Kisah Kalapas Pasir Putih Hendra Eka ’’Jinakkan’’ Teroris , Tujuh Anak Buah Jaga 220 Napi Paling Berbahaya

Kisah Kalapas Pasir Putih Hendra Eka ’’Jinakkan’’ Teroris , Tujuh Anak Buah Jaga 220 Napi Paling Berbahaya

  Senin, 29 February 2016 07:46
Foto Ilham wancoko

Berita Terkait

Ribuan orang yang diduga teroris telah ditangkap. Sebagian besar sudah diadili dan tengah menjalani hukuman. Para pelaku yang paling berbahaya mendekam di penjara super-maximum security Pasir Putih, Nusakambangan, Jawa Tengah. Inilah kisah Hendra Eka Putra, orang yang paling bertanggung jawab dalam menjaga para pucuk pimpinan teroris tersebut. Ilham Wancoko, Jakarta

Rona semringah terpancar di wajah Hendra Eka Putra ketika ditemui setelah acara rapat koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di salah satu hotel di Jakarta Pusat, Kamis (18/2). Dia memang jarang ’’menghirup udara bebas’’ seperti siang itu. ’’Ya, lebih lega saja. Kan biasanya ketemu narapidana. Sekarang malah di hotel,’’ ujarnya.

Sejak bertugas di Pulau Penjara pada pertengahan 2014, Hendra meneguhkan hati untuk bersosialisasi dengan para terpidana. Satu per satu. Di setiap sel. ’’Saya dan para terpidana itu sebenarnya senasib. Saya juga dipenjara. Cuma, statusnya menjaga penjara,’’ tuturnya, lantas terkekeh.

Tentu banyak suka dan duka selama bersosialisasi dengan para napi. Namun, namanya juga bergaul dengan terpidana teroris, pasti lebih banyak dukanya. Misalnya, yang terjadi pada medio 2015. Kala itu Hendra berada di salah satu sel terpidana teroris yang sudah beberapa tahun mendekam di situ. Obrolan yang awalnya renyah berubah tegang.

Sebab, di tengah pembicaraan tersebut, terpidana itu menyebut nama sekolah anaknya. Juga, nama istri, tempat kerja istri, serta alamat rumah. Semua dibisikkan ke telinga Hendra.

Keringat dingin pun langsung mengucur. ’’Saya saat itu langsung panik,’’ ungkapnya. Hendra merasa terancam.

Namun, dengan pengalamannya yang sudah lima kali berpindah menjaga penjara mulai Lapas Jambi, Gorontalo, hingga Pasir Putih, dia bisa mengendalikan emosinya. Hendra tidak ingin membuat masalah semakin runyam.

Dengan berusaha tenang, dia meminta terpidana itu memahami bahwa dirinya juga melakukan jihad untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. ’’Saya ini di sini karena bertugas demi keluarga,’’ ujarnya.

Lalu, Hendra juga menanyai terpidana itu. ’’Kamu juga punya keluarga kan di luar sana? Kalau saya sendiri, keluarga siapa pun yang diancam, tentu akan saya lindungi,’’ katanya.

Mendengar jawaban Hendra, terpidana itu luluh juga. Keduanya sekarang justru lebih akrab.

Ancaman semacam itu hanyalah salah satu makanan sehari-hari Hendra. Dia menduga, terpidana yang kini menjadi temannya tersebut memiliki informan di luar penjara yang mengikuti keluar setiap sipir dan Kalapas. ’’Ya, mungkin temannya yang memberikan informasi. Tapi, hal semacam itu sudah biasa,’’ ungkapnya, lalu tersenyum.

Jumlah terpidana yang hidup di Lapas Pasir Putih dan harus ’’dijinakkan’’ Hendra mencapai 220 orang. Sebanyak 26 di antara mereka merupakan napi kasus terorisme, termasuk 16 terpidana mati. Di lapas itu ada dua terpidana kasus terorisme yang dianggap paling radikal, yakni Amman Abdurrahman dan Abu Bakar Ba’asyir.

Keduanya dipindahkan ke Pasir Putih pada Selasa (9/2). Saat pemindahan itu, Hendra mengobrol berjam-jam dengan mereka. Misalnya, dengan Amman. Hendra menuturkan, penjagaan dengan isolasi ketat diterapkan. ’’Saya jujur saja kepada Amman bahwa dia diisolasi, dimasukkan ke sel dan tidak boleh bersosialisasi dengan napi lain,’’ ujarnya.

