Kiprah Sukarelawan di Bumi Khatulistiwa

Kiprah Sukarelawan di Bumi Khatulistiwa

  Rabu, 6 December 2017 10:00
SUKARELAWAN : Gabungan sukarelawan dari berbagai komunitas ikut membersihkan Sungai Kapuas dalam kegiatan Indonesia Clean Up Day beberapa waktu lalu. ISTIMEWA

Berita Terkait

Ada Ratusan Komunitas, Anggotanya Ribuan Orang

Sukarelawan di seluruh dunia memperingati International Volunteer Day (IVD) yang jatuh pada 5 Desember, kemarin. Di Pontianak, para relawan juga tak kalah eksis. Peran mereka sangat besar dalam membantu pemerintah memacu perkembangan kota.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

SAAT ini, Pontianak menjadi salah satu kota yang memiliki jumlah sukarelawan cukup banyak. Selain memiliki personel pemadam kebakaran (damkar) swasta terbanyak se-Indonesia, peran sukarelawan di sektor lain juga luar biasa. Ini membuktikan, bahwa jiwa sosial masyarakat yang terkenal dengan keberagamannya ini masih sangat tinggi.  

Sedikitnya ada seratusan komunitas yang bergerak secara sukarela di berbagai sektor. "Memang secara spesifik belum bisa dipastikan. Tapi komunitas (sukarelawan) yang aktif ada sekitar ratusan, jika dijumlahkan mungkin lebih dari seribu orang," ungkap salah satu pegiat sukarelawan Pontianak Beny Than Heri (34) kepada Pontianak Post, Selasa (5/12). 

Beny menjadi salah satu orang yang terlibat secara langsung dalam perkembangan gerakan sukarelawan. Ia menceritakan para pegiat sosial di ibu kota Kalbar ini mulai tumbuh sejak 2009. Ketika itu ia masih berstatus mahasiswa.

"Akhir 2009 belum banyak komunitas sosial. Saya sendiri baru membentuk Komdas (Komunitas Darah Segar). Waktu itu yang lagi naik daun paling komunitas atau klub-klub motor dan fans club saja," kenangnya. 

Hingga akhirnya di tahun 2010 komunitas sukarelawan mulai ramai bermunculan. Termasuk komunitas-komunitas dari Pulau Jawa yang memiliki perwakilan atau cabang di daerah. Puncaknya, mulai benar-benar hidup di tahun 2013 ke atas, sampai sekarang. 

Kini, hampir semua sektor atau bidang memiliki sukarelawan masing-masing. Baik itu di sektor lingkungan, sosial, budaya, pariwisata, sejarah, pendidikan serta banyak lagi. Komunitas seolah menjadi media bagi anak-anak muda dalam menyalurkan energi positif untuk kepentingan masyarakat luas. 

"Misalnya di sektor lingkungan saja cukup banyak, ada Organik Pontianak yang khusus mengurus sampah, lalu ada Angkuts, Gerakan Senyum Kapuas dan lain-lain," ucapnya.  

Beny menilai sejauh ini peran sukarelawan cukup besar berkontribusi dalam kemajuan kota. Hampir setiap bulan, bahkan setiap minggu sukarelawan dari berbagai komunitas berkolaborasi mengadakan berbagai kegiatan. Mereka juga sudah terbukti mampu bekerja sama secara aktif dengan pihak pemerintah maupun swasta. Ini menjadi bonus, karena melihat negara-negara maju peran sukarelawan begitu konkret. "Artinya sukarelawan cukup memberikan pengaruh dan perubahan yang baik untuk kota ini," katanya.

Meski pemerintah sudah sangat terbuka, Beny berharap kolaborasi itu bisa lebih ditingkatkan secara maksimal. "Karena sayang jika kawan-kawan sukarelawan ini punya program bagus, tapi terbentur pendanaan," tambahnya.

