Kian Tersisih oleh Laju Moda Transportasi Massa

Kian Tersisih oleh Laju Moda Transportasi Massa

  Rabu, 13 April 2016 09:28
TUKANG BECAK: Jejeran Tukang Becak sedang menunggu pelanggannya yang masih setia menggunakan jasa becak. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Nasib tukang becak mungkin seperti perputaran rodanya. Kadang di atas, kadang juga di bawah. Masa kejayaannya telah habis termakan waktu. Kini tukang becak harus beradu nasib dengan kerasnya perkembangan transportasi massa.

HARYADI, Pontianak

MARSUDI dan beberapa tukang becak lainnya sedang duduk di kursi kendaraannya. Terkadang  ia melemparkan gurauan kepada rekan sesama tukang becak yang  masih setia menunggu pengguna jasa roda tiga tersebut. Walaupun hari sudah menjelang siang. Mereka masih tetap semangat melawan panasnya terik matahari Pontianak.

Hampir dua puluh tahun Marsudi menekuni pekerjaan sebagai tukang becak. Kondisi becak miliknya pun mulai kusam termakan zaman, hiasan-hiasan di transportasi yang termasuk ramah lingkungan tersebut mulai hilang bertanggalan. Namun pria berkumis tebal tersebut tetap setia dengan pekerjaan yang sudah menghidupi empat anak dan seorang istrinya.

Keringat Marsudi mengalir di kening hitamnya yang terpapar panas matahari. Cucuran keringatnya tidak sebanding dengan pendapatannya siang itu. Ia baru mengumpulkan uang sebanyak lima belas ribu rupiah yang didapatnya dari pagi. Maklum hingga matahari di atas kepala, Marsudi baru mendapatkan satu tarikan penumpang di kawasan pasar Siantan.

“Kalau dulu hasil menarik becak masih lumayan, kalau sekarang agak susah,” ungkapnya.

Setiap hari lokasi mangkal Marsudi dan tukang becak lainnya berada  di pasar tak jauh dari penyeberangan feri Bardan - Siantan. Jejeran becak yang dominan berwarnah merah dan beroda tiga cukup mudah dilihat oleh warga yang melintas. Mangkal di lokasi yang strategis ternyata  bukan jaminan untuk banyak mendapatkan penumpang. Kondisi tersebut juga dikeluhkan oleh rekan Marsudi.  

Syair yang memiliki cerita tak jauh berbeda dengan Marsudi. Meski semangat menguber penumpang yang tak pernah surut, tapi pengguna jasanya nampak sudah jauh berkurang.

"Saya pernah tidak dapat penumpang sama sekali seharian,"  cerita Syair. Ada getir pada suara yang keluar dari mulutnya.

Banyaknya kepemilikan kendaraan bermotor dan kemudahan orang berhubungan lewat alat media telekomunikasi  ternyata menghempaskan para tukang becak. Namun Syair, menyiasati hal tersebut dengan tak pernah menolak berapapun besaran pembayaran yang diberikan oleh penumpang, terutama orang tua dan anak-anak. Bahkan ketika ada yang tidak membayar atau kurang, ia tak memintanya.

"Saya ikhlas, mungkin mereka benar-benar tak punya uang," kenang syair.

Kisah  Marsudi dan Syair sepertinya dapat mewakili pengemudi becak lain yang masih menawarkan jasanya kepada masyarakat. Nasib tukang becak kini yang kian terpuruk, di tengah tuntutan kebutuhan keluarga yang semakin meningkat. 

Harapan Marsudi dan Syair, becak masih banyak peminatnya jangan sampai kendaraan yang memilik karakteristik non-polutif ini justru tergerus dengan transportasi masa lainnya. 

keberadaan becak yang sudah kental menjadi bagian kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Dengan potensinya sebagai alternatif moda transportasi yang ramah lingkungan dan pelengkap sistem transportasi yang ada, transportasi becak layak dipertimbangkan untuk dilestarikan dan terus ada.(*)

Berita Terkait