Koleksi Istimewanya Foto John Lennon Telanjang

Koleksi Istimewanya Foto John Lennon Telanjang

  Sabtu, 22 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Pertengahan 2008, Barack Obama sedang sibuk-sibuknya berjuang agar terpilih menjadi presiden Amerika Serikat (AS). Roi mengajak serta keluarga ke negara yang tengah sibuk hajatan politik itu. Secara umum, tujuannya memang liburan dan merasakan atmosfer pemilu di sana.

Namun, secara khusus, Roi punya misi sendiri. Beberapa waktu sebelumnya dia memenangkan lelang di situs jual beli online, eBay. Produk yang dia dapatkan adalah plakat emas (gold record) milik The Beatles atas pencapaian penjualan 500 ribu copy album Yesterday and Today.

Kepada sang penjual, Roi meminta plakat yang berisi piringan warna emas dibingkai itu dikirimkan ke alamat temannya di Los Angeles (LA), AS. ’’Kalau kirim ke Indonesia, biayanya cukup mahal,’’ ujar Roi saat ditemui Jawa Pos di rumahnya, kawasan Bintaro Sektor 9, Jakarta, Jumat (14/10).

Roi yang berprofesi arsitek tidak mengetahui siapa sebenarnya sang penjual plakat emas tersebut. Padahal, dia menyadari, benda itu tidak dibuat ganda dan tidak diperjualbelikan. Bagi dia, itu kesempatan untuk menambah koleksi tentang The Beatles.

Di sisi lain, dia menyadari bahwa pada 2008 AS sedang terkena krisis ekonomi sebagai dampak sektor properti dan sisi keuangannya yang tidak terkendali atau yang disebut subprime mortgage. ’’Banyak yang butuh uang,’’ ucapnya.

Mengetahui situasi itu, Roi semakin bersemangat ke AS. Dalam bayangannya, akan banyak pencinta musik, toko musik, atau bahkan musisi yang menjual barang dengan banting harga. ’’Ternyata benar. Banyak barang aneh (terkait The Beatles dan musisi legendaris lainnya, Red) yang dijual.’’

Setiba di AS, Roi menyewa mobil jenis van agar bisa leluasa ke mana-mana bersama keluarga. Dari LA ke Las Vegas sampai ke Salt Lake City. Di setiap tempat yang dikunjungi, Roi selalu memisahkan diri dari sang istri dan anak untuk mencari sesuatu yang berbau musik.

Belanja dimulai ketika Roi memutuskan untuk membeli buku tentang musik dan musisi legendaris. Ternyata, di bagian belakang buku itu ada iklan yang menunjukkan toko penjual memorabilia musisi legendaris. ’’Ada 12 toko,’’ katanya.

Perburuan pun dimulai. Dari dua toko yang dia datangi, pencarian sudah memuaskan. Dia mendapat gitar dengan tipe yang sama persis dengan yang dipakai gitaris The Beatles George Harrison. Dia juga membeli action figure (boneka miniatur) The Beatles dan Queen.

Roi juga mendapat beberapa piringan hitam (vinil) album The Beatles serta sejumlah album musisi rock lawas lainnya. ’’Tidak sadar, lima koper saya penuh,’’ ungkap Roi, lantas tertawa.

Konsekuensinya, dia juga harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Total sekitar Rp 100 juta. ’’Untungnya istri dan anak-anak memaklumi. Mereka tahu saya senang The Beatles dan hobi mengumpulkan aksesorinya,’’ ujar pria kelahiran Surabaya, 9 Agustus 1961, itu.

Roi mengakui bahwa hobinya memang mahal. Karena itu, dia perlu meminta restu dari sang istri, Ina Amatul, agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. ’’Akibatnya, saya memang hampir tidak pernah punya tabungan. Habis untuk beli koleksi.’’

Tidak hanya memaklumi, Ina juga memberikan dukungan secara tidak langsung. Profesinya sebagai pramugari Garuda Indonesia kala itu memberi ’’jatah’’ terbang gratis ke luar negeri bagi Roi dua kali dalam setahun. Roi pun memanfaatkan fasilitas itu untuk liburan dan berburu memorabilia musisi legendaris. Di antaranya di AS, Australia, Belanda, Inggris, dan Hongkong.

Di Inggris, tempat utama yang dituju Roi tentu saja Liverpool. Selain ’’ziarah’’ ke kota kelahiran The Beatles, dia mengunjungi toko resmi grup band pelantun lagu Hey Jude tersebut. ’’Saya tidak pernah menghitung uang yang sudah saya keluarkan untuk beli koleksi-koleksi ini,’’ sebutnya sambil menatap ke sekeliling ruangan yang berhias pernak-pernik The Beatles.

Saat ini, koleksinya hampir memenuhi seluruh ruangan di rumahnya. Khusus barang-barang The Beatles berada di ruangan berukuran 8 x 7 meter di lantai 2 bangunan yang terpisah dari rumah utama.

Ruangan yang lain berisi gambar-gambar dan benda-benda musisi serta band terkenal lainnya. Ada gambar dan memorabilia Eric Clapton, Michael Jackson, Jimi Hendrix, James Brown, Aerosmith, Iron Maiden, Kiss, Queen, dan banyak lagi.

