Konflik PT Sintang Raya, Warga Tuntut Perlindungan

Konflik PT Sintang Raya, Warga Tuntut Perlindungan

  Selasa, 2 Agustus 2016 09:30
MENYEKA AIR MATA: Seorang warga Kecamatan Kubu,Kabupaten Kubu Raya yang mengungsi akibat konflik dengan perusahaan sawit menangis saat mengadu di Kantor Perwakilan Komnas HAM Kalbar di Jalan Daeng Abdul Hadi, Pontianak,Senin (1/8). Mereka meminta perlindungan dan jaminan keamanan atas konflik yang terjadi | HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Komnasham Bentuk Tim Investigasi

PONTIANAK – Warga Kecamatan Kubu yang mengungsi akibat konflik dengan PT Sintang Raya mendatangi Kantor Perwakilan Komnas HAM Kalbar, Senin (1/8). Selain mendesak kepolisian menarik personel dari kampung mereka, warga yang terdiri dari orang tua dan sejumlah anak dan balita itu juga meminta perlindungan secara tertulis dari Komnas HAM. Mereka mengaku tidak akan pulang ke rumah, jika belum mendapat jaminan keamanan.

Sejak pagi, satu per satu pengungsi dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya mendatangi kantor Perwakilan Komnas HAM Kalbar di Jalan Daeng Abdul Hadi, Pontianak. Sejumlah atribut berisi desakan terhadap aparat kepolisian turut meramaikan kunjungan pengungsi. “Kami mengungsi karena kami takut arogansi polisi. Tarik pasukan di kebun sawit,” tulis warga. 

Setelah beberapa jam duduk dan membentangkan sejumlah atribut bertuliskan kekhawatiran, permintaan dan tuntutan itu, warga kemudian berkumpul di beranda Kantor Perwakilan Komnas HAM Kalbar. Orang tua berada di posisi belakang. Sementara ibu-ibu dan mereka yang membawa anak, diarahkan duduk lesehan di bagian depan. Pertemuan itu, langsung diterima Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Kalbar, Kasful Anwar.

Semula, ibu-ibu yang duduk di antara kerumunan warga itu enggan menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke Komnas HAM. Beberapa menit kemudian, seorang ibu membuka cerita sambil menangis sesenggukan. 

“Saya target aparat. Banyak aparat di sana berkeliaran. Mereka kayak ndak punya perasaan. Kami hanya minta perlindungan,” kata salah seorang ibu yang belum diketahui namanya itu. Matanya merah, mengeluarkan air mata. “Anak-anak trauma, takut, sampai ndak berani sekolah,” tambahnya.

Mendengar keluhan itu, Kasful Anwar Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Kalbar meminta salah seorang perwakilan untuk meminta menceritakan detail permasalahan yang dihadapi puluhan warga. 

Warga bercerita bahwa peristiwa yang mereka alami itu merupakan buntut dari  aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu. Aksi yang bertujuan untuk menarik perhatian pemerintah agar menyelesaikan wilayah konsesi itu berakhir ricuh.  Saat itu terjadi aksi dorong antara masyarakat dan aparat.   “Saat aksi saling dorong itu, ada anggota yang terjatuh. Mereka (anggota_red) mengaku dianiaya. Padahal masyarakat juga ada yang dipukul,” kata Musri, perwakilan masyarakat. 

Setelah aksi itu, kata Musri, aparat melakukan sweeping mencari dalang warga yang diduga memicu keributan. Hingga saat ini, empat warga diamankan kepolisian. “Yang banyak sweeping anggota dari Polres Mempawah. Polsek juga ada lebih dari 10 personel. Sampai sekarang saya kurang tahu, apa alasan warga itu ditangkap,” ungkapnya. 

Warga lain, Purwaningsih (46) juga memberi kesaksian. Sampai kini, perempuan itu masih bertanya-tanya apa apa kabar suaminya Ponidi yang saat ini ditahan di Polres Mempawah. Dia menceritakan, saat polisi membawa suaminya, Ponidi tengah dalam keadaan sakit. 

“Kami sudah memohon agar dikasih waktu untuk berobat saat akan ditangkap. Tapi aparat tidak mempedulikannya. Suami saya tetap ditangkap,” kata Purwaningsih.

Ia menyebut, saat penangkapan suaminya, aparat tidak menunjukkan surat. Baru setelah dua hari ditangkap, surat penangkapan itu datang. Dia juga mengungkapkan, saat penangkapan, aparat yang tidak berseragam itu sempat mencekik suaminya. “Sampai sekarang anak saya masih trauma kalau melihat aparat pakai seragam,” ungkapnya. 

Zainal, warga lain, bahkan sempat bersembunyi ke hutan bersama anaknya Achmad Husaini yang baru berusia 2 tahun saat mengetahui dirinya menjadi target polisi. Selama di hutan belakang rumahnya itu, dia ketakutan, khawatir keberadaanya diketahui. Ditambah lagi, anaknya merengek meminta susu. 

