Kirab Budaya; Pertunjukan Seni dan Adat Beragam Etnis

Kirab Budaya; Pertunjukan Seni dan Adat Beragam Etnis

  Senin, 23 Oktober 2017 09:32

Berita Terkait

Momen Merawat Kerukunan

Sejak lampau Kota Pontianak didiami berbagai suku bangsa, seperti Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Madura, Batak, dan banyak lagi suku lain. Kota yang merayakan hari jadi ke-246 ini berusaha merawat kerukunan dan keharmonisan masyarakat melalui Kirab Budaya, Minggu (22/10). 

----

PAGI kemarin, Jalan Gajah Mada Pontianak dipadati ribuan warga. Mereka turun ke jalan bukan untuk pergi berbelanja seperti minggu-minggu biasanya. Mereka ingin menyaksikan Kirab Budaya, pertunjukan berbagai budaya dari berbagai suku yang mendiami kota ini

Berkumpul di depan Gedung Graha Pena Pontianak Post, mereka begitu antusias meski matahari terik menyinari. Jalan yang dikenal dengan banyak warung kopinya itu kali ini ditutup untuk memberi kesempatan peserta menampilkan pakaian adat, pertunjukan seni, bahkan ikon budaya.

Etnis yang hadir mulai dari etnis Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Batak, Madura dan etnis lain. Semua tak ketinggalan merayakan hari jadi Kota Pontianak. 

“Kota Pontianak ini kan multietnis, masyarakatnya harus sering berinteraksi supaya bisa mengenal karakter budaya masing-masing,” kata Sutarmidji Wali Kota Pontianak didampingi Wakil Wali kota Edi Rusdi Kamtono saat memberi kata sambutan. 

Menurut orang nomor satu di Pontianak ini, mengenal karakter budaya itu sangat penting. Jika tidak ini akan menjadi persoalan. Dia mencontohkan, dalam kalimat guyon misalnya. “Kalau kata orang Pontianak itu, palak kau itu jadi biasa saja bagi masyarakat. Begitu juga ndas mu bagi masyarakat Jawa,” katanya. 

Sebaliknya, bagi masyarakat dari etnis lain akan berbeda merespon guyonan tersebut. Karena itu, jika sudah sering berinteraksi hal-hal kecil seperti guyonan tersebut tidak akan memunculkan konflik.

“Hal-hal yang kecil seperti guyonan selalu menjadi masalah karena jarangnya berinteraksi. Mereka tidak tahu akar budaya masing-masing. Akhirnya satu anggap kasar, yang satu mengganggap biasa saja,” kata Sutarmidji yang mengenakan baju khas Melayu, Teluk Belanga.

Menurut wali kota dua periode ini, interaksi antaretnis sangat penting dibangun. Pemerintah kota sendiri gencar membangun taman untuk membangun interaksi antar etnis. 

“Saya senang di Taman Digulist itu ada Tionghoa, ada Batak, Melayu, ada Dayak dan lain-lain. Dulu kan susah, hanya etnis tertentu yang ada di taman. Sekarang sudah membaur. Ini bagus. Ke depan akan dibuat taman yang lebih bagus supaya mereka terus melakukan interaksi itu,” ucapnya.

Sutarmidji berharap kirab budaya ini menjadi ajang kebersamaan bagi semua etnis dalam membangun kerukunan di Kota Pontianak. Ia pun menginginkan ke depan kirab budaya ini rutin diadakan. “Saya mau ke depan itu kirab budaya ini dialihkan ke pinggir sungai dari Alun-Laun Kapuas sampai ke Jembatan Kapuas 1. Lalu diiringi kirab melalui sungai,” katanya.

Kirab budaya ini sudah dua kali dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak pada peringatan hari jadi Kota Pontianak. Tahun lalu pagelaran budaya juga ditampilkan agar masyarakat kota saling mengenal budaya masing-masing.

Kirab budaya kali ini menjadi penting dalam upaya merangkul dan membangun kerukunan antar masyarakat yang tinggal di Pontianak. Apalagi kota yang dilalui Sungai Kapuas ini menginjak usia yang sudah tidak lagi muda yaitu 246 tahun. 

Ketua POM (Persatuan Orang Melayu) Kalbar, Agus Setiadi yang mengikuti kirab budaya kali ini mengatakan, kirab budaya dapat merangkul berbagai suku bangsa yang ada Kota Pontianak sehingga dapat menampilkan ciri khas kota yang multietnis.

Menurutnya, Kota Pontianak yang identik dengan nuansa melayu ini hendaknya tidak lupa akan identitas kemelayuannya sehingga unsur melayu harus tetap ada. Namun, ia juga menekankan bahwa melayu sangat mencintai keragaman. 

“Melayu sangat pluralis, sangat toleran oleh karena itu orang melayu banyak menikah dengan Jawa, Sunda, Batak, dan lain-lain. Oleh karena itu kita mendukung budaya-budaya lain berkembang di Kota Pontianak. Apa pun suku kita, kita tetap orang Pontianak,” kata Agus yang tampil mengenakan baju teluk belanga dan tanjak di kepalanya. 

Yandi, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Pontianak yang hadir pada kirab budaya bersama komunitas etnis Tionghoa juga menyampaikan apresiasi tinggi atas event ini.  Menurutnya, semua masyarakat yang tinggal di Kota Pontianak yang terdiri dari berbagai etnis harus bersama-sama dalam membangun daerah.

 “Melalui kirab budaya ini kita ingin sampaikan bahwa Bhinneka Tunggal Ika dan kerukunan masyarakat Indonesia itu bisa dilihat di Kota Pontianak. Kota Pontianak ini miniatur Indonesia yang harus kita tampilkan kepada masyarakat,” katanya. 

Yandi yang tampil mengenakan baju khas etnis Tionghoa berharap ke depan kirab budaya dapat dikemas lebih spektakuler sehingga mampu menjadi ikon wisata. 

“Ke depan harus semakin baik. Ditampilkan dengan berbagai metode yang lebih menarik lebih bisa mendatangkan wisatawan, tidak cuma lokal tapi juga internasional bisa melihatnya. Ini bisa menjadi ikon salah satu pariwisata di Pontianak yang harus dikembangkan,” tuturnya.

Kirab budaya ini berlangsung hingga tengah hari. Interaksi masyarakat yang beragam terjadi sepanjang kegiatan, baik di kalangan peserta maupun warga yang menonton. Salah satu yang menarik perhatian yakni ketika berbagai jenis buah ditampilkan oleh Paguyuban Masyarakat Jawa menjadi rebutan warga. (gef/bar)    

KIRAB BUDAYA: Berbagai etnis mengikuti Kirab Budaya memeriahkan Hari Jadi ke-246 Kota Pontianak, Minggu (22/10). Acara ini dihelat untuk menjaga kerukunan warga lintas etnis. HARYADI/MUJADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait