Konsumsi Premium Turun, Pertalite Naik Dua Kali Lipat

Konsumsi Premium Turun, Pertalite Naik Dua Kali Lipat

  Selasa, 10 January 2017 09:30
Ilustrasi

Berita Terkait

PONTIANAK – Masyarakat Kalimantan Barat ternyata mulai menyukai bahan bakar minyak nonsubsidi.  PT Pertamina (Persero) Wilayah Kalimantan mencatat permintaan bahan bakar minyak jenis Premium di Kalimantan Barat menurun enam persen sepanjang 2016.

“Konsumsi BBM Premium turun dari 556 ribu kiloliter dari tahun 2015 menjadi 524 ribu kiloliter pada 2016,” kata Communication and Relation Marketing Operation Region (MOR) VI Pertamina Kalimantan Bagja Mahendra, kemarin (9/1).

Kendati Premium masih menjadi BBM yang paling banyak dikonsumsi, namun produk baru yaitu Pertalite mulai menjadi favorit, dengan kenaikan dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

“Pemakaian Pertalite naik sebesar 98 persen atau sebesar 63 ribu KL. Adapun Pertamax Plus naik sebesar 12 persen atau sebesar 7 ribu KL. Lalu BBM jenis solar PSO juga naik sebesar sembilan persen atau sebesar 257 ribu KL, dan dexilte pemakaiannya sebanyak 1.315 KL sepanjang 2016,” katanya.

Pertalite yang RON-nya 90 atau lebih tinggi dari premium RON 88 merupakan BBM produksi hasil aksi korporasi Pertamina yang dimotori jajaran Pertamina Direktorat Pemasaran.

Terobosan Pertamina yang sukses tidak hanya untuk BBM jenis pertalite, tetapi yang baru-baru ini BBM dexlite sebagai pilihan selain solar, penjualannya juga telah meningkat. “Hal itu jelas membuktikan bahwa masyarakat juga menginginkan BBM yang berkelas yang bisa memberi nilai lebih pada kendaraan mereka,” katanya.

Sebagian besar pelanggan yang membeli Pertalite awalnya adalah pengguna Premium. Semakin bertambahnya outlet Pertalite turut memicu tingkat pemahaman dan kesadaran konsumen akan keunggulan bahan bakar dengan RON 90 ini. “Pertalite menjadi pilihan produk Pertamina yang tidak disubsidi dan diharapkan dapat terus meningkat lagi penjualannya,” tambahnya.

Menurutnya, produk ini terinspirasi oleh perkembangan teknologi kendaraan bermotor di Indonesia yang membutuhkan bensin berlevel research octane number (RON) 90, Pertalite membuat pembakaran pada mesin kendaraan dengan teknologi terkini lebih baik dibandingkan dengan Premium yang memiliki RON 88.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik Sofyano Zakaria mengapresiasi terobosan PT Pertamina yang sudah meluncurkan pertalite dan mendapat sambutan positif dari masyarakat sebagai BBM alternatif selain premium. Artinya menurut dia, persoalan besaran harga jual sudah tidak lagi menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat. 

Hal itu, juga terlihat dengan terus meningkatnya penjualan BBM jenis pertamax yang saat ini banyak dibeli oleh para pemilik sepeda motor. “Penjualan pertalite saat ini meningkat pesat sejak diluncurkan Juli 2015, artinya produk terobosan Pertamina tersebut disukai masyarakat,” katanya.

Dia berharap di tengah perekonomian global yang tak menentu, pemerintah sudah saatnya mengamanatkan secara tegas kepada Pertamina untuk selalu berfikir cerdas dan bekerja keras melahirkan produk produk inovatif lainnya serta menggalakkan pemasaran produknya sehingga Pertamina tetap mampu memberi kontribusi pendapatan bagi negara tanpa harus tergantung dengan merosotnya harga minyak dunia. (ars)

Berita Terkait