“Lari ke hutan satu malam. Saya was-was juga dengar kabar polisi mau nangkap saya. Sekitar jam 01.00 tengah malam, anak saya nangis minta susu. Tapi saya ndak ada bawa apa-apa. Sedih saya, baru ini mengalaminya,” katanya sembari meneteskan air mata. Suaranya serak dan lirih. 

Saat anaknya merasa lapar, dia hanya bisa pasrah. Soalnya, jika pulang ia takut ditangkap polisi. Sambil menahan rasa takut dan iba terhadap anak, dia hanya bisa terduduk di atas rumput di hutan. “Saya ndak tidur selama menemani anak saya. Jam 03.00 subuh baru saya pulang, dan buatkan susu anak saya,” ungkapnya. 

Zainal tak tahu-menahu kenapa dirinya menjadi target polisi. Dia mengaku memang ikut berorasi saat demo berlangsung. Namun, dia beranggapan, selama orasi dia menggunakan bahasa yang tidak menyinggung siapa pun. 

“Saya memang ikut demo, tapi saya ndak ikut pemukulan. Sampai sekarang juga khawatir dan takut. Kalau sampai sekarang tidak ada titik terang bahwa masyarakat dijamin aman saat pulang, kami tidak akan pulang ke rumah,” ujarnya. “Anak saya yang satu lagi juga ndak sekolah.”

Tak hanya anak Zainal yang tidak sekolah. Dian Lestari, anak pasangan Purwaningsih dan Ponidi juga sudah tidak masuk sekolah selama sepekan ini. Usianya baru enam tahun dan baru masuk kelas I SD. Dian, kata ibunya, sampai sekarang masih trauma apabila melihat orang pakai seragam anggota. 

Purwaningsih sudah satu minggu ini mengungsi bersama sejumlah warga yang juga khawatir dengan keberadaan aparat di desa mereka. Hingga saat ini, dia dan sejumlah warga tidak akan pulang ke rumah, sebelum ada perjanjian tertulis yang menjamin keamanan mereka. 

“Kami meminta agar pihak terkait melindungi kami, agar tidak ada aparat yang berkeliaran di desa kami. Kami khawatir dan takut,” harapnya. 

Ayub, perwakilan dari Serikat Tani Kubu Raya menyebut, saat ini jumlah pengungsi yang sudah keluar dari desa mencapai 213 orang. Jumlah tersebut bisa jadi bertambah. Informasinya, hari ini juga ada yang dalam perjalanan ikut mengungsi. 

Ratusan pengungsi itu tersebar di beberapa tempat. Hitungan kasar Ayub, di Kuala ada 40 orang, Parit Bugis 60, Tanjung Raya 80 dan di Kantor Agra lebih dari 20 orang. 

“Anak-anak jumlahnya ada 25. Masih akan terus bertambah yang mau mengungsi,” sebut Ayub. 

Selama enam hari mengungsi, dia mengaku prihatin dengan anak-anak berusia sekolah. Akibat konflik ini anak-anak menjadi korban. “Anak ingin sekolah, tapi takut. Aparat masih sweeping di sana. Yang kami khawatirkan, habis takut timbul berani. 

Mudah-mudahanan dari Komnas HAM bisa memberikan ketenangan pada kami. Kalau hari ini belum ada putusan, masyarakat ndak mau pulang,” tegasnya. 

Bentuk Tim Investigasi 

Usai mendengar keluhan masyarakat, Kasful Anwar Kepala Kantor Perwakilan Komnas HAM Kalbar memastikan akan membentuk tim investigasi yang akan melibatkan pihak terkait, guna menelusuri apa yang sebenarnya terjadi.  

“Kami hanya bisa melaksanakan sesuai SOP (standard operating procedure/prosedur operasional standar). Apa yang bapak sampaikan dua permintaan saya harap agar tenang dulu.  Hak rasa aman bapak kami lindungi. Kami akan bentuk tim investigasi dengan Polri dan pihak perusahaan untuk menelusuri terkait keamanan masyarakat ini,” katanya. 

Soal keamanan, hari ini pihaknya akan berkoordinasi dengan Polda Kalbar. Setelah tim investigasi terbentuk, setiap laporan yang diterima akan dipelajari. Anwar kembali menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu lagi takut karena hak rasa amannya dijamin Komnas HAM. 

“Kalau seandainya ada penyiksaan ataupun ada indikasi tolong laporkan secara tertulis. Nama lengkapnya, satuannya siapa dia. Itu harus jelas. Kalau kami ndak tau siapa dia, sulit. Saya pikir, bapak bisa pulang ke rumah,” pesannya. Mendengar itu, beberapa masyarakat kompak menolak pulang sebelum ada perjanjian tertulis keamanan mereka terjamin. (Gus)

 

Berita Terkait