakukan atas kerjasama Kejari Pontianak, Kejati Kalbar, Mahkamah Agung dan Kejari Bandung.

Danal Ginanjar adalah buronan yang telah diputus bersalah melalui putusan Mahkamah Agung tertanggal 11 Juni 2014. Dia terbukti melakukan korupsi pengadaan pakaian hansip linmas di Kalimantan Barat, tahun anggaran 2008 dan 2009. Kasus ini merugikan negara sebesar Rp 2,7 miliar. 

“Dalam putusan kasasi itu, dia dihukum pidana penjara 4 tahun dan denda sebesar Rp200 juta,” kata Asintel Kejati Kalbar, Supriyanto, kemarin.

Setelah ditangkap, Danal dijemput tim eksekutor Kejari Pontianak dan diterbangkan ke Pontianak pukul 17.10. Tim eksekutor bersama terpidana tiba di Pontianak sekitar pukul 19.15 dan langsung dibawa ke Kejari Pontianak untuk dilakukan pemeriksaan. Setelah beberapa menit dilakukan pemeriksaan, Danal kemudian dibawa ke Lapas Klas IIA Pontianak untuk proses hukum lebih lanjut.

Danal Ginanjar termasuk dalam DPO (daftar pencarian orang) kasus tindak pidana korupsi yang telah menjadi buronan selama dua tahun. 

Ia ditetapkan sebagai DPO bersama 14 DPO lain, di antaranya Gusti Hersan Aslirosa dalam perkara penyelewengan dana bansos pembangunan sirkuit balap motor di Gang Flora, Batu Layang, Pontianak Utara. 

Dalam putusan Mahkamah Agung, Gusti Hersan Aslirosa divonis pidana dua tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider kurungan tiga bulan kurungan yang sebelumnya diputus bebas oleh Majelis Pengadilan Negeri Pontianak dalam persidangan yang digelar pada 30 Desember 2010. 

Selain Gusti Hersan Aslirosa, DPO lain adalah Daniel alias Ateng. Pengusaha asal Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu itu divonis enam tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider enam bulan kurungan karena terbukti secara sah dan meyakinkan telah bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek pembebasan lahan milik masyarakat adat Taman, Kecamatan Pala Pulau, Kabupaten Kapuas Hulu untuk pembangunan Kompleks Pemda Kapuas Hulu.

Berikutnya Denny Sunarya Dermawan bin Dermawan yang dijatuhi pidana selama delapan tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider enam bulan kurungan, Robert Siagian dengan pidana penjara selama 10 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider enam bulan kurungan, Sudaryanto pidana penjara selama tiga tahun dan denda Rp 50 juta subsider enam bulan kurungan, Lim Kiong Hin alias Aheng dengan pidana penjara selama lima tahun dan denda 100 juta subsider enam bulan kurungan.

Selanjutnya Syafini Samsudin dengan pidana penjara satu tahun penjara dan denda Rp25 juta subsider satu bulan kurungan, Sholikhin dengan pidana penjara selama satu tahun dan denda Rp50 juta subsider satu bulan kurungan,  Gusti Muhammad Sophian Syarif  dengan pidana penjara selama empat tahun dan denda Rp100 juta subsider satu bulan kurungan, Heronimus Tiro dengan pidana penjara selama satu tahun penjara dan denda Rp75 juta subsider enam bulan kurungan, Herry Suhardiansyah dengan pidana penjara selama empat tahun dan denda Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan.

Selanjutnya, Heru Saif dengan pidana penjara selama satu tahun dan denda Rp50 juta subsider dua bulan kurungan, Marolop Sijabat dengan pidana penjara selama satu tahun dan denda Rp 50 juta subsider tiga bulan kurungan. Para terpidana dalam perkara korupsi ini telah memiliki kekuatan hukum tetap, tetapi belum dilakukan eksekusi. 

Selain 14 nama buronan tersebut, Kejati Kalbar juga merilis satu orang buronan dalam tindak pidana umum bidang kehutanan dengan terpidana atas nama Prasetyo Gow alias Asong dengan pidana penjara selama empat tahun dan denda 200 juta subsider lima bulan kurungan. (arf)

Berita Terkait