Kiper Filipina Quincy Kammeraad setelah Banjir Simpati dari Indonesia

Kiper Filipina Quincy Kammeraad setelah Banjir Simpati dari Indonesia

  Minggu, 10 September 2017 08:00
Pecundangi: Quincy Kammeraad saat dilewati kapten Indonesia Rachmat Irianto (7/9). DIKA KAWENGIAN/Jawa Pos

Berita Terkait

Saya Ingin Main Sekali Lagi untuk Perbaiki Kesalahan 

Quincy Kammeraad menangis ketika diusir dari laga melawan skuad Merah Putih karena dirinya sangat kecewa dengan performa rekan-rekan setim. Dukungan yang meluber dari Indonesia membuat dia terharu dan memotivasinya untuk bangkit. 

ADITYA WANY PRAHARA, Yangon

WAJAH anak muda itu sudah terlihat cerah kemarin (8/9). Ramah, banyak senyum. Tak tersisa lagi gurat kesedihan atau sisa-sisa tangis. 

”Waktu itu saya cuma jengkel dengan rekan-rekan setim. Mereka tidak paham taktik pelatih dan bermain sangat buruk,” kata Quincy Kammeraad, anak muda tersebut, di City Golf Resort Hotel, Yangon. 

”Waktu itu” yang dia maksud adalah saat dirinya mengawal gawang Filipina di laga melawan Indonesia dalam Piala AFF U-18 Kamis malam lalu (7/9). Pada menit ke-90 duel yang berlangsung di Stadion Thuwunna, Yangon, itu, kiper 16 tahun tersebut harus menjatuhkan penyerang Indonesia M. Rafli di kotak penalti. 

Filipina sudah tertinggal 0-7 ketika itu. Juga, karena Kammeraad adalah orang terakhir di pertahanan Filipina saat kejadian tersebut berlangsung, kartu merah dari wasit Thant Zin Oo harus diterimanya. 

Yang terjadi setelah Kammeraad diusir itulah yang kemudian viral ke mana-mana. Dia melepas jersey dan sarung tangan, menuju ruang ganti sembari menangis. 

Dengan segera, momen yang tertangkap kamera televisi itu menyebar ke mana-mana dan merobek hati banyak orang. Dukungan dan simpati pun langsung mengalir. Baik melalui akun Twitter kiper blasteran Belanda-Filipina itu maupun akun Instagram. Mayoritas dari warganet Indonesia. 

Kammeraad mengaku memang benar-benar down saat itu. Dia merasa sangat dikecewakan rekan-rekan setimnya di laga yang akhirnya dimenangi Indonesia 9-0 tersebut. ”Saya berkali-kali mengingatkan untuk menutup pergerakan lawan. Tapi, mereka malah seolah mengikuti gerakan lawan,” ungkapnya.

Saat jeda, dengan kondisi tertinggal 0-5, dia mengaku sudah memberikan semangat kepada rekan-rekannya untuk bangkit. ”Saya bilang kepada rekan setim, ’Ayolah, hentikan tindakan konyol kalian. Jangan ada gol lagi yang bersarang ke gawang kita.’ Mereka mengangguk saat mendengar kalimat saya,” imbuh Kammeraad.

Tapi, yang terjadi di babak kedua ternyata sama buruknya dengan di 45 menit pertama. Kiper bernomor punggung 1 itu marah. Dia sudah tidak tahan lagi dengan serangan yang terus diluncurkan Feby Eka Putra dkk hingga akhirnya harus menjatuhkan Rafli.

Padahal, laga melawan Indonesa itu merupakan debutnya bersama timnas Filipina. Sebelumnya, saat melawan Brunei Darussalam (5/9), Filipina menurunkan Jessie Reil sebagai palang pintu terakhir. Laga tersebut berkesudahan dengan skor 3-2 untuk Brunei. 

Namun, dia masih punya catatan bagus. Kammeraad berhasil melakukan 9 penyelamatan dari 16 tembakan yang mengarah ke gawangnya. Bayangkan kalau semua penyelamatan itu gagal dia lakukan. 

Performa apik plus dramatisnya momen ketika dia menangis di bawah guyuran gerimis itulah yang membuat simpati mengalir deras. Rata-rata berisi dukungan seperti stay strong, be strong, atau we support you from Indonesia. 

Foto-foto di Instagram-nya pun langsung banjir komentar positif. Sampai berita ini ditulis, follower-nya sudah lebih dari 10 ribu.

”Saya sangat tidak menyangka bahwa masyarakat Indonesia justru memberikan dukungan kepada saya meski kebobolan sebanyak itu. Saya sangat terharu. Banyak komentar mereka yang berbunyi, ’Jangan menyerah, tegakkan kepalamu,’ yang sangat membantu saya untuk bangkit,” ujar pemain Global Cebu FC itu.

Dari negaranya sendiri, dia justru tidak mendapat dukungan semasif itu. Maklum, di Filipina, popularitas sepak bola memang jauh di bawah basket. 

Sayang, peluang Kammeraad untuk bisa kembali berlaga di turnamen tahunan tersebut menipis. Kartu merah membuat dia absen dalam laga Filipina melawan Vietnam sore ini (9/9) di Stadion Thuwunna. Di pertandingan terakhir melawan tuan rumah Myanmar (11/9) pun, dia tidak yakin bahwa pelatih Jose Maria Anoche bakal memberikan kepercayaan kepadanya.

Peluang Filipina untuk melaju ke babak berikutnya juga bisa dibilang habis setelah dua kekalahan beruntun. ”Padahal, saya ingin memperbaiki kesalahan. Semoga saya masih bisa bertanding satu kali lagi,” ucap pemain kelahiran Amsterdam itu. (*/c11/ttg)

Berita Terkait