Kisah Warga Demak yang Turut Jadi Korban di Mimika

Kisah Warga Demak yang Turut Jadi Korban di Mimika

  Sabtu, 18 November 2017 10:00
Caption: Bupati Demak H M. Natsir mengunjungi keluarga korban penyanderaan di Papua di Desa Kedondong, Kecamatan Demak Kota, kemarin.WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG

Hanya Bisa Makan Nasi Sekali dalam Sehari

Seorang warga mengabarkan kepada keluarga di Demak bagaimana sehari-hari mereka hidup dalam ketakutan. Stok logistik juga terus menipis. 

WAHIB PRIBADI, Demak

JARAK Kedondong ribuan kilometer dari Kimbely dan Bati. Namun, ketegangan karena diisolasinya warga dua desa di Mimika, Papua, oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) itu turut menjalar hingga ke desa di Demak, Jawa Tengah, tersebut. 

Sebab, ada 34 warga Kedondong, Kecamatan Demak Kota, yang turut terisolasi di kedua desa yang berada di Distrik Tembagapura itu. Seorang lainnya warga Desa Tanggul, Kecamatan Mijen (selengkapnya lihat grafis). Dua kecamatan itu berada di Demak. 

Yang menyebabkan keluarga sangat khawatir, komunikasi teramat sulit. Sedangkan stok logistik kian tipis.

”Kalau biasanya bisa 2 sampai 3 kali makan dalam sehari, sekarang mereka hanya bisa makan sehari satu kali. Itu pun hanya nasi, tidak ada lauk-pauknya,” ujar Kades Kedondong Sistianto.

Polisi mengumumkan pengisolasian dua desa itu pada 8 November lalu. Keterangan dari polisi, ada total 1.300 warga di dua desa tersebut. Perinciannya, 1.000 orang di Bati yang merupakan warga lokal dan 300 lainnya di Kimbely merupakan pendatang yang kebanyakan pendulang emas.

Hingga hampir dua pekan pengisolasian itu berlangsung, baru Karen, 1 di antara 34 warga Kedondong, yang bisa mengontak keluarga di Demak. Itu pun sembunyi-sembunyi.

”Sebab, kalau sampai ketahuan pihak KKB, bisa berbahaya,” kata Sistianto yang mengaku turut mendengar pembicaraan antara Karen dan Zubaedah, sang adik.

Dari Karen itulah diketahui bahwa stok makanan menipis. ”Pak Karen cerita, akses sandera keluar kampung yang dijadikan kawasan isolasi tidak bisa. Hanya ibu-ibu warga lokal yang diberi kesempatan berbelanja di luar kampung,” kata Sistianto.

Banti dan Kimbely adalah dua kampung yang mengapit sungai yang menjadi tempat pembuangan aktivitas tambang PT Freeport Indonesia. Para pendatang di Kimbely datang dari berbagai daerah:  Bugis, Makassar, Toraja, Kei, dan Jawa.

Banti dan Kimbely cukup dekat dengan Tembagapura, hanya 5 km. Namun, karena jalan yang berbatu, perjalanan bisa membutuhkan waktu sepuluh menit dengan menggunakan mobil off-road. Mobil biasa tidak bisa digunakan di sana.

Mayoritas warga lokal mendulang emas di sungai yang berhulu di tambang Freeport. Aliran air di sana lumayan banyak mengandung emas. Warga pendatang? Sebagian juga mendulang emas, sebagian lainnya berdagang. Mulai sembako, bahan bakar, sampai baju. Mereka berdagang di kios-kios.

Karen, dalam komunikasi yang hanya berlangsung sekali itu, juga menuturkan bagaimana dirinya dan teman temannya hanya bisa berdiam diri dan terus merasa ketakutan. Sebab, khawatir ketahuan kelompok bersenjata tersebut. Gerak-gerik mereka diawasi.

”Kamu (Zubaedah, Red) jangan menghubungi saya jika saya tidak menghubungi. Sebab, nyawa jadi taruhan,” ujar Sistianto menirukan ucapan Karen saat menelepon sang adik.

Menurut Bupati Demak H M. Natsir yang pada Rabu lalu (15/11) mengunjungi keluarga korban di Kedondong, memang banyak warga Demak yang bekerja mengais rezeki di Mimika.

”Bahkan, pasar di sana yang meramaikan juga wong Demak,” ujarnya.

Distrik Tembagapura sebenarnya adalah daerah yang terisolasi. Seperti dilaporkan Radar Timika (Jaringan Pontianak Post), untuk sampai ke sana, dari Timika, yang bisa digunakan hanya bus Freeport atau kendaraan aparat. Otomatis, barang-barang yang diperdagangkan warga pendatang di Banti dan Kimbely juga masuk melalui dua angkutan itu.  

Jarak Timika menuju Tembagapura sekitar 38 mil atau sekitar 61 km. Sepanjang Timika menuju Tembagapura, ada tiga checkpoint yang harus dilewati. Checkpoint Gorong-Gorong (Mil 27), checkpoint Bandara (Mil 28), dan checkpoint Kuala Kencana (Mil 32).

Sebagai catatan, mil itu diukur dari bibir pantai. Tembagapura sendiri berada pada Mil 66. Jalan dari Timika menuju Tembagapura sangat berat. Berbatu dan naik turun. Meski jaraknya hanya 61 km, perjalanan bisa memakan waktu 3 jam. Kendaraan tidak bisa melaju karena mayoritas menggunakan gigi 1.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Pemkab Demak Eko Pringgolaksito yang mendampingi Natsir ke Kedondong mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait di Papua soal nasib para warga Demak tersebut. Meski demikian, hingga kini belum ada informasi yang pasti nasib mereka.

”Mereka ini kan bekerja berkelompok dan tidak ada kaitannya dengan bekerja secara kelembagaan sehingga tidak masuk kerja sama antardaerah,” katanya.

Walau begitu, kata dia, disnakerin akan terus memantau perkembangan. Setelah ada kepastian pembebasan, Pemkab Demak mungkin akan menjemput mereka untuk kembali ke kampung halaman.

Itu pula yang diharapkan para keluarga korban di Kedondong. ”Mereka berharap pemerintah bisa membantu mengatasi masalah ini,” kata Sistianto. (*/c10/ttg)