Konser Puisi Multimedia, Gelegar Amarah Asrizal Nur

Konser Puisi Multimedia, Gelegar Amarah Asrizal Nur

  Minggu, 15 November 2015 09:17
MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Penyair dan sastrawan Asrizal Nur tampil memukau dalam Konser Multimedia di studio teater Taman Budaya, Pontianak, dalam rangka Hari Pohon Sedunia, Jumat (13/11) malam. Konser puisi tunggal yang digelar selama tiga hari (13-15/11) ini lebih dari sekadar hiburan.

Lewat puisi-puisinya, penyair berkaliber internasional ini mengungkapkan kemarahannya atas bencana kabut asap di Indonesia belakangan ini. Dia juga berusaha mengingatkan penontonnya tentang bahaya yang akan menimpa Indonesia dan Pulau Kalimantan beberapa tahun ke depan. Hal itu lantaran aksi merusak lingkungan terus dilakukan oleh sebagian masyarakat.

Selama dua jam pertunjukan, penonton sangat paham kalau konser ini benar-benar berkualitas. Walaupun hanya melibatkan 30an orang, terdiri dari penari, pemusik dan penata panggung. Dari tata panggung saja, orang yang melihat sudah bisa merasakan bahwa pertunjukan digarap dengan sangat serius.

Para penari latar juga menggunakan kostum pohon dan kostum lainnya untuk menguatkan tema yang dibawakan. Walaupun merupakan pertunjukan kontemporer, kesenian tundang juga mewarnai konser tersebut.

Puisi-puisi yang dibawakannya dengan progresif dan ekspresif kebanyakan bercerita yang mengisahkan tentang kerusakan alam di Indonesia. Ingin menggambarkan keadaan alam yang sesungguhnya,  panitia menyiapkan batu, batang pohon, ranting-ranting dan benda lainnya yang di atas panggung. Alhasil, panggung nampak seperti alam yang rusak.

Sementara latar panggung sebuah layar menampilkan video tentang alam yang rusak. Adapula animasi-animasi bertema sama. Pada beberapa babak, Asrizal berdialog dengan dirinya yang ada di video. Tarian enerjik nan dinamis menguasai panggung. Tarian-tarian itu sangat aktraktif. Para pemain mempertontonkan ekspresi yang aneh, seperti bingung bercampur marah.

Sementara suara Asrizal menggelegar sepanjang acara. Ungkapan kemarahan, kesedihan, kekecewan dan ejekan tergambar tidak hanya dari kata-katanya, tetapi juga intonasi dia.

Salah satu adegan yang menggugah adalah puisi tentang percakapan antara pohon dan penebang. Walaupun tampil sendiri, sesungguhnya puisi ini berwujud dialog. Asrizal yang berada di panggung memerankan sosok penebang. Sementara dirinya satu lagi ada di layar, memerankan pohon di rekaman video yang keluar dari proyektor.

Konser Puisi Puisi Multimedia Asrizal Nur ini disamping menampilkan pertunjukan sekaligus menjalin silaturahim dengan seniman Kalimantan Barat sekaligus mengajak kerjasama tim belajar bersama bagaimana membuat sebuah persembahan puisi yang diminati dan dihargai masyarakat, sehingga penonton mulai belajar menghargai tontonan sastra dengan membeli tiket tontonan dimulai dengan harga yang disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa, pelajar dan masyarakat itu sendiri.

Konser Puisi Multimedia Asrizal Nur juga menggalang kerjasama tim pertunjukan berkolaborasi dengan Sanggar Tari Andari, Wakmok dengan Tundangnya, Cekmat dengan Syairnya dan Penyanyi Fitri Yusuf serta narator Rahnang dan Suci Wulandari dan Musik oleh Rizki dan didukung oleh soundsystem dan lighting oleh Hendra Surya Putra, Penata Artistik Mugiono. (ars)