Komika Jadi Sutradara

Komika Jadi Sutradara

  Sabtu, 31 March 2018 11:00
Soleh Solihun

Berita Terkait

BEBERAPA tahun belakangan, industri perfilman Indonesia diwarnai oleh para komika. Nggak hanya sebagai pemain, para komika juga terjun ke dunia balik layar. Sebut aja nama besar Raditya Dika dan Ernest Prakasa yang kerap wara-wiri di balik layar suatu film sebagai sutradara. Ada juga nama lain seperti Kemal Pahlevi, Soleh Solihun dan Pandji Pragiwaksono.

Melihat ramainya para komika yang kerap menghiasi industri film pun direspon secara positif oleh Soleh Solihun. Yup, komika yang udah menyutradarai film Mau Jadi Apa? (2017) ini mengungkapkan sudah sewajarnya para komika menjajal kemampuan di industri film karena hal itu merupakan hasil kerja keras dari dunia stand-up comedy.

“Kalo di luar negeri komika nggak hanya bergelut di stand-up comedy. Mereka juga main film. Industri film sangat terbuka untuk siapa aja yang mau berkarya. Komika juga dibutuhkan dalam film agar scenes yang ada menjadi menarik dan lucu. Nggak susah untuk mengarahkan komika dalam film karena mereka bisa improvisasi dari skenario. Tarifnya juga lebih ramah dengan kualitas yang terjamin,” ujar lelaki berusia 38 tahun ini.

Berakting dalam suatu film bukan suatu hal yang baru bagi Soleh Solihun. Lelaki berkacamata ini udah aktif menjadi aktor sejak tahun 2012. Namun, kesempatan untuk menyutradarai film baru dilakukannya di tahun 2017. Menurutnya, peran sutradara didapatkan karena produser memberikan kepercayaan untuk menyutradarai filmnya. 

“Sebagai aktor itu prosesnya hanya sebentar, selesai syuting ya udah nggak ada urusan lagi. Sedangkan jadi sutradara ini kerjanya dari awal pengerjaan film sampe selesai. Mulai dari konsep film, penulisan naskah hingga proses editing. Sehingga kesempatan menjadi sutradara ini menambah kesempatanku untuk berkarya lebih banyak lagi,” tambahnya.

 Saat seorang komika melakukan stand-up comedy, mereka hanya mengandalkan diri sendiri yang bisa menolongnya di atas pangung. Sementara jika dalam suatu film bakal ada banyak orang yang membantunya karena film merupakan kerjasama tim. Meski Soleh Solihun belum banyak pengalaman dalam menyutradarai film, namun pasti bakal banyak yang membantunya.

“Kendalanya lebih ke persoalan teknis, karena aku juga masih belajar. Tapi di lokasi syuting semuanya bekerjasama dengan baik. Tantangannya bagaimana menjaga kepercayaan dan karya filmku bisa dinikmati banyak orang,” jelas alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini.

Menurut Soleh karya film dari setiap komika memiliki ciri khas tersendiri. Ciri khasnya tergantung dari gaya lawakan dan taste personal. Tentunya hasil karya Soleh Solihun dan Raditya Dika berbeda karena kembali lagi kepada selera masing-masing. Seperti film terbarunya, yakni Reuni Z. 

“Basic aku emang suka sama karakter zombie. Jadi saat membahas konsep film zombie ternyata yang lain juga tertarik. Sekarang film Reuni Z udah masuk ke tahap music scoring. Reuni Z bakal tayang premiere tanggal 5 April mendatang,” pungkasnya. 

Menanggapi banyaknya film besutan komika, Tezar Haldy, salah seorang sineas Kalbar turut memberikan pendapatnya. “Kemampuan komika yang mampu menghibur menjadi daya tarik tersendiri di industri film. Para komika bakal dapat mengeksplorasi kemampuannya dengan media yang lebih leluasa dalam sebuah film. Selain itu, masing-masing komika mempunyai karakter khas yang kuat di panggung stand-up comedy mulai dari penampilan hingga logat bicara. Karakter tersebut menjadi daya tarik utama dari seorang komika hingga para produser dan sineas tertarik untuk mengajak mereka bergabung,” tutup Tezar. (ind)

Berita Terkait