Konflik Warga dan Sintang Raya, Ratusan Warga Mengungsi

Konflik Warga dan Sintang Raya, Ratusan Warga Mengungsi

  Minggu, 31 July 2016 10:47
MENGUNGSI: Warga Desa Olak-Olak Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya saat mengungsi keluar dari desa mereka, Sabtu (30/7). Ratusan warga mengungsi akibat konflik dengan perusahaan perkebunana sawit. HARYADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Konflik masyarakat dengan perkebunan kelapa sawit terus terjadi. Kali ini, ratusan warga Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya harus mengungsi, menyusul aksi sweeping aparat keamanan pasca demonstrasi masyarakat ke perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Sintang Raya (Grup Miwon). 

Ratusan warga yang terdiri dari tiga desa, Olak Olak Kubu, Seruat 2, dan Bengkalang ini, mendiami beberapa lokasi  di Kota Pontianak dan Kubu Raya. Mereka mengaku takut tinggal di rumah mereka, pascapenjemputan paksa terhadap beberapa warga oleh aparat. "Paman saya diambil secara paksa oleh polisi, semua keluarga jadi takut," kata Rubiyem, salah seorang pengungsi ditemui di salah satu rumah warga di Kubu Raya.

Rubiyem dan ratusan warga yang lain, memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka di Kecamatan Kubu sejak Jumat (29/7). Diceritakan Rubiyem, pamannya yang bernama Ponidi, dijemput oleh sejumlah aparat dan diperlakukan secara kasar. Diungkapkan dia bahwa pada saat itu pamannya dituduh melakukan pengeroyokan terhadap karyawan perusahaan PT Sintang Raya pada aksi demonstrasi, 24 Febuari 2016 lalu. "Saya melihat dengan mata saya sendiri kalau paman saya dipiting. Pas mau dibawa sampai narik-narik baju saya," katanya.

Setelah diambil paksa oleh aparat, warga pun tidak mengetahui bagaimana nasib Ponidi. Informasi terakhir yang diterimanya, saat ini pamannya dan beberapa warga yang dijemput tersebut berada di Polres Mempawah. Namun hingga saat ini pihaknya belum bisa menghubungi nomor HP-nya. "Pertama dibawa ke Polsek, tapi informasi terakhir mereka dibawa ke Polres Mempawah. Nomor HP-nya juga tidak bisa dihubungi," lanjutnya.

Dikatakan Rubiyem bahwa mereka yang mengungsi tersebut, turut membawa anak-anak mereka, meskipun saat ini sedang bersekolah. "Anak anak berhenti sekolah sementara. Kami takut kalau mereka ditinggal mereka akan diambil," katanya.

Menurut warga lainnya, aparat tidak hanya melakukan sweeping, tetapi juga menggunakan senjata laras panjang, merasuk ke rumah warga. "Kakek saya yang dijemput. Katanya melakukan pencurian buah milik PT Sintang Raya," kata Fauzi, pengungsi lainnya.

Sementara itu Sunarno, kepala Seksi (Kasi) Kemasyarakat Desa Olak Olak Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, mengharapkan kepada pemerintah untuk segara melakukan tindakan, dengan mengamankan Desa Olak Olak Kubu. Karena, diungkapkan dia, yang terjadi saat ini masyarakat merasa ketakutan adanya patroli yang dilakukan aparat. Menurut Sunarno, aksi masyarakat pada 23 Juli 2016 lalu merupakan aksi damai, menuntut tanah warga yang direbut oleh PT Sintang Raya seluas 11.129,9 hektare. 

Pada saat aksi demonstrasi tersebut, dipastikan Sunarno tidak ada aksi pemukulan terhadap aparat atau pihak lain. Yang terjadi, menurut dia, adalah aksi dorong-dorongan yang mengakibatkan salah seorang anggota polisi terjatuh.

Sebagai informasi PT Sintang Raya sebenarnya sudah digugat oleh warga sejak 2011 lalu. Hasil gugatan ini dimenangkan oleh warga dengan keputusan Mahkamah Agung Nomor 550 Tahun 2013, yang memutuskan agar hak guna usaha perusahaan ini dianulir atau dikembalikan pada negara. Namun, hingga saat ini keputusan itu tidak diindahkan oleh perusahaan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kubu Raya. Bahkan, perusahaan ditengarai menggunakan preman dan polisi untuk membendung warga, dengan cara menakut-nakuti bahkan menangkap warga yang melakukan aksi demonstrasi. Dengan dalih tuduhan pencurian buah sawit milik perusahaan yang sebenarnya berada di tanah warga Olak-olak Kubu, warga pun ditangkap. 

Sementara, Franky, salah seorang ketua RT di desa tersebut, mengatakan, sejak ditangkapnya warga bernama Katin, kepala Desa Olak-Olak Kubu oleh polisi, Februari lalu, dia pun ditarget untuk ditahan. Katin, menurut dia, ditangkap akibat melakukan aksi demonstrasi petama untuk membatasi ruang gerak perusahaan mengambil tanah mereka. Selepas aksi demonstrasi besar kedua pada 23 Juli lalu, Franky mengungkapkan bagaimana rumahnya kerap disatroni aparat bersenjata lengkap, sehingga membuat anak dan istrinya ketakutan. Lebih parahnya lagi, dia mengungkapkan bagaimana hingga hari ini anaknya tidak bersekolah, akibat ketakutan setiap melihat polisi berkeliaran di desanya.

Hingga saat ini, menurut dia, ada empat warga, termasuk Kades mereka yang ditahan di Polres Mempawah, tanpa surat panggilan ataupun aturan hukum yang jelas. 

Dihubungi terpisah, kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Kalbar, Suhadi SW, tidak menjawab panggilan telepon. Bahkan melalui pesan singkat aplikasi whatssapp, Suhadi pun tidak merespons. (arf)

Berita Terkait