Khawatir Rabies, Kayong Utara Belum Tertular

Khawatir Rabies, Kayong Utara Belum Tertular

  Rabu, 31 Agustus 2016 09:30
DIGIGIT: Alex (10) korban gigitan anjing di betis kirinya, Selasa (30/8) tengah dirawat di Puskesmas Siduk, agar terhindar rabies.

Berita Terkait

Pelajar di SDN 06 Sukadana di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Alex, 10 dilarikan ke Puskesmas Siduk, Selasa (30/8). Alex meraung kesakitan setelah digigit anjing peliharaannya.

 

 

Danang Prasetyo, Sukadana

 

“Dia digigit anjing seaktu hendak berangkat ke sekolah,” kata Darwis paman Alex yang saat itu mengantar bersama ibu Alex ke Puskesmas.

Sebelum ke sekolah, Alex dan rekannya ke belakang rumah untuk mengambil jambu. Tiba-tiba, diantara rekannya mengganggu anjing yang masih berbaring di kolong rumah. Bambu untuk menjolok jambu, malah digunakan mengganggu anjing tersebut. Anjing bangun dan mengejar. Terakhir anjing memburu dan menggigit Alex.

“Anjing itu peliharaan saya dan biasa saya gunakan untuk berburu. Sebetulnya, anjing itu tenang asal tidak diganggu,” kata Darwis.

Setibanya di Puskesmas Siduk, Alex yang masih mengenakan seragam SD langsung ditangani tim medis. Betis kaki kirinya digigit anjing di dua titik, langsung dibersihkan dengan detergen di bawah aliran air yang mengalir deras. Setelah dibersihkan, Alex diobati dengan diberi antiseptik dan disuntik agar tidak tertular rabies.

Kasus gigitan anjing ini sebetulnya bukan yang pertama. Sebelumnya, sejumlah warga di Desa Simpang Tiga sudah mengalami hal serupa. Satu diantaranya, Hafiz yang tinggal di Dusun Siduk. Ia digigit anjing sewaktu pulang dari sekolah. Siswa kelas 1 SDN 08 Siduk ini sempat mengalami demam. Kendati banyaknya warga yang digigit anjing, sukurnya sejauh ini belum ada kasus rabies di Kayong Utara.

“Hingga saat ini, kasus rabies belum ditemukan di Kayong Utara. namun kita perlu waspada sebab kasus rabies cukup tinggi di Kalbar bahkan Kabupaten Ketapang yang bertetangga dengan Kayong Utara, kasus rabiesnya tertinggi,” jelas drh Ludy yang kerja di Dinas Pertanian dan Perternakan KKU.

Dijelaskan Ludy, rabies adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus, yaitu virus rabies yang menyerang sistem syaraf pusat. Semua hewan mamalia dapat terjangkit rabies. Anjing, kucing dan kera dapat tertular rabies. Sapi dan kelelawar juga dapat tertular rabies.

“Penyakit ini bersifat zoonosa, artinya penyakit hewan yang dapat menular ke manusia, sangat berbahaya karena apabila gejala klinis sudah timbul maka tidak ada obatnya dan selalu diikuti dengan kematian,” jelasnya.

Di Indonesia, sambung Ludy lagi, sebagian besar kasus rabies ditularkan oleh anjing. Sebagian kecil ditularkan oleh kucing dan kera. Sedangkan di Amerika sebagian besar kasus rabies ditularkan oleh kelelawar.

Seperti apa anjing yang tertular rabies? “Anjing yang rabis itu tidak lagi mau memperhatikan perintah tuannya, suara menjadi parau, anjing mudah terkejut, gugup, air liur banyak keluar, ekor berada diantara dua paha, menyerang dan menggigit apa saja yang dijumpai, kejang-kejang disusul dengan kelumpuhan dan biasanya mati dalam 4-7 hari setelah gejala pertama timbul,” Ludy menjelaskan.

Cara penularan rabies, dilanjutkan Ludy, virus rabies masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan melalui luka gigitan oleh hewan penderita rabies luka yang terkena air liur hewan penderita raboes. Begitu memasuki tubuh, virus berjalan melalui pembuluh syaraf. Arget utamanya adalah otak dan sumsum tulang belakang (spiral cord) menyebabkan peradangan pada otak, sehingga otak tidak dapat mengendalikan fungsi tubuh. “Dari Distanak juga telah membuat program untuk mencegah Rabies berkembang. Dengan mebentuk petugas eliminasi di sejumlah desa di Kayong Utara. Petugas inilah yang membasmi anjing liar agar daerah kita bebas dari Rabies,”katanya. (*)  

Berita Terkait