Kompetensi TKI Masih Rendah

Kompetensi TKI Masih Rendah

  Sabtu, 26 March 2016 10:37
Mochrizal

Berita Terkait

MEMPAWAH – Bergabungnya Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) perlu menjadi perhatian bersama. Keanggotaan pada MEA akan membuka kesempatan kerja bagi tenaga kerja dari negara lain untuk bekerja di Indonesia, begitu pun sebaliknya.

“Apabila kita membandingkan dengan realita yang terjadi, berdasarkan data ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, kompetensi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih rendah,” ujar Sekda Mempawah, Mochrizal di sela-sela kegiatan bimbingan teknis ketenagakerjaan di Mempawah, belum lama ini.

Mochrizal menjelaskan kompetensi angkatan kerja di Indonesia terkategori rendah karena masih didominasi lulusan sekolah menengah atas (SMA). Hal itu, menurut dia, merupakan tantangan yang perlu untuk disikapi bersama. Ia menuturkan salah satu solusi untuk mengatasi rendahnya kompetensi adalah dengan pelatihan kerja.  

“Sehingga akses dan mutu pelatihan harus ditingkatkan agar pekerja dan buruh mampu bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri,” sebutnya.

Mochrizal menerangkan untuk saat ini peningkatan kemampuan dan keterampilan dapat dilakukan di perusahaan atau secara mandiri. “Caranya dengan mengakses berbagai tempat pelatihan baik yang diselenggarakan oleh pihak swasta maupun Kementerian Ketenagakerjaan,” ucapnya.

Beberapa waktu lalu hal serupa juga diingatkan Wakil Bupati Gusti Ramlana. Menghadapi pasar bebas berbingkai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Gusti Ramlana mengingatkan masyarakat untuk menyiapkan diri. Menurutnya, perdagangan bebas antarnegara-negara ASEAN yang terjadi dalam MEA harus disambut dengan sumber daya manusia yang terampil, cerdas, dan kompetitif.

“Jadi persaingan akan semakin ketat. Siap tidak siap, mau tidak mau, itu akan terjadi. Mari kita tingkatkan kualitas,” ucapnya.

Ramlana mengatakan iklim kompetitif yang akan terjadi pada MEA memberikan beberapa kemungkinan sekaligus. Terbukanya pintu masuk bagi arus barang dan jasa dari luar, menurutnya, menjadi tantangan bagi seluruh anak bangsa. Jika tidak siap menghadapi itu, maka tantangan akan berubah menjadi ancaman.

“Namun jika kita menyongsong MEA dengan persiapan yang matang, maka itu semua bakal menjadi peluang yang menguntungkan. Beragam potensi akan masuk Indonesia,” sebutnya.

Terkait upaya mendongkrak kualitas sumber daya manusia, Ramlana menyebut tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, knowledge transfer. Menurutnya pengetahuan yang tinggi saja tidak cukup, namun harus didukung wawasan yang luas. Kedua, punya skill atau keterampilan. Dia menilai banyak orang yang punya ijazah pendidikan maupun keterampilan, tapi sayang kemampuan aslinya tidak terbukti. “Yang pintar ijazahnya, bukan orangnya.” Ketiga, Ramlana menyebut pentingnya punya sikap mental dan perilaku yang baik. “MEA harus dihadapi dengan attitude yang positif,” tukasnya.(wah)

Berita Terkait