Bahkan, makanan untuk lelaki yang diduga menjadi otak teror di Jalan Thamrin, Jakarta, itu harus diantar. Saat itu Amman sempat terdiam. Lalu, entah mengapa, dia menyebut penjagaannya seperti di Malaysia. ’’Ya, dia bercanda saja. Penjara di Malaysia kan memang sangat ketat,’’ tuturnya.

Pembicaraan dengan Amman tidak lebih dari itu. Dalam pikiran Hendra, dia juga khawatir Amman akan melakukan sesuatu. ’’Sebab, Amman ini saya nilai sangat cerdas. Dia bisa berbahasa Arab dan hafal Alquran. Bisa-bisa mencuci otak para sipir yang juga muslim,’’ paparnya.

Amman juga tidak boleh dikunjungi, kecuali oleh keluarga inti. ’’Hanya orang tua, istri, kakak, adik, dan anak yang boleh menjenguk. Kalau hanya sepupu atau teman, tidak boleh,’’ tegasnya.

Sikap Abu Bakar Ba’asyir jauh berbeda dengan Amman. Ba’asyir lebih ramah dan hangat kepada sipir serta Kalapas. Bahkan, Ba’asyir kerap mengirimkan surat kepada Hendra. ’’Lho, Uztaz Ba’asyir ini sering pakai surat kalau minta sesuatu,’’ ujarnya.

Salah satu surat yang ditulis Ba’asyir berisi permintaan agar tim pengacaranya diperbolehkan menjenguk dirinya. Dalam surat itu, Ba’asyir juga berharap kondisinya yang sudah menua bisa dimaklumi. Dia juga meminta keringanan dalam penjagaan.

’’Sebenarnya saya sangat kasihan dengan Uztaz Ba’asyir. Tapi, bagaimanapun saya harus menjalankan tugas. Saya berikan kelonggaran kepada dia. Tapi, ya sebisanya dan tidak melanggar aturan,’’ jelas Hendra.

Ada pula kejadian saat para sipir harus berpikir dua kali untuk bermasalah dengan napi terorisme. Misalnya, akhir 2015, ada terpidana terorisme yang memukul seorang sipir. ’’Saat itu napi tersebut minta damai. Ya sudah, anggap saja tidak ada masalah,’’ ungkapnya.

Namun, beberapa waktu kemudian, ada seorang sipir bernama Gagah yang memukul salah seorang napi terorisme. ’’Eh, napi itu minta qisas (hukuman setimpal, Red) atau diganti rugi dengan diberi unta. Itu kan aneh,’’ ujarnya.

Kehidupan sebagai Kalapas Pasir Putih sudah lebih dari dua tahun dijalani Hendra. Sejak 2014 itu, jumlah anak buahnya masih sama, yakni tujuh orang. Tujuh sipir tersebut harus bergantian berjaga dalam tiga sif selama seharian. Ada 220 orang yang dijaga yang memang merupakan narapidana yang dianggap paling berbahaya, brutal, dan kejam. ’’Ya, kami berupaya sekuatnya saja,’’ tuturnya.

Ibaratnya, kalau Lapas Pasir Putih diserang dari luar, pasti akan sangat mudah tembus. ’’Kami ini tidak punya senjata. Jumlah sipir minimal dan berada di pulau terpencil. Jangankan diserang dari luar, dari dalam saja juga kalah jumlah,’’ tegas mantan Kalapas Jambi tersebut.

Pekerjaan yang menuntut waktu 24 jam sehari itu memang bisa menimbulkan stres tingkat tinggi. Belum lagi persoalan gaji yang cekak untuk sipir. Dengan risiko yang begitu tinggi tersebut, orang biasa pasti akan ogah menjadi sipir. ’’Saya biasanya melepas stres dengan mengobrol dengan sipir dan napi. Tapi, banyak sipir yang juga gagal mengatasi stres,’’ paparnya.

Salah seorang sipir yang sakit karena tidak kuat bertahan di Pasir Putih adalah Kasi Kamtib Harnowo. Baru sepekan menjaga Lapas Pasir Putih setelah pindah dari Lapas Purwokerto, Harnowo jatuh sakit. ’’Ya, dia terserang stroke. Saya menduga karena memang kondisi Pasir Putih yang ekstrem. Tidak ada orang biasa. Hanya napi dan sipir,’’ ujarnya.

Kendati dengan legawa menerima tugas sebagai Kalapas, Hendra punya usul agar upaya deradikalisasi di lapas bisa lebih efektif. Selama di penjara, para terpidana kasus teror menghabiskan sebagian besar waktu mereka hanya di dalam kamar. Sama sekali tidak ada kegiatan yang berguna untuk kehidupan mereka selepas di penjara.’’Saya menduga, itulah yang membuat terpidana kembali ke jalan terorisme,’’ katanya. (*)

Berita Terkait