Kiprah Sukses WNI di Luar Negeri , Mantan TKI Jadi Pengusaha Tempe di Malaysia

Kiprah Sukses WNI di Luar Negeri , Mantan TKI Jadi Pengusaha Tempe di Malaysia

  Rabu, 10 February 2016 08:27
TEMPE MASYONE: Mawardi, saat menunjukan produksi tempenya yang dijual di negara tetangga. RAMSES NEGARA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Siapa yang tak kenal tempe. Makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai. Asli produk Indonesia. Namun siapa sangka, jika makanan ini juga terkenal di Kuching Malaysia. Ramses L Tobing, Kuching

ADALAH Mawardi, orang yang mempopulerkan tempe di negara tetangga. Tempe Masyone nama produknya. Untuk Indonesia, tempe bukan makanan yang asng di mulut. Ia menjadi santapan yang wajib hadir ketika makan.Tetapi, tidak mudah bagi Mawardi untuk mengenalkan tempe di negara tetangga. Apalagi secara umum, tempe tidak dijual dalam packingan khusus. Hanya dibungkus daun pisang dan makanan ini laris manis di pasar-pasar tradisional, jika di Indonesia.

Beda halnya dengan Malaysia. Warga di negara ini tidak sembarangan ketika membeli makanan. Termasuk tempe. Produk itu akan laku jika dikemas secara menarik. Ada standar uji yang menandakan aman untuk dikonsumsi.“Dengan packiging ini lebih aman. Setidaknya ketika masyarakat membeli mereka bisa lebih percaya, karena ada yang bertanggungjawab terhadap produk yang dijual,” jelas Mawardi, kepada wartawan koran ini.

Karena itulah, butuh tiga tahun untuk mengenalkan panganan asal Pulau Jawa ini. Tetapi untuk promosinya tidak lepas dari bantuan pemerintah setempat juga. Dia mendapatkan dukungan modal dan pelatihan untuk pengemasan. Ia satu-satunya warga Indonesia yang lolos dalam program pelatihan di Malaysia.Ide membuat tempe bukan dari Mawardi. Justru dari Masyone, rekannya di perantauan di negera tetangga. Sayangnya Masyone tidak betah di negeri orang. Akhirnya dia memutuskan pulang ke kampung halaman. Tinggalah Mawardi yang meneruskan ide tersebut.

Sebaliknya Mawardi memilih meneruskan ide itu karena melihat pangsa pasarnya cukup bagus. Dia pun membaca pangsa pasar masyarakat. Dia membuat brand sendiri. Dibuatkan juga rak khusus saat memajang tempe ini di swalayan. “Karena pangsanya bagus, saya meneruskan hingga ke proses pembuatan ini dan mengemas makanan ini dengan tampilan menarik. Pada intinya produk harus ada brand guna menarik pembeli,” ujar dia.

Namun tidak mudah baginya untuk mengenalkan produk ini. Ditolak sudah jadi santapan ketika mengajukan ijin pemajangan Tempe Masyone ini. Ketika itu, 30 kilo kedelai yang diproduksi menjadi tempe dan laris terjual sudah cukup bagus.

Berita Terkait