KEUTAMAAN MENCARI ILMU

KEUTAMAAN MENCARI ILMU

Jumat, 19 Agustus 2016 09:14   1

AGAMA Islam menganjurkan agar kita selalu belajar dan gemar bertanya tentang sesuatu yang tidak kita ketahui. Rasulullah SAW bersabda “ Bagi pencari ilmu, syafaatnya seperti syafaatnya para Nabi. Baginya seribu istana istana emas di surga “ Beliau SAW juga bersabda “ Pencari ilmu dicintai Allah, dicintai malaikat, dan dicintai para Nabi “. Pada suatu waktu Nabi SAW bersabda kepada Abu Dzar RA “ Jika engkau duduk satu saat mempelajari ilmu itu lebih baik bagimu dari pada ibadah satu tahun “.

Banyak hadis Rasulullah SAW yang mengungkap tentang keutamaan menuntut ilmu itu. Diantaranya: Rasul SAW bersabda “ Barang siapa yang keluar mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang “ ( HR.Turmuzi ). Jadi andai takdir berlaku kita meninggal dalam perjalanan pergi atau pulang dari menuntut ilmu di suatu majelis, insya Allah berlakulah sabda Nabi SAW tersebut. Dalam hadis lain Nabi akhir zaman ini bersabda “ Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga “ ( HR.Turmuzi ).” Siapa yang menyiapkan dirinya menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, walau hanya sedikit, setiap langkah yang ia lalui, maka akan dibalas oleh Allah dengan kemudahan langkah menuju surga. Dan sungguh para malaikat membentangkan sayapnya, meridhai dan menaungi para penuntut ilmu “ ( HR.Bukhari – Ibnu Majah dan Abu Daud ) “ Barang siapa yang pergi menuntut ilmu, maka ia telah termasuk fii sabilillah, hingga ia pulang “ ( HR.Turmuzi ).” Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya , penduduk langit dan bumi sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia “ ( HR.Turmuzi ). Jadi, walaupun kita bukan ustad, bukan dai, bukan ulama, tapi ketika kita berhasil mengajak keluarga, teman, tetangga untuk misalnya menghadiri taklim atau menyampaikan ilmu yang telah kita dengar, insya Allah sudah merupakan kebaikan bagi kita.

Dalam satu hadis yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW menerangkan bahwa  seseorang yang memperoleh satu ilmu, lalu ia berniat akan mengamalkannya, sudah memperoleh sepuluh kebaikan. Dan bila ia mengamalkannya, maka memperoleh nilai seribu bulan. Subhanallah. 

Namun perlu kita ingat, bahwa dalam mencari ilmu hendaknya bersifat tulus. Imam Al Ghazali berkata “ Jika mencari ilmu untuk berbangga diri, menarik perhatian orang, dan memperoleh keuntungan dunia ,ketahuilah engkau sedang meruntuhkan agama “ Para salafus saleh, selalu ikhlas dalam mengajarkan, mengamalkan dan mencari ilmu pengetahuan. Tidak ada yang diharapkan mereka ketika berkhidmat dalam bidang ilmu kecuali ridha Allah.” Mereka tak pernah mencari pengakuan, penghormatan, popularitas, harta, takhta dan jabatan yang bersifat dunia. Bagi mereka, semua hal yang tidak berkait dengan keridhaan Allah adalah tiada bernilai. Karena itu mereka menjauhi tujuan – tujuan yang bersifat duniawi ketika mencari ilmu “ ( Buku Meniti Jalan Surga Bersama Orang-Orang Suci oleh Abd.Al-Wahhab Al-Sya’rani ).

Seseorang mendatangi Syaikh Ali Al-Khawwash dan bertanya “ Wahai Syaikh, bagaimana pendapat Syaikh tentang orang yang menuntut ilmu ?”. Beliau menjawab “ Ketahuilah, ada tiga tipe pencari ilmu. Pertama, orang yang mencari ilmu demi akhirat. Dalam mencari ilmu ia hanya mengharap ridha Allah, bukan pujian dan sanjungan manusia. Orang yang semacam ini akan selamat di akhirat. Kedua, orang yang mencari ilmu demi popularitas, takhta dan harta. Sebenarnya, ia mengetahui bahwa niatnya dalam mencari ilmu tidaklah patut baginya. Sebab, semua hal yang dicari adalah kesia-siaan. Namun ia dikalahkan oleh nafsunya dan akhirnya berada dalam bahaya. Jika ajalnya datang sementara dirinya belum bertobat, kehidupannya berakhir dengan su’ul khatimah. Akan tetapi jika ia sempat bertobat sebelum ajalnya tiba, mengamalkan ilmunya, dan melakukan hal yang diabaikannya, ia akan selamat di akhirat.

Ketiga, orang yang mencari ilmu karena pengaruh bisikan setan. Ia menjadikan ilmu yang didapat sebagai sarana berbangga diri lantaran banyak pengikutnya. Dengan ilmunya, ia merambah setiap jalan yang akan mewujudkan keinginan – keinginan dunianya. Meskipun demikian, ia merasa bahwa dirinya mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah. Nau’zubillah mindzaliq !”

Syaikh Abu Bakar Al-Khulani berkata “ Derajat mu tidak akan luhur karena banyaknya ilmu, tetapi karena banyaknya amal. Kepintaran mu bukan terukur dari seberapa bidang ilmu yang kau kuasai, melainkan dari kecerdikan mu mengamalkan ilmu yang kau peroleh “ Syaikh Muhammad Al-Jauzi berkata “ Sama sekali tidak berguna engkau mencari ilmu bukan karena Allah. Sebab, amal yang dipersembahkan kepada makhluk akan segera terputus. Amal untuk Allah akan langgeng dan berkelanjutan. Mencari ilmu bukan karena Allah hanya menyia-nyiakan harta, tenaga dan pikiranmu “.

Wallahu’alam 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uti Konsen