Kiat Melobi Allah, Banyaklah Beristighfar

Kiat Melobi Allah, Banyaklah Beristighfar

  Senin, 8 February 2016 10:17

PONTIANAK- Seorang muslim mendekat kepada Allah SWT bukan hanya untuk meminta saja, Karena Allah sudah pasti memberi. Karena Dia Maha Rahman dan Rahim. Kita mendekat, menghiba, melobi supaya Allah SWT tidak marah dan tidak murka. Agar Allah memberi kita dengan penuh cinta. Demikian disampaikan ustaz Dr Saiful Bahri, Lc, MA saat berbagi kiat Melobi Allah pada jemaah Majelis Quran di Masjid Raya Mujahidin, kemarin (7/2).
Pakar ilmu tafsir lulusan Universitas Al-Azhar Cairo itu menyampaikan lima kiat melobi Allah SWT. Pertama, meningkatkan semangat beribadah dan berdoa. "Dalam surah Alfatihah yang kerap kita baca dalam setiap salat , dikatakan hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta. Bahwa hanya Allah SWT tempat mengadu segala persoalan dan kegundahan," ujarnya.

Suatu ketika Nabi Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala."

Menurutnya, keamanan yang paling utama yang dimaksud Nabi Ibrahim adalah keamanan akidah, agar generasi penerus memiliki akidah yang bersih dan lurus. "Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Cara kita membangunkan anak tidur. Kita kerap katakan, nak bangun siap-siap sekolah. Akhirnya hari libur anak kita malas bangun pagi karena tidak sekolah. Padahal seharusnya kita katakan nak bangun Salat Subuh. Kan tidak ada libur kalau Salat Subuh?" jelasnya.

Kedua, banyak bertasbih. Membangun perspektif subhanallah. Musibah bisa jadi skenario dari Allah untuk kebaikan kita. Allah Maha Rahman dan Rahim. Tanpa disadari, ada hikmah tersembunyi dari setiap peristiwa yang kita alami.

Ketiga, harus lebih banyak bersyukur. Mengapa mendekat kepada Allah hanya pada saat masalah? Mendekatlah kepada Allah setiap saat. Itulah yang membuat masjid menjadi tidak produktif. Masjid seakan-akan menjadi tempat pertemuan "orang-orang kalah". "Di shaf depan mereka yang sudah pensiun. Di belakangnya, orang yang terlilit utang. Di sampingnya, anak muda yang galau dan patah hati. Dan seterusnya," sindirnya.

Keempat, aktif melakukan rekayasa kebaikkan sosial. Melakukan dakwah. Awalnya memang kadang kita perlu dipaksa melakukan sebuah kebaikkan. Namun lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan baik. "Contoh sederhana saat bulan Ramadan. Semua orang terkondisikan dan semangat melakukan berbagai amal ibadah. Salat berjamaah, tilawah, qiyamulail, puasa dan sebagainya. Mengapa? Karena banyak yang melakukan. Akan menjadi sangat terasa berbeda dan berat pada bulan lainnya," katanya.

Kiat melobi Allah yang terakhir, yaitu banyak istighfar. Setelah salat fardu, apa yang pertama dilakukan? Istighfar. Padahal kita baru saja melakukan sebuah amal kebaikkan. Salah satu manfaat istighfar adalah Allah swt mengampuni dosa kita dan menutup segala aib kita.

Istighfar dapat memberikan pengaruh sesuai dengan niat orang yang beristighfar. Setiap orang boleh beristighfar untuk meminta harta, keturunan, kesuksesan, serta sebagai bentuk taubat kepada Allah swt.

Suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal ingin menghabiskan malamnya di suatu masjid. Tetapi penjaga masjid melarangnya. Bahkan ingin mengusir ulama yang begitu tenang, berwibawa dan terhormat tersebut. Singkat cerita, kemudian ada seorang tukang roti melihat beliau kemudian menawarkan tempat untuk bermalam.

Di rumah tukang roti itu beliau dimuliakan. Imam Ahmad mendengar tukang roti itu terus-menerus beristighfar. "Sesungguhnya sepanjang aku membuat adonan dan mengaduk-aduk roti, aku biasa untuk beristighfar. Demi Allah, tidaklah aku memanjatkan sebuah permohonan melainkan diijabahi kecuali satu permohon," ujar tukang roti tersebut. Imam Ahmad kemudian bertanya, "Apa itu?" Tukang roti menjawab, "Aku ingin melihat langsung Imam Ahmad bin Hambal."

Maka Imam Ahmad pun berkata, "Akulah Imam Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, aku telah diarahkan unuk bertemu denganmu." (*)