Kondisi Korban Sandera Baik

Kondisi Korban Sandera Baik

  Jumat, 1 April 2016 09:07
SELAMATKAN SANDERA: Ratusan personel TNI dari berbagai matra siap menyelamatkan sepuluh WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. JPG

Pemerintah Terus Komunikasi dengan Filipina

JAKARTA – Hampir sepekan sepuluh pelaut Indonesia disandera kelompok Abu Sayyaf. Namun, belum ada perkembangan berarti dalam upaya pembebasan awak kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 tersebut. Kabar baiknya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi memastikan bahwa seluruh sandera berkondisi baik.

Retno menyatakan, pihaknya terus berkomunikasi intensif dengan pemerintah Filipina dalam tiga hari terakhir. ’’Sejak pagi ini saya beberapa kali menelepon Menlu Filipina (Jose Rene Almendras, Red). Terakhir saya berbicara pukul 16.30 (WIB),’’ kata Retno saat dihubungi kemarin malam (31/3).

Kali pertama kabar penyanderaan itu disampaikan kepada perusahaan pemilik kapal melalui telepon pada 16 Maret lalu. Penyandera meminta tebusan sekitar Rp 15 miliar. Kebenaran kabar penyanderaan tersebut lalu dikonfirmasi Kemenlu RI tiga hari berselang.

’’Sampai saat ini semua sandera masih dalam keadaan selamat,’’ ucap Retno.

Dia pun mengaku terus memantau informasi pergerakan dan posisi para korban. Baik dari pemerintah Filipina maupun sumber-sumber lain. ’’Kami terus melakukan komunikasi kepada pihak keluarga ABK mengenai perkembangan tersebut,’’ lanjutnya.

Soal detail langkah-langkah yang akan dilakukan pemerintah Indonesia, Retno tidak mau menjelaskan. Yang pasti, keselamatan sandera merupakan yang utama. ’’Dukungan pemerintah Filipina sangat krusial bagi upaya yang akan kita lakukan. Indonesia menghargai kerja sama dan dukungan yang baik yang diberikan pemerintah Filipina sejauh ini,’’ terangnya.

Dari istana, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menegaskan bahwa pemerintah masih akan menunggu tindakan lebih lanjut dari pemerintah Filipina. ’’Kita bersabar menunggu dan masih koordinasi dengan pemerintah Filipina agar ada jaminan warga negara kita yang ditawan segera bisa dibebaskan,’’ terangnya di kompleks istana kepresidenan kemarin.

Selain itu, Pramono kembali menegaskan sikap pemerintah untuk tidak akan memenuhi tuntutan tebusan. ’’Pemerintah tidak mau ditekan dan tidak mau kemudian kalau harus membayar 50 juta peso (sekitar Rp 15 miliar),’’ tandas politikus PDIP itu.

Kepala Badan Intelijen Negara Sutiyoso kemarin juga dipanggil ke istana. Tujuannya, sangat mungkin membahas masalah itu. Sebelum menghadap presiden, pria yang akrab disapa Bang Yos itu menjelaskan, pihaknya masih terus berkomunikasi dengan Perwakilan BIN Luar Negeri (Perbinlu) di Filipina. Informasi-informasi yang didapat langsung diteruskan kepada pemerintah, termasuk dengan TNI. ’’Keselamatan sandera adalah prioritas utama,’’ tutur mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Secara politis, tutur Sutiyoso, tidak mudah membuat opsi menyerang langsung. Demikian pula apabila Filipina menolak tawaran bantuan dari Indonesia karena persoalan harga diri. Karena itu, sampai saat ini pemerintah mengutamakan jalan negosiasi agar para sandera bisa segera dibebaskan.

Bang Yos juga memastikan bahwa kondisi sandera masih aman. Hanya, pihaknya tidak tahu apakah mereka dijadikan satu atau dipisah-pisahkan. Dia juga menuturkan, yang menjadi sandera bukan hanya WNI. Ada pula sejumlah WNA yang ikut diculik. ’’Setahu kami ada 11. Ada Kanada, Belanda, Norwegia, dan Filipina juga,’’ ungkapnya.

Dari laporan media-media di Filipina, sandera saat ini ditahan di Kepulauan Sulu. Kawasan yang masuk Provinsi Sulu tersebut memang menjadi basis Abu Sayyaf. Armed Forces of the Phillippines saat ini memobilisasi pasukan dan intelijen mereka ke sana untuk operasi pembebasan. (bil/byu/c5/ang)