Kisah Pendiri First Travel, Dulu Jualan Seprei dan Pulsa

Kisah Pendiri First Travel, Dulu Jualan Seprei dan Pulsa

  Jumat, 11 Agustus 2017 13:51
Anniesa Hasibuan dan Andika Surachman saat ditemui Jawa Pos pada Januari 2015 (DHIMAS GINANJAR/JAWA POS)

Berita Terkait

Kiprah First Travel sebagai biro wisata beserta umrah dan haji berbalik terbalik 180 derajat. Dari travel favorit karena bisa memberangkatkan umrah dengan biaya sangat murah, kini menjadi penuh masalah. Mulai dari gagal memberangkatkan jamaah, lini bisnis ditutup otoritas jasa keuangan, dan yang terakhir pemiliknya ditahan polisi.

Sosok dibalik First Travel adalah pasangan suami istri Andika Surachman, 32, dan Anniesa Desvitasari Hasibuan, 31. Pasangan muda itu berhasil bangkit dari keterpurukan dan penuh kekurangan, lantas menjadi bergelimang harta. Sebab, kurang dari lima tahun First Travel berhasil menjadi biro besar.

Bahkan, dalam satu tahun bisa menerbangkan 52 ribu jamaah dengan omset hampir satu triliun. Jawa Pos pernah melakukan wawancara khusus dengan pengusaha muda itu soal keberhasilannya dalam membangun First Travel. Ini pengakuan Andika dan Anniesa seperti yang termuat di koran Jawa Pos pada 16 Januari 2015.

---

KISAH sukses itu dibangun pasangan suami istri Andika Surachman, 29, dan Anniesa Desvitasari Hasibuan, 28. Berawal dari meninggalnya orang tua Anniesa pada 2008 yang selama ini menjadi salah satu sandaran hidup, sebagai pasangan muda yang hanya lulusan SMA, mereka kebingungan.

Beban yang mereka emban bukan hanya soal keluarga yang baru dibangun. Tetapi, masih ada adik-adik yang harus diurusi. Gaji Rp 250 ribu per minggu dari hasil magang di bank jelas tidak cukup. Motor yang dimiliki lantas digadaikan untuk mendapatkan pinjaman Rp 2 juta. 

''Kami buka konter pulsa, jual burger, seprai, dan bantal. Istri juga marketing alat kecantikan. Uang modal ludes, tanpa ada pemasukan berarti,'' ujar Andika saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta, kemarin. Untuk bisa bertahan, mereka sepakat menggadaikan rumah milik almarhum.

Tetapi, sama saja. Minimnya keahlian membuat usaha tidak berkembang. Ujung-ujungnya, rumah disita bank. Dengan modal minim sisa pengembalian bank, mereka lantas membuka sebuah CV yang bergerak di bidang travel. Tidak ada modal keahlian, mereka mengandalkan yellow pages dan telepon. ''Setiap hari kami telepon perusahaan yang butuh travel. Operasional jadi membengkak,'' ingatnya. Sampai 2011, belum ada titik terang soal bisnis travel itu. Selama berdiri, mereka jadi travel serabutan. Anak-anak sekolah atau orang sekadar mau beli tiket, semua dijalani.

Peruntungan mereka berubah ketika ada seseorang dari Bank Indonesia (BI) yang ingin umrah. Lantaran tidak ada job, mereka mengiyakan permintaan itu. Saat presentasi, mereka berdua hanya memperdalam ilmu melalui internet. Maklum, Andika maupun Anniesa belum pernah pergi ke Tanah Suci. Presentasi berhasil, 127 orang berangkat.

Bisa ditebak, karena tidak pernah umrah, mereka kebingungan saat melakukan pendampingan. Tekad yang kuat membuat mereka bisa melalui semua meski dengan cara yang unik. Misalnya, soal bagaimana mengenakan baju ihram, dia harus belajar kilat melalui orang-orang yang sedang umrah. ''Saya tidak tahu airport di Dubai itu seperti apa. Medan di Arab itu bagaimana. Saya bawa jamaah dengan ilmu seadanya dan bagi tugas dengan istri,'' kenangnya.

Pengalaman pertama dievaluasi. Mereka pun melakukan perbaikan. Klien dari BI lantas memperkenalkan mereka dengan pegawai PT Pertamina. Servis mereka ternyata dinilai bagus dan menular dengan cepat. Pengguna jasa mengalir. Mereka pun memberangkatkan 800-an jamaah pada 2012.

Setahun berikutnya, mereka berhasil memberangkatkan 3.600-an jamaah. Pada 2014, jumlahnya meningkat tajam menjadi 13 ribu jamaah. Tahun ini, yang sudah pasti diberangkatkan First Travel sebanyak 35 ribu orang. ''Omzet tahun ini USD 40 juta (sekitar Rp 500 miliar). Tapi, mungkin bisa menyentuh USD 60 juta (sekitar Rp 750 miliar),'' terangnya.

Anniesa mengaku tidak pernah menggunakan trik marketing khusus untuk meningkatkan jamaah. Misalnya, dengan mengajak artis atau ustad ternama dalam rombongan. Dalam waktu singkat, travel terus berkembang. Bahkan, saat ini sudah punya cabang di London, Inggris.

Dalam waktu dekat, mereka membuka cabang baru di Arab Saudi. Langkah itu penting supaya bisnis umrah yang mereka rajut makin kuat dan mendapat harga bagus untuk akomodasi dan kebutuhan lain. Meski sudah cukup kuat, ternyata mereka belum berani berbisnis travel di luar umrah. Anniesa mengatakan, sikap nekatnya dulu tidak mau diulang lagi meski berbuah kesuksesan. Kalau harus buka jalur selain umrah, mereka perlu tim yang matang. ''Nanti malah dianggap serakah,'' jawabnya.

(dim/c17/oki)

Berita Terkait