Ketinggian Air Capai Atap Rumah

Ketinggian Air Capai Atap Rumah

  Rabu, 18 May 2016 09:35
BANTUAN: Bupati Mempawah ikut berbasah-basah menyerahkan bantuan kepada korban banjir. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

MEMPAWAH- Musibah banjir di Kabupaten Mempawah semakin memburuk. Ketinggian air kian naik dan luasan banjir bertambah. Sehingga distribusi bantuan dari pemerintah daerah sangatlah diharapkan.

Terkait distribusi bantuan untuk korban banjir, Bupati Mempawah, Ria Norsan menjelaskan bantuan yang diberikan pihaknya secara bertahap. Saat ini bantuan yang telah disalurkan disesuaikan dengan ketersediaan stok barang yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Mempawah.

“Bantuan yang kita berikan tidak hanya sampai disini. Melainkan terus diberikan secara berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan korban. Intinya bantuan kita salurkan secara bertahap. Siang ini (kemarin), saya yang akan turun langsung ke lokasi untuk menyerahkan bantuan tahap dua,” tegas Norsan.

Norsan mengatakan, dalam proses penanganan banjir pihaknya harus prosedural. Terutama dalam hal pencairan dana tanggap darurat. Ada proses administrasi yang harus dilalui agar anggaran yang tersedia dapat dicairkan dan digunakan untuk penanganan bencana di Kabupaten Mempawah.

“Alhamdulillah, hari ini (kemarin) dana sudah bisa dicairkan. Sehingga petugas sudah bisa mengelola dana untuk operasional maupun membeli bahan-bahan makanan yang nanti akan disalurkan kepada korban. Karenanya, kami minta kesabaran masyarakat. Sebab, kami menangani banjir di tiga kecamatan dengan jumlah korban lebih dari 1500 KK,” tuturnya.

Disinggung rencana pembangunan sodetan sebagai upaya mengatasi persoalan banjir di Desa Pasir, Ria Norsan mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Mengingat, pembangunan sodetan itu sendiri masuk dalam program kerja Pemerintah Provinsi Kalbar.

“Merealisasikan pembangunan itu bukan perkara gampang. Persyaratan dan ketentuannya harus terpenuhi dengan baik. Salah satunya menyangkut permasalahan lahan. Masyarakat setempat harus mendukung ketersediaan lahan untuk pembangunan sodetan. Sejauh ini, kami sudah mengajukannya ke Pemprov,” tukas Bupati.

Salah seorang korban banjir di Dusun Parit Amangku, Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, Ibrahim mengaku sejak banjir merendam lingkungan masyarakatnya distribusi bantuan dari pemerintah daerah sangatlah diharapkan.

“Baru hari ini (Selasa, red), saya mendapatkan bantuan. Yakni berupa mie instan dan beras. Namun jumlah yang diberikan dinilai sangat kurang untuk setiap KK,” aku Ibrahim kepada Pontianak Post, Selasa (17/5) pagi.

Meski demikian, Ibrahim yang juga Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pasir itu tetap bersyukur dengan bantuan yang diberikan pemerintah daerah kepada dirinya dan korban banjir lainnya. Walau pun bantuan yang  sampai ke tangan korban dirasakan masih jauh dari harapan dan kebutuhan.

“Saat ini para korban sangat membutuhkan bantuan makanan. Sebab, sejak terjadinya banjir kami tidak bisa beraktivitas seperti hari biasanya untuuk mencari nafkah. Sehingga, persediaan makanan pun semakin menipis,” lirihnya.

Apalagi, sambung Ibrahim jika banjir yang merendam pemukiman masyarakat berlangsung lama. Dipastikan persediaan makanan akan semakin berkurang, dan bantuan dalam bentuk makanan sangat diharapkan untuk menyambung hidup.

“Bercermin dengan pengalaman lalu, banjir di Desa Pasir bisa berlangsung sampai belasan hari. Bayangkan saja, hingga belasan hari mendatang kami akan kehabisan makanan dirumah. Mudah-mudahan bantuan lainnya segera didistribusikan kepada korban,” harapnya.Lebih jauh, Ibrahim menuturkan banjir yang merendam pemukiman masyarakat semakin mengkhawatirkan. Volume banjir semakin bertambah hingga mencapai 1,5 meter pada titik-titik dataran rendah. Bahkan, ada rumah warga yang hanya menyisakan atap.

“Sebagian korban ada yang sudah mengungsi di atas bukit. Disana (bukit) mereka mendirikan tenda-tenda dan membawa perbekalan makanan dan pakaian seadanya,” paparnya.

Namun, masih menurut Ibrahim, banyak  pula para korban banjir yang enggan di evakuasi untuk meninggalkan rumah. Termasuk dirinya yang sampai saat ini masih bertahan didalam rumah untuk menjaga harta benda miliknya.

“Alasan kami tidak mau di evakuasi, karena takut harta benda dicuri orang. Saat ini memang belum ada kasus pencurian itu, tetapi tahun-tahun sebelumnya sudah pernah terjadi. Harta benda ludes digasak maling lantaran ditinggalkan mengungsi,” bebernya.

Karenanya, Ibrahim menuturkan dirinya beserta korban lainnya memilih tetap bertahan didalam rumah untuk menjaga harta benda miliknya. Korban pun harus membuat parak-parak didalam rumah untuk menyimpan barang-barang berharga.

“Tidurnya juga diatas parak-parak itu. Kalau mau keluar rumah, saya terpaksa menggunakan sampan,” sebutnya.

Ditanya harapan para korban, Ibrahim mengatakan masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Mempawah dapat memberikan solusi permanen dalam mengatasi persoalan banjir di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir. Agar, dampak banjir dapat diminimalisir sekecil mungkin.

“Sejak dulu kami mengusulkan agar pemerintah daerah membuat saluran air menuju ke laut. Supaya, banjir kiriman dari daerah perhuluan ini tidak berlama-lama menggenangi pemukiman masyarakat. Kalau saluran air lancar, maka banjir tidak akan separah ini,” pendapatnya.(wah)

Berita Terkait