Menurutnya, Kota Pontianak sendiri sudah menjadi barometer pergerakan sukarelawan di Kalbar. Bahkan secara nasional pun tak kalah dengan kota-kota maju lainnya. "Kalau se-Indonesia tidak kalah juga, hanya di luar mungkin duluan saja tereksposnya, kan lebih dekat dengan media. Tapi saya pikir intinya sama saja," paparnya. 

Di hari sukarelawan se-dunia tahun ini, Beny berharap para pegiat sosial baik lewat komunitas atau individu bisa terus berkontribusi secara konkret untuk masyarakat. Ia mengajak kepada komunitas yang ada agar memiliki program kerja secara khusus, sehingga kinerjanya terukur. "Jadi kontribusi yang dilakukan bisa diukur dampaknya. Memang ada yang sudah seperti itu dan ada juga yang masih cair, ada yang terprogram ada yang insidentil," terangnya.

Sarjana kehutanan lulusan Universitas Tanjungpura (Untan) ini juga berharap pemerintah bisa membuat fasilitas berupa gedung yang menjadi pusat atau wadah para sukarelawan berkumpul. Jika demikian ketika ingin menggelar pertemuan, mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya. "Meski tanpa itu pun kami tetap jalan. Tapi saya pikir perlu, agar proses kolaborasi dan elaborasi dengan pemerintah lebih jelas," imbuhnya.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan mampu menjadi penghubung antara komunitas dengan pihak perusahaan. Karena tak semua komunitas terutama yang baru, memiliki jaringan relasi yang kuat. Sebagai contoh lewat dana CSR bisa mendukung program yang dimiliki komunitas tersebut. Tentu sesuai dengan bidang yang diinginkan perusahaan masing-masing. "Itu belum pernah ada. Ini penting dan itu peran pemerintah," tutupnya. 

Terpisah, pendiri rumah belajar Khatulistiwa Berbagi, Anggia Anggraini juga menyampaikan pendapatnya terkait fenomena yang terjadi di kalangan sukarelawan. Menurutnya, saat ini masih banyak volunteer bergerak karena ada maksud dan kepentingan tertentu secara pribadi. 

"Jadi bukan panggilan dari hati. Jika dalam kegiatan lembaga atau komunitas itu ada keuntungan, dia akan bergabung. Setelah selesai misinya dia tidak timbul lagi," katanya.
Ia pun melihat masih banyak anak muda atau remaja yang apatis, sehingga mereka anti dalam kegiatan-kegiatan sukarelawan. 

Ia berharap, ke depan bisa lebih banyak remaja atau anak muda yang aktif menjadi volunteer. Paling tidak dimulai dari lingkungan sekolah, rumah atau masyarakat terdekat masing-masing. "Karena dengan menjadi volunteer kita berkegiatan positif. Masa muda akan jadi lebih baik jika diisi dengan kegiatan-kegiatan positif dan sosial," pungkasnya. 

Seperti diketahui, sebagai wadah berbagi informasi mengenai kegiatan sukarelawan, di Pontianak ada yang namanya Forum Relawan Bahagia. Di sana para pegiat sosial bisa bertukar pikiran, saling bertanya dan berbagi informasi. Anggotanya juga tak hanya para sukarelawan namun juga perwakilan dari berbagai instansi dan stakeholder. 

Menanggapi geliat sukarelawan di kota ini, Wali Kota Pontianak Sutarmidji sangat mengapresiasi kepedulian mereka. Tak ada penghargaan khusus untuk mereka, karena memang menurut Midji, bukan itu yang mereka harapkan. 

Merespon dan mewadahi kegiatan mereka adalah yang terpenting. "Saya mengapresiasi dan berterima kasih kepada mereka yang sudah secara sukarela berkegiatan di Pontianak. Jumlahnya akhir-akhir ini juga semakin banyak, kami sangat-sangat terbantu," pungkasnya.**

Berita Terkait