Kontribusi Alumni Dibutuhkan

Kontribusi Alumni Dibutuhkan

  Senin, 11 July 2016 10:01
PENDIDIKAN: Gubernur Cornelis bersama Ketua Komisi Pendidikan KWI Mgr. M. Situmorang, alumni PKN Nyarumkop Adrianus Asia sidot, Mgr. Agustinus Agus, Ny. Frederika Cornelis pada acara Temu Agung Alumni PKN di Komplek persekolahan Nyarumkop, Jumat (8/7). HUMASPROV KALBAR

SINGKAWANG - Gubernur Kalimantan Barat Drs Cornelis MH membuka perayaan syukur 100 Tahun Persekolahan Nyarumkop (PKN) dan Reuni Agung Alumni di Komplek Persekolahan Nyarumkop, Singkawang (8/7) lalu.

Dia berharap, dengan 100 tahun PKN, semakin banyak alumni yang berkontribusi agar sekolah ini tetap eksis sesuai cita-cita pendirinya. PKN didirikan untuk membantu masyarakat yang tidak mampu, menyelamatkan mereka dari kebodohan, terutama masyarakat lokal.

"Bapak Ibu yang sudah dididik di persekolahan Nyarumkop berbahagialah. Saya hanya tiga bulan di persekolahan Katolik, habis itu 'lari' (pindah ikut orang tua bertugas sebagai polisi). Orang tua kami hanya mampu memasukkan kami ke asrama, di Pahauman selama 6 bulan saja. Lambat sikit kena pelasah, mana tahan, saya ini sekolah malam, sekolah sore, cuma Tuhan Yesus baik dengan saya masuk perguruan tinggi tidak bayar, sampai saya bisa seperti ini," ungkap Cornelis.

Dirinya juga mengingatkan bahwa, para alumni sekarang sudah punya modal. Jika alumni sepakat dan bersatu menghimpun kekuatan, pikiran tenaga, ongkos dan otot pasti bisa mengembangkan persekolahan ini agar tetap bisa bersaing.

Hadir dalam acara tersebut  Mgr. Martinus Situmorang, Komisi Pendidikan KWI, Ketua Ikatan Alumni Persekolahan Nyarumkop Adrianus Asia Sidot, Ny. Frederika Cornelis, yang juga alumni PKN, para alumni lainnya baik pengusaha yang tersebar di seluruh dunia, pejabat dan politisi serta serta para guru dan pembina asrama.

Dijelaskan Cornelis, para alumni harus memiliki modal dasar yakni iman pengharapan dan kasih, bukan egois, karena umat katolik khususnya suku Dayak ini, kalau tak ada gereja Katolik tidak akan seperti ini, Gereja Katolik lah yang membuka mata masyarakat Dayak.

Untuk itu Gereja Katolik memprioritaskan pendidikan dan kesehatan, karena kalau tidak sehat bagaimana mau sekolah dan sukses kemudian memberikan sumbangan.

"Anda harus lebih cerdas karena anda bukan dididik hanya mendapatkan ilmu pengetahuan tapi juga pengetahuan injil. Bangun jiwa korsa kalau tidak maka tertindas lagi," terang mantan Bupati Landak itu.

Dirinya berharap pula, ke depan PKN  bisa bersaing secara daerah, lokal, nasional maupun internasional.

Cornelis meyakini alumni yang dididik di Nyarumkop mentalnya lebih kuat dan tegar, sehingga dirinya juga mendorong para imam dan pengelola untuk tetap menjaga persatuan umat Katolik, karena pemerintah terbatas dalam hal campur tangan. 

"Saya bisa campur tangan dana BOS sudah saya kasih, firman Tuhan mengatakan, mintalah maka kamu akan diberi. Ketuklah maka kamu akan dibukakan. Anda boleh mengajukan secara tertulis," terang mantan Camat Menjalin itu.

Cornelis mengakui sekalipun dirinya tidak dididik secara Katolik tetapi tetap peduli dengan umat katolik, alumni APDN itu tidak melihat sebelah mata perkembangan umat beragama di Kalbar. 

"Saya tahu posisi saya sebagai umat katolik, kami malah tinggal di antara umat agama lain ketika di Sukadana, pastor lumano dan pastor Kanisius mendatangi kami di Sukadana, mereka datang dari Ketapang. Tapi Bapak saya salah satu yang memperjuangkan hak-hak gereja Katolik. Termasuk rumah sakit Vinsensius (Singkawang), Rumah sakit Antonius, Gereja MRPD, saksi hidup Mgr. Hieronimus Bumbun," ujar Cornelis.

Sementara itu Ketua Ikatan Alumni Persekolahan Nyarumkop, Adrianus Asia Sidot mengungkapkan Persekolahan Nyarumkop adalah kawah candradimuka umat Khatolik di Kalbar. Sekolah ini sudah menghasilkan kader-kader Khatolik diantaranya Uskup Agung Emiritus, Mgr H. Bumbun, Mgr Agustinus Agus yang kini Uskup Agung Pontianak, para pejabat baik tingkat provinsi maupun nasional, pengusaha sukses yang menyebar diberbagai belahan dunia.

Salah satu alumni PKN,  Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, alumni 1962-1969, mengakui kalau tidak ada sekolah ini mungkin dirinya bisa  menjadi uskup Agung, sehingga ke depan dirinya menyarankan agar persekolahan Nyarumkop  yang ramah lingkungan sehingga meminimalisir penggunaan air conditioner.

Bentuk keseriusan Keuskupan Agung Pontianak dalam membangun PKN dengan mendatangkan tim riset Pendidikan KWI, sehingga ke depan bisa diketahui apa yang harus dilakukan untuk peningkatan mutu PKN. ‘’Libatkan orang tua siswa dalam perencanaan kegiatan. Keringanan biaya sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu. Keuskupan berjanji akan membantu eksistensi PKN," pungkas Monsinyur Agus. (humasprov)