Korban Banjir Dirujuk ke Pontianak

Korban Banjir Dirujuk ke Pontianak

  Jumat, 24 June 2016 09:30
DIRUJUK: Korban banjir yang mengalami patah tulang dan luka robek dirujuk ke ke Pontianak, naik pesawat misionaris dari bandara Pangsuma ke bandara Supadio Pontianak. FOTO MUSTA’AN

Berita Terkait

PUTUSSIBAU — Mengalami infeksi berat akibat menderita luka dan patah tulang, dua orang warga Dusun Tosoing Loing, Desa Tanjung Lokang, Kecamatan Putussibau Selatan, korban banjir disertai longsor, Rabu (22/6) pagi dirujuk ke RSU Sonto Antonius Pontianak. Mereka mesti segera dirawat intensif, karena mengalami patah tulang dan luka robek yang sangat serius serta mulai alami infeksi.

Korban banjir yang dirujuk ke Pontianak adalah Julianus Joma  dan Teri, keduanya diberangkatkan ke Pontianak menggunakan pesawat misionaris dari Bandara Pangsuma Putussibau menuju bandara Supadio Pontianak. Kepala Ruang Mawar RSUD Achmad Diponegoro Putussibau, Dayang Darmiani membenarkan dua pasien yang dirawat di ruangan Mawar dirujuk ke RSU Santo Antonius Pontianak.

“Lukanya sangat parah, infeksi berat, di sini tidak ada dokter spesialis bedah. Jadi harus dirujuk. Karena mereka pasien umum, mereka minta ke RS Antonius,” kata Darmiani.

Ia mengatakan, untuk pasien yang masih dirawat di RSUD Putussibau itu hanya yang mengalami luka ringan. Rata-rata pasien yang tetap dirawat di RSUD Achmad Diponegoro Putussibau kebanyak mengalami luka lecet.

Dijelaskannya, untuk pasien yang dirujuk mengalami luka robek cukup besar, dan patah tulang dekat bagian bahu. Adapun nama-nama pasien korban longsor dan banjir bandang Desa Tanjung Lokang yang masih dirawat di RSUD Ahmad Diponegoro yakni Julianus Joma (dirujuk) Telunyu, Adrianus, Teri (dirujuk), Alberta Hangin dan Abui. “Ada enam orang pasien yang satunya lagi rawat jalan,” tutur dia.

Pasien yang dirawat jalan tinggal di rumah keluarga masing-masing di Putussibau. “Yang dirawat jalan masih tinggal di rumah keluarganya di Putussibau ini,” kata Darmiani.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, H. Harisson Azroi mengatakan, perawatan terhadap pasien yang alami luka berat diRSUD Ahmad Diponegoro hanya bersifat sementara saja, sampai kondisi kesehatannya stabil.

Setelah itu memang harus dirujuk segera ke rumah sakit yang miliki dokter dan peralatan yang lengkap. “Distabilkan dulu kondisi mereka, kalau sudah bisa dirujuk, baru dirujuk atau dalam keamanan baru di sana direposisi,” terang Harisson.

Ketua IDI Kapuas Hulu ini mengatakan, tim medis Dinkes Kapuas Hulu masih tetap ada di lokasi bencana, guna merawat sejumlah warga korban banjir. Dikatakannya, warga yang mengalami musibah, memeriksa kesehatannya secara menyeluruh pasca banjir bandang tersebut. “Dinkes membentuk tim penanggulangan krisis kesehatan untuk dikirim ke lokasi. Saya kirimkan 7 tenaga medis, satu dokter kebidanan, orang dokter umum, empat perawat dan satu pegawai administrasi. Mereka membawa obat-obatan, susu dan kelambu,”terang Harisson.

Harisson mengatakan tim medis yang dia kirim akan berada di lokasi bencana selama tiga hari. Ia juga belum mengetahui perkembangan kesehatan masyarakat di Desa Tanjung Lokang, karena akses komunikasi belum tersambung ke sana. “Di sana akses komunikasi sulit. Apalagi listrik di sana padam total, karena jaringan dari PLTMH ruak berat, handphone yang mereka bawa sudah drop,” paparnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kapuas Hulu, Abdul Halim yang baru tiba di Putussibau, langsung melapor kondisi terakhir kepada Bupati dan Sekda Kapuas Hulu. Usai menemui Sekda, kepada wartawan Halim menceritakan kondisi terakhir di Tanjung Lokang. “Kami inventarisir semua kerugian. Yang hanyut 6 unit rumah warga, 12 unit fasilitas umum, 27 gudang kecil,” jelasnya.

Selain itu, kata Halim, ada dua unit rumah rusak berat dan 58 rumah yang terendam. Ia mengatakan, untuk data sementara satu orang meninggal dunia, enam orang luka berat dan 16 orang luka ringan. “Mereka semua ditangani oleh rumah sakit dan tim kesehatan dari Dinkes Kapuas Hulu," jelasnya. Untuk pengobatan para korban yang ada di rumah sakit dipastikan akan ditanggung oleh pemerintah.

Dikatakannya, untuk korban yang parah, pihaknya akan berusaha memberikan bantuan Rp5-20 juta. Hanya saja, Perbup terkait bantuan korban bencana yang hanya mendapatkan Rp2 juta per kepala keluarga harus diubah terlebih dahulu. Sebab, jika Perbup tersebut tak direvisi, dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan baru. Yakni persoalan hukum yang timbul gara-gara membantu masyarakat.

Muya keluarga korban yang menunggu di RSUD Putussibau,  mengatakan, keberangkatan korban menuju Pontianak menggunakan pesawat misionaris. Dari rumah sakit dibawa dengan ambulance menuju bandara Pangsuma Putussibau. “Tadi sekitar jam 8.00 Wib pasien atas nama Joma (7) yang mengalami patah tulang sudah duluan diantar ke bandara,ini lagi siap-siap antar Bu Teri,” terangnya.

Muya berterimakasih kepada Pemda Kapuas Hulu yang telah peduli dengan penderitaan warga Desa Tanjung Lokang. “Selasa (21/6) sore pak Bupati bersama sejumlah kepala SKPD menemui pasien korban banjir dan longsor di RSUD Achmad Diponegoro Putussibau,” ucapnya.

Diakatakannya, upaya bupati membantu korban banjir sudah sangat baik, cepat dan tepat, padahal lokasi sangat jauh.(aan)

Berita Terkait