Korban Perkosaan Massal Masuk UGD

Korban Perkosaan Massal Masuk UGD

  Minggu, 31 July 2016 10:12
Prihatin: Edi sulaiman, paman korban, sedang menemani korban perkosaan di UPT Kesmas rawat inap Rasau Jaya, Sabtu (30/7) pagi. AGUS/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Keluarga Minta Pelaku di Hukum Berat

PONTIANAK—Ay (20) korban perkosaan massal 15 lelaki bejat akhirnya harus dilarikan ke UPT Unit Gawat Darurat Puskesmas Rawat Inap Rasau Jaya, Kubu Raya Jumat (28/7) sore kemarin. Korban mengalami sakit pada bagian perut hingga bagian vitalnya. Sejak mendapatkan perawatan, korban sering meracau menyebut semua pelaku minta untuk ditangkap. 

Di atas ranjang pesakitan, Ay terkulai lemas tak berdaya. Raut mukanya pucat menyiratkan kesedihan yang teramat dalam. Tatapan matanya sayu, memikirkan beban hidupnya. Di lengan kanannya, terpasang jarum infus. "Bulek (Bibi) mau kencing," kata Ay lirih. Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya saat beberapa awak media mengunjunginya. 

Dengan sigap, Sumiati langsung merengkuh badan Ay yang lemah itu. Dengan berhati-hati, badan Ay dipapah menuju kamar mandi di satu ruang perawatan. 

Sumiati, tak kuasa menahan tangis melihat kondisi keponakannya. Tersudut di balik jendela, dia menangis sesenggukan. Kejadian memilukan yang dialami Ay membuat seluruh keluarga merasa terpukul. "Masih sakit perutnya? Tanya saya kepada korban. Ay hanya bisa mengangguk, sementara tangannya mengelus perutnya. Tak lama, mata sembabnya kembali terpejam. " Sudah lumayan. Kemarin mulai dirawat," kata Sumiati memastikan keadaan keponakannya. 

Sebelum dilarikan ke Puskemas, korban masih bisa menerima kunjungan teman sejawat di kediamannya. Sekitar pukul 15.00 WIB, Ay merasakan sakit teramat sangat dibagian perut hingga daerah vitalnya. "Ngapa nangis nak,?” tanya Sinem. “Sakit perut mak," kata ibu korban menirukan jawaban anaknya saat sebelum dibawa ke Puskesmas.

Korban menangis merintih kesakitan menahan nyeri. Dalam keadaan tanpa sadar, Ay sempat meracau menyebut belasan lelaki bejat yang menyetubuhinya.

"Mereka Mak, mereka”, rintih Ay kepada ibunya. “Biar nak, mereka sudah ada yang nangani",  kata sinem mengulang percakapan saat menenangkan anak sulung dari dua bersaudara itu saat mengalami trauma berat. 

Korban kembali meracau saat sudah dirawat di UGD Puskemas Rawat Inap Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. Dalam keadaan tak sadarkan diri, Ay kerap berteriak supaya semua pelaku ditangkap. 

"Badannya panas, waktu tidur meracau. Tangkap mereka, tangkap gitu katanya setengah teriak. Sampai netes air mata saya dengarnya. Saya bilang ke dia untuk menenangkan diri, jaga kesehatan. Semuanya sudah ditangkap," kata Edi Slamet, paman korban. 

Sementara itu,  12 dari total 15 pelaku pemerkosa Ay sudah diamankan Polresta Pontianak. Masih ada tiga pelaku lainnya yang masih dalam proses pengejaran dan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Alau (Aloy), diduga pelaku utama dalang perkosaan massal atas korban Ay. Dari prarekontruksi, Alau yang juga statusnya berpacaran dengan korban ini menjemput Ay di rumah lalu membawanya ke tempat pelaku lainnya berkumpul. 

Paman korban, Edi Slamet mengaku tidak mengenal semua pelaku. Hanya satu orang yang dia kenal, yaitu Aloy.

Jauh hari sebelum musibah pilu menimpa korban, Aloy datang memperkenalkan diri kepada Edi Slamet, paman korban. Niatnya, ingin mengajak jalan keponakannya. Edi sempat mengintrograsi Aloy saat itu. 

"Dia awalnya datang baik, saya sambut baik. Saya tanya, niatnya serius atau cuma main-main. Saya minta kabari orangtuanya kalau memang benar. Awalnya saya ndak ngizinkan, tapi waktu dia bilang serius, jadi saya izinkan," kata Edi.

Perjumpaan pertama dengan Aloy, Edi tak menaruh curiga jika musibah pilu bakal menimpa keponakannya. Di hari pertama Ay keluar dengan pelaku, korban diantar pulang tepat seperti permintaan Edi. "Setelah hari itu, saya ndak tahu lagi pelaku ndak pernah terlihat lagi. Dapat kabar, keponakan dan ortu saya sudah di Polsek buat laporan," ujarnya. 

Meski rumah keduanya bersampingan, Edi mengakui, jarang berjumpa dengan keponakanya, mengingat keduanya masing-masing memiliki kesibukan. 

Sinem Ibu korban, juga demikian. Kesibukannya dalam menjalani rutinitas menjadi pengasuh bayi, dia kurang ada waktu untuk pulang ke rumahnya di Kubu Raya. Waktu bersama kedua anaknya juga renggang. Ay, tidak sendiri tinggal di rumah, ada adiknya. Di sebelah rumahnya, ada pamannya, Edi Slamet. 

Ay, sudah terlihat merenung, sejak setelah lebaran. Namun apa yang diamainya belum diketahui keluarganya. “Lebaran kemarin, saya pulang lima hari. Saya lihat dia banyak merenung dan hanya kotak katik Hp,” kata Sinem, di rumahnya. 

Hukum Berat Pelaku

Rasa marah, kesal masih belum sepenuhnya hilang dibenak keluarga korban. Musibah memilukan yang menimpa Ay masih menyisakan traumatik besar bagi korban, begitu juga dengan keluarganya. 

Ay, sempat ingin meninggalkan Kubu Raya, saat pertama kali mengungkapkan kejadian pilu terhadapnya. Kepada Sinem, ibu kandungnya korban berencana tidak mau lagi tinggal di Rasau.    “Waktu pertama kali dia cerita kena perkosa 11 orang, ya Allah, langsung pusing kepala saya. Anak saya sambil nangis itu bilang, ndak mau lagi tinggal di Rasau, mau pergi, malu katanya semua orang sudah tahu,” kata Sinem.

Sinem, mengaku tidak mengenal satupun diantara 12 pelaku yang sudah tertangkap dan menyerahkan diri. Dia juga mengaku kesal atas perbuatan pelaku yang tega dan keji memperlakukan anak sulungnya tersebut. “Digilir, saya ndak tetima, saya janda. Saya ndak terima anak saya diginikan saya malu sebagai orang tua,” katanya kesal.

Perasaaan yang sama juga dirasakan Paman korban, Edi Slamet. Musibah yang menimpa Ay, pukulan berat bagi keluarga. Ingin rasanya marah, tapi Edi memilih untuk menyerahkan semuanya kepada hukum. “Perasaan marah ya pasti, tapi kalau dilampiaskan bukan memperbaiki keadaan. Keluarga menyerahkan kasus ini kepada kepolisian, kami meminta pelaku dijatuhi sanksi yang seberat-beratnya,” tegasnya. “Jatuhi hukuman yang setimpal. Kami minta polisi usus tuntas siapa pelakunya,” harap Sinem menimpali. (Gus)

Berita Terkait