Konstruksi Yang Menyelamatkan Alonso

Konstruksi Yang Menyelamatkan Alonso

  Selasa, 29 March 2016 09:20
HANCUR: Pembalap McLaren Honda asal Spanyol, Fernando Alonso saat mengalami kecelakaan pada Grand Prix Australia di Melbourne. Alonso membebaskan diri dari mobil MP4-31 yang hancur lebur tanpa terluka. Alex Coppel / Newspix / AFP

Berita Terkait

MELBOURNE – Kecelakaan yang menimpa Fernando Alonso di GP Australia bisa saja berakhir maut. Namun, Alonso membebaskan diri dari mobil MP4-31 yang hancur lebur tanpa terluka. Langkah-langkah pertamanya sekeluar dari mobil benar-benar membuktikan bahwa faktor keamanan mobil Formula 1 telah berada pada level mumpuni. 

Bukan cuma konstruksi monokok yang membuat tubuh pembalap seperti dikepung dinding pengaman. Namun, posisi duduk di dalam kokpit juga ikut memengaruhi. Pada dasarnya, struktur bodi mobil F1 dibuat sekaku mungkin. Dengan begitu, tidak mungkin terjadi benturan di dalam kokpit saat kecelakaan. 

Selama bertahun-tahun dan setelah melewati berbagai kecelakaan maut yang merenggut nyawa pembalap, sistem pengamanan mobil F1 terus dikembangkan. Apa saja yang memengaruhi konstruksi tersebut? 

Pertama dan yang paling mendapat perhatian besar adalah nosecone atau hidung mobil. Bagian tersebut harus menjalani uji paling penting: crash test atau uji tabrak. Tim-tim akan membuat bentuk hidung yang bisa mengurangi bobot mobil, menambah keuntungan aerodinamika, tetapi di saat yang sama harus tetap lulus uji tabrak.

Bagian berikutnya adalah konstruksi pemasangan ban. Ban dipasang sedemikian rupa agar saat terjadi kecelakaan tidak mudah terlepas. Wheel tether diperkenalkan pada 2001 menyusul kecelakaan yang menimpa Henry Surtees di Formula 2. Ban mobil rivalnya terlepas dan menghajar kepalanya. Akibatnya fatal. Surtees tewas.

Sejak 2011, FIA merevisi aturan tentang wheel tether tersebut. Masing-masing ban punya dua set tether. Satu set tether harus bisa meredam energi minimum sampai 6 kj (kilojoules). Saat terjadi kecelakaan, ban bisa terlepas dan terlontar dengan kecepatan sampai 150 kilometer per jam, bergantung kecepatan mobil. Itu akan menghasilkan energi kinetik sebenar 17 kj untuk ban seberat 20 kilogram. 

’’Pada 2017 nanti, amandemen regulasi mewajibkan konstruksi mobil yang lebih lebar agar bisa meredam energi minimum 8 kilojoules,’’ jelas Matt Somerfiled, jurnalis F1 di Motorsport.  

Faktor selanjutnya adalah jantung mobil yang biasa disebut monokok. Dibuat dari serat karbon dan kali pertama diperkenalkan McLaren bekerja sama dengan Hercules pada 1981. Itu menggantikan struktur metal yang sebelumnya digunakan. Materi komposit tersebut lebih ringan dan kuat dari bahan apa pun yang pernah dipakai.

Setelah itu dimensi kokpit. Dengan ukuran yang telah ditentukan, FIA menginginkan semua tim merancang kokpit yang sama. Berlaku sebagai penahan terakhir saat terjadi kecelakaan dan memudahkan pembalap keluar mobil saat tabrakan terjadi. 

Yang tak kalah penting adalah HANS (head and neck support). Peranti yang dipasang di belakang leher pembalap itu wajib sejak 2003. ’’Alat tersebut berfungsi membuat posisi kepala tidak bergerak liar saat menerima tekanan G Force atau kecelakaan,’’ terangnya. Mentransfer energi ke bagian tengah tubuh atau torso saat kepala menahan beban mobil ketika pengereman.

Yang terakhir adalah posisi duduk pembalap. Sejak 1988, posisi kaki pembalap harus berada di belakang pusat atau sumbu roda. Sejak saat itu, kaki pembalap menjadi menekuk. Ini mengurangi risiko kaki patah saat terjadi benturan. (cak/c17/na)

Berita Terkait