Kisah Brigadir Firmansyah Jadi Pahlawan di Pelosok Negeri

Kisah Brigadir Firmansyah Jadi Pahlawan di Pelosok Negeri

  Selasa, 21 November 2017 10:00
MENGAJAR: Brigpol Firman, anggota Bhabinkamtibmas Polsek Air Besar, Kabupaten Landak saat mengajar di SDN 13 Dusun Bareh, beberapa waktu lalu. Selama satu tahun terkahir, ia mengabdikan diri menjadi guru di dua sekolah di Dusun Bareh dan Dusun Kelupuk Dait, Kabupaten Landak.MIFTAHULKHAIR/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Mengabdikan Diri Jadi Guru di Desa Terpencil

Berangkat dari keperihatinannya, polisi berpangkat Brigadir Polisi ini aktif menjadi guru di dua sekolah di Dusun Bareh, Desa Sekendal selama satu tahun terakhir. Cita-citanya, untuk memajukan pendidikan di daerah terpencil, kini sudah menampakkan hasil.

 

MIFTAHUL KHAIR, Ngabang

 

“SEKARANG sudah saatnya setiap pihak untuk peduli pendidikan, siapapun dan sekecil apapun bentuknya,” kata Brigadir Polisi (Brigpol) Brigpol Firmansyah pada kegiatan Pertemuan Amandemen Kinerja dan Akuntabilitas (KIAT) Guru di SDN 13 Bareh, Dusun Bareh, Desa Sekendal beberapa waktu lalu.

Ya, beliau adalah seorang polisi yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di Polsek Air Besar. Senyum dan sapa tidak lepas dari sosok yang akrab disapa Pak Firman setiap kali ia bertemu dengan masyarakat di Kecamatan Air Besar, utamanya di Desa Semuntik dan Desa Sekendal yang meruan desa binaan Brigpol Firman. Sebagai seorang polisi, ia memang menjadikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri, sehingga masyarakat tidak ada yang canggung dengannya yang selalu terlihat bersemangat ketika sudah berkumpul bersama.

Kedatangannya ke SDN 13 Bareh bukan tanpa alasan, ada satu tujuan bersama masyarakat untuk memajukan pendidikan di Dusun Bareh, Desa Sekendal. Di Desa Sekendal sendiri, terdapat dua sekolah dari dua dusun yang berbeda, yakni SDN 13 Bareh dan SDN 16 Kelepuk Dait yang terdapat program KIAT Guru. Dimana masyarakat, orang tua dan pemerintah desa dilibatkan untuk memajukan kualitas layanan guru di sekolah.

Tantangan dari dua sekolah ini pun berbeda. SDN 13 Bareh memiliki faktor utama lemahnya pendidikan di sana adalah kurangnya tenaga pendidik, kurangnya kesadaran orang tua untuk mendampingi anak belajar di rumah, dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga sarana dan prasaran di sekolah. Sementara untuk SDN 16 Kelepuk Dait adalah kurangnya keterbukaan sekolah dengan masyarakat dan kurangnya kesadaran orang tua untuk mendampingi anak belajar di rumah.

Hal tersebutlah, yang mendorong Brigpol Firman untuk turut hadir pada kegiatan pertemuan amandemen, yakni pertemuan program KIAT Guru yang membahas tentang evaluasi janji guru, orang tua, dan masyarakat yang telah dilaksanakan selama kurang lebih 6 bulan program KIAT Guru berjalan. Di SDN 16 Kelepuk Dait, kegiatan pertemuan amandemen dilakukan pada tanggal 9 September 2017 dan tanggal 16 September 2017 di SDN 13 Bareh.

Pada pertemuan di SDN 13 Bareh,  Brigpol Firman menyampaikan pesan-pesan beliau agar masyarakat bersama-sama menjaga fasilitas sekolah. Namun, tam keprihatinan di mata beliau saat melihat kondisi SDN 13 Bareh yang kekurangan guru. Saat itu di SDN 13 Bareh, memiliki 4 guru yang terdiri dari 1 kepala sekolah, 1 guru PNS, dan 2 guru honor, namun 1 guru PNS tersebut tidak aktif mengajar, sehingga di sekolah tersebut yang benar-benar bisa hadir di sekolah hanya 2 guru honor tersebut.

“Hal tersebut mempengaruhi kemampuan dasar anak dalam membaca, menulis, dan berhitung di SDN 13 Bareh yang masih sangat jauh tertinggal. Banyak anak-anak kelas IV hingga kelas VI yang seharusnya sudah bisa membaca, masih kesulitan mengenal abjad, banyak pula dari mereka yang masih belum bisa mengerjakan soal matematika dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian,” kata Brigpol Firman saat menceritakan pengalamannya kepada wartawan harian ini, Senin (7/11) malam. (*)

Berita Terkait