Komit Tekan Anak Stunting

Komit Tekan Anak Stunting

  Selasa, 23 Agustus 2016 09:30

Berita Terkait

PONTIANAK - Ketua Tim Penggerak PKK Kalimantan Barat Frederika Cornelis memastikan pemerintah komit menekan angka anak stunting atau kerdil.

Stunting adalah ketika balita memiliki tinggi badan lebih pendek dari standar tinggi badan anak seumurnya. Stunting terjadi karena kurangnya pengetahuan dalam memberikan asupan gizi pada bayi dan balita.

Kondisi ini bisa juga disebabkan kurangnya pemberian ASI ekslusif pada bayi. Karena itu, lanjut dia, pemerintah berupaya mendorong kampanye ibu menyusui selama dua tahun.

Frederika menyebutkan dorongan itu sebagai bentuk dukungan dari pemerintah untuk menekan stunting dan menggalakkan para ibu agar menyusui anaknya hingga berusia dua tahun.

Sebagai mitra pemerintah, lanjut dia, PKK kerap mensosialisasikan ini dalam setiap kegiatan. Bahkan ini menjadi salah satu agenda program kerja di Pokja PKK.

“Ini penting karena berkaitan dengan kesehatan. Karena itu, kami tetap menyampaikan manfaat besar dari menyusui kepada masyarakat,” kata Frederika Cornelis kemarin. 

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Andy Jap menyatakan, pihak terus mengimbau agar setiap pihak ikut andil dalam mensukseskan program ASI ekslusif. Dengan jalannya program ini maka diharapkan bayi mendapatkan asupan gizi yang maksimal.

Imbauan itu, lanjut dia, sebagai bentuk dukungan pemerintah. Termasuk imbauan untuk semua kantor baik swasta dan negeri untuk menyediakan pojok laktasi.

“Kami bekerjasama dengan Disnakertrans agar perusahaan swasta bisa menyediakan pojok laktasi,” kata Andy siang kemarin.

Dia memastikan pojok laktasi yang disediakan ini harus nyaman bagi ibu yang menyusui.

“Jika tempatnya nyaman, kaum ibu betah menyusui anaknya,” tambahnya. Selain itupun, lanjut dia, dengan penyediaan pojok laktasi itu sebagai bentuk dukungan untuk para ibu agar membawa anaknya ke tempat kerja.

Sedangkan untuk pola menyusui, menurut Andy ada dua macam. Yakni bisa membawa anaknya langsung dan menyusui di pojok laktasi atau menggunakan sistem perah dan disimpan.

Dia menilai pemberian ASI Ekslusif ini menjadi point penting untuk perkembangan anak. Manfaat yang diperoleh itu tidak hanya untuk anak tapi juga ibu yang menyususi.

“Makanya ini harus jadi komitmen kita bersama. Dan selama ini sudah jalan. Manfaat ASI itu, tidak hanya murahnya, tapi berkaitan dengan peningkatan kualitas generasi yang akan datang,” ungkapnya.

Sementara itu cakupan ASI ekslusif di Kalbar mencapai 68 persen. Angka itu lebih tinggi dari nasional. Untuk beberapa wilayah, Pontianak masih menempati urutan tertinggi dalam cakupan ASI eksklusif. Begitu juga dengan Kabupaten Landak yang masuk dalam empat besar cakupan ASI ekslusif.

Kampanye Gizi Nasional (KGN) menyelenggarakan “Kampanye Dukung Ibu Beri ASI” di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat: 23- 24 Agustus 2016. Kegiatan ini melibatkan anggota Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), tokoh agama, tokoh masyarakat dan kader kesehatan dari wilayah Kabupaten Landak. 

Penyelenggaraan Kampanye ASI ini merupakan bagian dari upaya pengurangan stunting di Indonesia. Stunting adalah ketika panjang atau tinggi badan balita di bawah standar untuk anak seusianya. 

Saat ini 9,2 juta atau 37 persen balita Indonesia mengalami stunting. Di Kalimantan Barat 39,7 persen balita mengalami stunting. Pemberian ASI sangat berperan dalam pencegahan stunting. ASI adalah sumber asupan gizi pada balita yang memberikan kekebalan terhadap penyakit. Oleh karena itu balita yang sehat akan tumbuh optimal. 

Menurut para ahli ada beberapa langkah mudah untuk mencegah stunting. Di antaranya mencukupi gizi pada masa kehamilan, memberikan ASI selama enam bulan pertama dan memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) dari sejak usia enam bulan hingga dua tahun. 

Kemudian melanjutkan ASI hingga usia 2 tahun. Terakhir menyediakan lingkungan bersih dan sehat (bebas dari BABS-buang air besar sembarang) bagi balita. 

Rancangan Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan di tahun 2015-2019 menargetkan 80 persen bayi usia kurang dari enam bulan mendapat ASI saja (eksklusif). 

Riskesdas 2013 menunjukkan penurunan pemberian ASI eksklusif sejalan dengan bertambahnya usia pada enam bulan pertama. Saat bayi berusia 0 bulan pemberian ASI ekslusif sebesar 52,7 persen. Namun mengalami penurunan menjadi 30,2 persen saat bayi berusia enam bulan. 

Situasi pemberian ASI di Indonesia ini mendasari Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-I) yang dilaksanakan oleh IMA World Health untuk mendukung Kampanye Dukung Ibu Beri ASI.

Kampanye ini adalah bagian dari Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM). PKGBM adalah program Pemerintah Indonesia untuk mengurangi stanting yang didukung oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui Millennium Challenge Corporation. (mse)

 

Berita Terkait