Kian Banyak Sekolah Minta Disinggahi Kuda Pustaka

Kian Banyak Sekolah Minta Disinggahi Kuda Pustaka

  Kamis, 10 December 2015 09:52
BUKU: Anak-anak dari salah satu TPQ di Desa Serang, Purbalingga memanfaatkan bacaan dari Kuda Pustaka milik Ruri. PUTUT JOKO UTOMO/RADAR BANYUMAS

Berita Terkait

Tiga kali dalam seminggu Ridwan Sururi berkeliling bersama kudanya membawa ratusan buku menyambangi sekolah dan TPQ. Koleksinya juga ikut membantu para petani mengetahui cara beternak dan menanam sayur yang baik.   PUTUT JOKO UTOMO, Purbalingga

PAGI masih berselimut kabut ketika Ridwan Sururi sudah bersiap bersama si Luna. Pelana telah dipasang. Begitu pula kotak kecil berisi buku yang diletakkan di punggung kuda putih tersebut.”Ini masih ada yang ketinggalan, Pak,” kata Indriani Fatmawati, putrinya, sembari membawa beberapa buku dari dalam rumah di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, itu.

Pada pagi yang dingin di lereng Gunung Slamet pada Kamis (3/12) itu, Ruri –sapaan akrab Ridwan Sururi– akan membawa Luna dan ratusan buku tersebut melanjutkan kegiatan yang dilakoninya sejak Januari lalu. Berkeliling ke sejumlah sekolah dan TPQ di Serang dan desa tetangga. ”Kalau Luna hanya membawa sekitar 200 buku, selebihnya ada di rumah. Karena itu, banyak juga yang ke rumah untuk meminjam buku,” kata ayah empat anak itu.

Ruri memang tak menyangka, apa yang dilakukannya dalam 11 bulan terakhir itu bakal menarik banyak perhatian. Dan, ini yang menggembirakannya, meletupkan kegairahan membaca.Rumah pengelola delapan kuda titipan orang itu tak pernah sepi didatangi anak-anak dan orang dewasa. Mereka bertandang untuk membaca atau meminjam buku.Permintaan dari sekolah-sekolah di sekitar lereng Gunung Slamet agar bisa didatangi Kuda Pustaka juga terus berdatangan. ’’Tapi, tak semua bisa saya penuhi karena keterbatasan tenaga dan waktu,” kata pria 41 tahun tersebut.
Dalam seminggu, Ruri hanya bisa tiga kali berkeliling dengan si Luna, yaitu pada Selasa, Rabu, dan Kamis. Hari-hari lainnya dipergunakan suami Kartiah tersebut untuk mencari nafkah.
Mulai merawat kuda dan ayam sampai menyewakan kuda untuk para wisatawan di Lembah Asri Wisata, Serang, pada Sabtu dan Minggu. Terkadang, turangga yang dia rawat juga disewa untuk keperluan pre wedding.
Semua itu tentu menyedot waktu dan tenaga Ruri. Dia harus menghidupi istri dan empat anak dari pekerjaan yang penghasilannya kadang tak tentu. Di kala hujan, misalnya, hasil menyewakan kuda di Lembah Asri Wisata otomatis minim karena jumlah turis tak banyak.     
Padahal, di luar kebutuhan keluarga, Ruri juga harus menyisihkan pendapatan untuk membayar biaya sewa jasa di Lembah Asri Wisata. Semacam retribusi agar dia bisa tetap menyewakan kuda di sana.”Satu tahunnya dikenai Rp 1.250.000,” katanya.Tapi, tak sekali pun semuanya itu sampai mengganggu jadwal rutinnya menjadi ”ronin” dunia literasi: berkeliling menyebarkan ilmu lewat buku-buku yang dibawanya.
Padahal, tak sepeser pun dia menerima bayaran atas apa yang dilakukannya. Semua buku yang dia bawa gratis untuk dibaca atau dipinjam.    Kuda Pustaka ala Ruri bermula dari ide temannya dari Jakarta yang juga pencinta kuda, budayawan Nirwan Ahmad Arsuka. Nirwan yang juga menggagas ”Perahu Pustaka” di Polewali, Mandar, Sulawesi Barat, mengusulkan agar Ruri ”membuka” perpustakaan keliling.
”Saat itu, saya langsung mengiyakan dan meminta izin kepada pemilik kuda untuk menggunakan Luna berkeliling membawa buku. Si pemilik ternyata setuju,” ceritanya.Ruri antusias menyambut ide Nirwan itu karena sejalan dengan harapannya. Pria lulusan SMP dan paket C setara SMA itu sejak lama memimpikan agar anak-anak muda di desanya bisa lebih pandai dari dirinya.  
Awalnya, dia hanya berkeliling membawa puluhan buku sumbangan Nirwan. Namun, lama-kelamaan semakin banyak donatur yang mengirimkan buku ke rumahnya. Jadilah koleksi Kuda Pustaka Gunung Slamet lebih dari seribu buku. Beragam tema, dari berbagai genre.
Kecuali ketika para murid tengah libur atau menjalani ujian, jadwal keliling Kuda Pustaka tak pernah berubah. ”Kalau di sekolah, Kuda Pustaka masuk saat anak-anak istirahat. Di TPQ saat anak-anak belum mulai belajar agama,” tambahnya.
Indri, anak keduanya, kadang ikut berkeliling bersamanya sesudah sekolah. Bocah perempuan kelas V  SD tersebut bertugas merapikan buku-buku yang selesai dibaca anak-anak.Namanya anak-anak, kendati sudah sering diingatkan, kerap tak disiplin menjaga kerapian buku yang dibaca. Sebagian bahkan tanpa sengaja menghilangkan buku yang dipinjam. Namun, tak sekali pun Ruri marah.
”Kalau hilang, saya hanya bisa memberikan nasihat agar jangan sampai terulang,” katanya sembari tersenyum.
Kini peminat Kuda Pustaka merambah kelompok usia yang lebih luas. Setiap kali pulang berkeliling, misalnya, belasan orang, mulai anak-anak hingga dewasa, sudah menunggu Ruri.Mereka juga bisa membaca atau meminjam buku di rumah Ruri di luar Selasa, Rabu, dan Kamis. ’’Saya senang semakin banyak yang suka membaca. Rumah saya juga jadi ramai terus,” katanya.Kepala Desa Serang Sugito tak kalah senang. Sebab, Kuda Pustaka telah banyak membantu warga. Banyak petani yang belajar cara beternak atau menanam sayur yang baik dari buku-buku yang dipinjam dari punggung si Luna.
”Desa juga menawarkan agar buku koleksi di perpustakaan desa bisa dibawa untuk dipinjamkan,” katanya.

Tawaran tersebut tentu disambut Ruri dengan tangan terbuka. Semakin banyak koleksi, semakin banyak pula ilmu yang bisa disebarkan. Namun, dia berharap bisa menampung semua buku yang dipercayakan kepadanya itu di sebuah perpustakaan mini.Dia bermimpi perpustakaan mini tersebut bisa dibangun di depan rumah sehingga para peminat buku bisa lebih tenang saat membaca atau meminjam. Selain itu, Ruri berencana membuka pelatihan komputer gratis di rumahnya.”Ada yang ingin membantu 10 komputer untuk belajar masyarakat. Saya sendiri juga ingin belajar karena belum bisa komputer,” katanya. (*/JPG/c6/ttg)

 

Berita Terkait