Kokoh Dihantam Krisis, Lemah di Fasilitas

Kokoh Dihantam Krisis, Lemah di Fasilitas

  Kamis, 19 May 2016 10:20
BERTAHAN: Perajin rotan sedang membentuk rotan menjadi furnitur. Usaha kecil menengah ini mampu bertahan di tengah krisis, namun sering mengalami kendala terutama di fasilitas. DOK-PONTIANAK POST

Berita Terkait

Usaha mikro kecil menengah atau akrab disebut UMKM meski bukan menjadi lokomotif utama kegiatan ekonomi, namun paling kokoh bertahan. Dia mampu bertahan ditengah terjangan badai krisis. Meski sudah teruji, sebagian besar pelaku UMKM mengalami hambatan dalam pengembangan usaha mereka. 

Ramses L Tobing

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Peribahasa itu sepertinya layak disematkan ke usaha mikro kecil menengah (UMKM). Sekuat-kuatnya UMKM menahan badai krisis tetap saja ada kendala yang dihadapi agar terus eksis.

Di antaranya dalam pengemasan atau packaging produk. Sisi kemasan masih menjadi kendala produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak pelaku UMKM yang kebingungan bagaimana mengemas produk dengan baik sehingga berdayajual tinggi.

Hal inipun diakui Pendamping Inkubator Bisnis Bank Indonesia Rendra Oxtora. Dia menilai dari sisi kualitas produk UMKM asal Kalbar tidak kalah dengan produk dari luar. 

Akan tetapi berbanding terbalik dengan packaging atau pengemasan yang dibutuhkan pelaku usaha. Selama ini, jelas Rendra, untuk mendapatkan packaging yang menarik harus mendatangkan dari Jawa. Sementara jika mendatangkan dari sana harus dalam jumlah tertentu.

“Kalau mendatangkan dari sana harus dalam jumlah seribu pcs. Akibatnya UMKM down dan kalah dalam pengemasan,” kata Rendra dalam seminar Usaha Mikro Kecil Menengah mendorong Ekonomi Kalbar di Hotel Santika siang kemarin.

Namun ada juga pengemasan produk dalam jumlah sedikit akan tetapi harga yang dikeluarkan lumayan mahal. Sebaliknya bantuan pengemasan dari kementerian atau instansi terkait hanya bersifat stimulus.

Jika habis, maka pelaku akan kesulitan mengemas produk yang dihasilkannya. Untuk mengatasi itu, dia menyarankan pemerintah agar bisa menggandeng investor yang bergerak dalam bidang packaging. Bisa saja investor itu, ujar dia, membuka pabrik pengemasan di Pontianak. jika seperti itu maka bisa dijangkau oleh pelaku UMKM. “Ini berimbas pada mudahnya pemasaran produk,” ucapnya.

Selain itu pun dia mengingatkan agar dinas terkait baik di tingkat provinsi atau kabupaten memiliki database pelaku UMKM. Tujuannya agar pembinaan bisa diberikan secara merata, sehingga tidak ada yang dianaktirikan. “Jadi kalau ada pelatihan tidak hanya orang itu-itu saja yang datang. Padahal banyak pelaku UMKM di Kalbar yang bisa dijangkau,” ungkapnya.

Tidak hanya itu. Rendra menilai dengan adanya data base maka memudahkan pelaku UMKM untuk mendapatkan dana program kemitraan baik dari perbankan atau BUMN. Dana yang diberikan itu bisa menjadi penopang modal usaha pelaku UMKM. 

Dengan adanya data base itu, pihak yang ingin menyalurkan bantuan permodalan bisa meminta rujukan dari dinas Koperasi dan UMKM. Pemerintah pun, jelasnya, bisa mengetahui data real pelaku UMKM di Kalimantan. 

“Termasuk dengan permodalan yang diperoleh, bagaimana pembinaannya dan berapa banyak tenaga kerja. Banyak manfaat lain yang bisa diperoleh jika memiliki data base,” imbuhnya.

Di lain tempat, Ketua Lembaga Swabina Prakarsa Benyamin A Lesil menyebutkan ada dua infrastruktur penghambat dalam produksi untuk usaha pangan yakni air bersih dan listrik. Secara tidak langsung itu bisa menyebabkan biaya dasar dan mengakibatkan harga jual produk lebih mahal. 

Jika harga produk naik maka akan kesulitan bersaing dengan daerah lain. Sementara dari sisi kualitas tidak kalah saing bahkan peminatnya juga cukup banyak meskipun didominasi kalangan luar daerah.

“Karena air belum mendukung untuk kesehatan, terpaksa menggunakan air galon dan itu cukup mahal. Begitu juga dengan listrik. Tidak bermaksud menyampaikan listrik jelek tetapi pemadaman yang terjadi membuat pelaku usaha menggunakan alternatif lain yakni genset. Akibatnya harga produk jadi naik karena ongkos produksi juga besar. Akhirnya susah bersaing dengan daerah lain yang air bersih lain,” jelasnya.

Karena itu dia berharap pemerintah bisa konsen untuk meningkatkan fasilitas yang dibutuhkan. Menurutnya ada dua yang dibutuhkan untuk pelaku UMKM Kuliner yakni air dan listrik. Selama ini dua hal itu menjadi momok utama bagi pelaku UMKM agar bekerja lebih efisien.  Dan dia mengakui keluhan itu juga datand ari sebagian besar pelaku UMKM. Mereka produksi di rumah. (*)

Berita Terkait