Kisah ”Pelarian” Bocah Perempuan di Wonogiri yang Berakhir di Pelukan Keluarga Baru

Kisah ”Pelarian” Bocah Perempuan di Wonogiri yang Berakhir di Pelukan Keluarga Baru

  Minggu, 7 January 2018 09:55
Bocah (kanan) aktif mengikuti pengajian.

Berita Terkait

Saat Bertemu Ayah Justru Menangis Histeris

RR melarikan diri di tengah malam dan ditemukan di dekat kuburan. ”Ayah angkatnya” sudah menganggap dia seperti anak sendiri dan siap menyekolahkannya setinggi-tingginya.   

IWAN DWI WAHYU ANGGORO, Wonogiri

DINI hari, gelap, dekat kuburan, dan ada seorang bocah perempuan menangis. Wajar kalau sopir truk itu ketakutan. Langsung memilih tancap gas. 

Truk melaju dari selatan (arah Pracimantoro) ke utara (arah Eromoko), dua kecamatan di Wonogiri, Jawa Tengah. Tapi, dasar ”berjodoh”, beberapa jam kemudian, selepas subuh, saat melintas lagi di tempat yang sama, si sopir kembali bertemu si upik (bocah perempuan) tadi.

Barulah dia berani mendekat. Dan, kemudian membawanya ke Pasar Eromoko. ”Saat pertama ditemukan, anak ini terlihat depresi. Seperti ketakutan,” kata Koko Pujiatmoko saat menceritakan tentang RR, upik yang kini dalam pengasuhannya itu.

Dua bulan setelah ditemukan selepas subuh itu, kondisi RR sudah pulih. Ditemui di rumah Koko pada Selasa (2/1), si upik berusia 9 tahun itu tampak ceria. Lincah dan banyak tersenyum. Tak ubahnya bocah-bocah lain pada umumnya. 

”Dia anak yang baik dan penurut,” kata Koko.

Penemuan RR kala itu menghebohkan seisi Pasar Eromoko. Muspika setempat juga sampai turun tangan. 

Bayangkan saja, anak perempuan sekecil itu melarikan diri saat malam. Kemudian ngendon di tempat yang biasanya justru dihindari banyak orang: kuburan. 

Beruntung, meski lebih banyak diam dan tampak ketakutan, siswi kelas IV SD itu masih ingat desa tempatnya berasal. Ternyata dia dari Sumberharjo, desa yang terpisah sekitar 5 kilometer dari Desa Eromoko. 

Begitu mengetahui ada warganya yang ditemukan dalam kondisi depresi, Koko langsung bergegas ke Pasar Eromoko. Di sana dia memastikan bahwa si ”upik kuburan” itu memang benar salah satu warganya.

Koko otomatis juga kenal keluarganya. Persoalannya, ketika hendak diantarkan pulang, RR justru menangis histeris. 

”Tidak mau pulang. Pak Camat Eromoko yang pagi itu juga ada di lokasi langsung memerintahkan supaya anak ini saya bawa ke rumah sambil menunggu perkembangan,” kata bapak dua anak itu.

Maka, sejak saat itu RR pun jadi ”anak angkat” Koko. Koko pun memperlakukan RR seperti anak sendiri. Dia diberi kamar sendiri. Meski sebenarnya rumah Koko juga minim kamar. 

”Selama di rumah saya, tidur di kamar anak saya laki-laki yang kelas VI SD. Anak saya tidur sama saya di kamar saya,” katanya.

Beberapa waktu setelah RR tinggal bersama Koko dan keluarga, datanglah sang ayah. Koko tentu saja mempersilakan RR dibawa kembali ke rumah orang tuanya. Dengan catatan, anak tersebut mau dan bersedia diajak kembali ke rumahnya. 

Ibunda anak itu telah lama meninggal. Sehari-hari dia diasuh sang ayah yang berusia sekitar 50 tahun dan bekerja serabutan.  

”Saat bertemu ayahnya, dia (RR) justru histeris, ketakutan, menangis sejadi-jadinya, lalu RR saya suruh masuk ke rumah lagi,” katanya. 

Koko menduga RR takut dengan ayahnya. ”Tapi maaf, saya tidak bisa mengatakan lebih banyak tentang masalah ini karena itu adalah masalah keluarga. Bagaimanapun juga, orang tua RR itu warga saya,” ujar Koko.

Selama RR tinggal bersama Koko, Koko juga tak berusaha mengungkit mengapa RR nekat melarikan diri dari rumah. Dia tak ingin bocah tersebut terluka kembali. 

Koko justru berusaha membuat RR melupakan segala persoalan yang dihadapi. Menghadirkan lingkungan yang sewajar mungkin bagi si upik.  Hasilnya ternyata mujarab. Perlahan tapi pasti, RR ceria kembali. Padahal, tak sekali-dua kali Koko mendengar omongan bahwa RR anak yang sulit diatur. 

”Selama di sini dia penurut. Saya hanya menduga kalau anak ini kurang kasih sayang saja,” katanya.

Di sekolah, prestasi akademiknya juga tergolong bagus. Di rumah keluarga barunya itu, RR juga larut dalam berbagai aktivitas. Termasuk kebiasaan membaca Alquran setelah salat Subuh dan salat Magrib.

”Setiap kali istri saya pengajian, juga ikut. Kami ada acara keluarga, juga ikut,” katanya. 

Lalu, sampai kapan merawat RR? Koko belum mengetahuinya. Tapi, dia menyatakan siap jika memang menampung RR selamanya. 

”Saya yakin sangat sanggup membiayai sekolah RR hingga mencapai cita-citannya,” katanya. (*/c10/ttg) 

Berita Terkait