’’Saya memang senang banyak grup musik. Tapi, karena The Beatles yang paling populer, koleksinya paling lengkap,’’ kata alumnus arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

Meski lahir dan besar di Inggris, The Beatles memang mendunia. Tidak heran jika kemudian memorabilianya kebanyakan diproduksi di AS.

Koleksi barang-barang The Beatles milik Roi diklaim sebagai koleksi terlengkap di dunia. Mulai majalah, buku, vinil, action figure, satu set alat musik bekas, sampai hal sepele seperti korek api. Meski begitu, masih ada beberapa barang yang masih diburu. Di antaranya, mesin pinball The Beatles.

’’Nanti kalau ada rezeki akan saya cari,’’ ujarnya.

Koleksi pribadi dari personel The Beatles, yaitu foto dan boneka John Lennon bersama istrinya, Yoko Ono, dengan pose telanjang penuh, bahkan dia miliki. Koleksi spesial itu ditempatkan dalam satu kotak kaca bersama dengan kacamata John Lennon. Khusus untuk koleksi yang satu itu, Roi menyimpannya di ruang tengah rumah dan ditutup kain. Jadi, tidak setiap tamu bisa melihatnya.

’’Ini kan gambar saru,’’ tegas arsitek yang bekerja di PT Gununggaya Persada itu, lantas terkekeh.

Untuk majalah, mayoritas didominasi tentang The Beatles. Saking banyaknya, bila ditumpuk, koleksinya setinggi 5 meter. ’’Banyak hasil hunting saya bersama anak-anak. Banyak juga yang saya kumpulkan sejak 70-an,’’ katanya.

 

Berapa banyak jumlah piringan hitam koleksi Roi? Dibutuhkan upaya ekstra untuk mengetahuinya. ”Saya tidak pernah menghitung. Yang jelas, ribuan keping,” jawabnya sekenanya.

Roi menaruh minat mengoleksi benda-benda berbau musik mulai 1974. Saat itu dia baru masuk SMP. Sejak 1971–1972, di Surabaya mulai terasa era orang mengoleksi hal-hal berbau musik.

Ditambah lagi pada 1975, grup band Deep Purple manggung di Indonesia. Hal itu menambah euforia terhadap musik aliran rock. Di Surabaya Roi gemar menonton pertunjukan band Apotik Kali Asin (AKA) sampai The Rollies. ”Waktu itu orang senang koleksi. Di kamarnya pasti ada poster pemusik. Yang mampu bisa beli vinil, sedangkan yang uangnya pas-pasan cukup beli kaset,” tuturnya.

Tidak ada motivasi komersial dari kegiatan Roi mengumpulkan koleksi benda-benda The Beatles itu. Dia hanya mengidamkan adanya rumah musik sendiri. Desain penyimpanannya terinspirasi oleh gaya Hard Rock Café.

Proses mengumpulkan barang saja sudah memberikan keasyikan tersendiri bagi Roi. Terlebih jika barang yang dia incar berhasil didapatkan. ”Rasanya puas saja. Lega begitu,” akunya.

Sekarang dari beberapa ruangan yang sudah jadi, Roi bisa lebih menikmati hasil koleksinya. Hampir setiap malam sepulang kerja, dia duduk sendiri memutar vinil The Beatles atau musisi lain dengan nuansa berbeda.

”Kadang ada teman datang mau ikut menikmati sambil ngobrol-ngobrol. Ya sudah kalau di situ terus putar vinil gitu, bisa keasyikan sampai dini hari,” sebutnya.

Apresiasi dari pihak lain, terutama musisi, juga menjadi salah satu cara Roi menikmati koleksinya. Dia bisa lebih dekat dengan Ahmad Dhani, Piyu, dan banyak lagi musisi lain. Piyu bahkan pernah memborong majalah The Beatles miliknya dengan harga Rp 5 juta.

Ahmad Dhani yang penggemar Queen bertukar banyak koleksi terkait band dengan vokalis fenomenal mendiang Freddie Mercury itu. Roi kelak ingin mengundang banyak musisi legendaris Indonesia untuk datang ke tempatnya. Salah satunya Iwan Fals. Dia akan menyiapkan gitar yang sama persis dengan yang dimiliki pelantun lagu Bento itu untuk ditandatangani, kemudian dipajang.

Koleksinya juga sering dipinjam untuk sekadar pameran atau penghias lobi hotel yang sedang mengusung tema musik tertentu. Terutama The Beatles. ”Biar saja dipinjam,  yang penting dijaga. Kan bagus jadi banyak orang bisa menikmati,” imbuhnya.

Tak dikira, aktris sekaligus penyanyi lawas, Ida Royani, juga memanfaatkan koleksinya untuk kepentingan kliping. Kebetulan Roi memang punya majalah lama yang memuat kisah Ida Royani. ”Dipinjam sebentar, mungkin di-scan, habis itu dikembalikan. Baguslah kalau bermanfaat untuk orang lain,” ucapnya.

Lebih dari itu, bagi Roi, semua koleksi dan rumahnya yang cukup megah merupakan cara untuk menikmati masa pensiunnya kelak.

”Pensiun di rumah saja. Tidak usah pergi-pergi. Jadi banyak waktu di rumah,” tandas dia. (*/c6/ari)

 

Berita Terkait