Kombinasi Nature, Culture & Adventure

Kombinasi Nature, Culture & Adventure

  Rabu, 1 November 2017 09:35
FOTO BARENG : Sebelum mulai gowes, para peserta mengabadikan momen di Badau bersama Nugie

Berita Terkait

Bersepeda di Jantung Borneo

BERSEPEDA di Jantung Borneo menghadirkan suasana yang berbeda dari bicycle touring pada umumnya. Kegiatan ini mengkombinasikan nature (alam), culture (budaya) and adventure (petualangan). Di wilayah paling timur Kalimantan Barat ini peserta gowes melintasi jalan antar negara (Indonesia-Malaysia) dan menjelajah rute eksotis daerah konservasi. Zetizen turut mengikuti perjalanan para peserta. 

Syahriani Siregar, Kapuas Hulu

Trek Menanjak yang Menantang

TANJAKAN, turunan curam, tikungan tajam dan bebatuan. Begitulah trek yang dilalui peserta Bersepeda di jantung Borneo. Meski dirasa berat namun trek menanjak ini membuat peserta tertantang menyelesaikannya hingga finish. 

Dari titik start di Badau menuju rest area di Lanjak, peserta melewati trek beraspal dengan tanjakan tinggi. Iringan peseda menarik perhatian warga setempat di tepi jalan yang sesekali menyapa ramah sambil melambaikan tangan.

Musisi Nugie juga ikut gowes bersama peserta. Nugie yang sangat mencintai olahraga sepeda ini ikut mengampanyekan hidup sehat sekaligus menjaga alam dengan bersepeda. “Banyak cara untuk menghargai alam Indonesia, salah satunya dengan bersepeda sebagai olahraga yang ramah lingkungan,” ujar Nugie.

Semakin siang, kondisi bersepeda semakin berat. Wajah lelah peserta mulai terlihat di 20 km pertama. Ada yang berhenti sejenak dan mendorong sepedanya, ada pula yang harus menyerah karena ban sepedanya bocor. Satu per satu peserta dan sepedanya dinaikkan ke mobil yang disiapkan panitia.

Salah satunya Darmawan yang melambaikan tangannya ke mobil pengawalan di depan. Darmawan dan sepedanya pun harus dinaikkan ke mobil. “Tanjakannya luar biasa sekali. Saya juga nggak tidur semalaman jadi kurang fit,” ujarnya sambil ngos-ngosan. Peserta yang tergabung dalam Sintang Orang Utan Cycling Club ini istirahat sejenak di mobil yang tetap melaju. Namun, 1 km mendekati rest area, Darmawan memilih untuk diturunkan dan gowes hingga ke rest area. “Nggak ada tanjakan lagi jadi saya gowes saja,” lanjutnya.

Setelah istirahat dua jam di rest area, pukul 13.30 WIB goweser melanjutkan perjalanan. Beranjak dari rest area ke titik finish di bukit Kedungkang, medan yang ditempuh jauh berbeda dari sebelumnya. Kali ini bukan jalan beraspal tapi menanjak ke bukit dengan kontur tanah dan batu kerikil, dengan beberapa jembatan kayu. Jurang di kanan kiri membuat trek semakin ekstrem.

 “Waktu di trek yang pertama saya nggak ada pindah dari gigi tiga, tapi untuk trek kedua harus mangatur gigi sepeda dengan baik. Medannya berat sekali,” jelas Emilia. Namun peserta dari Jakarta ini merupakan salah satu peserta yang menyelesaikan misi gowesnya seratus persen tanpa naik ke mobil panitia. Sambil gowes menuju titik finish, sesekali peserta berhenti sejenak untuk selfie atau wefie, mengabadikan momen di alam Kedungkang yang indah. (*) 

Disambut Tuak dan Tarian Suku Dayak Iban

SETELAH di titik finish, peserta kembali gowes dengan trek menurun ke Rumah Betang Kedungkang. Prosesi adat menyambut para peserta. Suara pukulan tawak dan gendang dari perempuan Iban iringi langkah peserta masuk ke rumah betang. Di atas tikar yang dihampar di tanah berjajar sesajian penyambutan seperti nasi putih, telur, pulut atau beras ketan, kapur sirih, daun sirih, ayam hidup dan sesajian lainnya. Tetua adat Dayak Iban pun memulai prosesi. Segelas tuak menyambut peserta.       

                                                         

Menurut Lam (62), tetua adat yang menyambut peserta, setiap tamu yang datang harus selalu disamput dengan prosesi adat dan tuak. “Tradisi minum tuak ini dinamakan naik tuangan pertama. Tujuannya adalah untuk membuang pengaruh buruk (setan) jika ada, untuk yang tidak boleh meminum tuak cukup memegang gelasnya saja,” jelas Lam. (*)

Berita Terkait