KETIKA UANG ADALAH SEGALANYA

KETIKA UANG ADALAH SEGALANYA

  Selasa, 11 Oktober 2016 08:59   712

Oleh: Ferry Yasin

UANG bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang, demikian kata banyak orang. Karena segalanya butuh uang, toh, akhirnya uang adalah segalanya. Ini terbukti dari ditangkapnya seorang ‘tokoh agama’ di Probolinggo Jawa Timur yang dianggap dapat menggandakan uang. Berbondong-bondong orang, baik dari kalangan bawah maupun kelas atas, datang kepadanya dengan sebuah harapan: uang yang mereka miliki bisa berlipat kali ganda. Trust yang begitu kental kepada sang tokoh, diyakini bersumber dari ‘kemampuan’ spiritualnya, statusnya sebagai ‘raja’ dan hubungannya yang luas sampai ke tingkat elit. Rupanya ia memiliki daya linuwih, demikian anggapan orang yang mengkultuskannya.

Sebagai produsen penggandaan uang, kesalahan tidak bisa sepenuhnya harus ditanggungnya. Ada permintaan, maka ada penawaran. Berarti kemampuan dan kejeliannya melihat kebutuhan dan peluang dari masyarakat yang ingin jalan pintas mendapatkan uang, maka ia hadir. Ini mengindikasikan ada pergeseran dalam persepsi masyarakat tentang uang dan cara memperolehnya. Uang tidak sekadar dilihat lagi sebagai alat dan sarana tetapi sebagai tujuan.  Kemudian cara mendapatkannya, tidak lagi mempertimbangkan proses sebuah kerja keras dan keetisan serta kepatutan tetapi lebih kepada hantam kromo. 

Itulah realita yang kita lihat akhir-akhir ini, menggejala di setiap tempat. Hanya kebetulan kasus di atas yang memperoleh magnitude-nya. Besar dari segi jumlah uang, besar dari segi jumlah korbannya, besar dan luas dari segi jangkauan dan dampaknya, besar dari segi keterkenalan sang tokoh, dan besar pula beberapa orang penting yang langsung atau tidak berhubungan dengannya, maka besar pula pemberitaannya. Kalau dipikir, sungguh sesuatu yang tidak masuk akal, di era digital dan ruang angkasa yang sedang kita alami dan jelas-jelas terlihat dengan mata kita, ada saja peristiwa yang  absurd seperti ini. Bahkan ada orang yang kita tahu sangat rasional dalam berpikir, ikut menjadi bagian di dalamnya.

Salah siapa?  Filsuf Jean-Jacques Rousseau pernah berkata,  manusia terlahir bebas, dan kini di mana-mana ia terbelenggu. Ada belenggu pikiran dan pemahaman yang dialami masyarakat karena serbuan informasi lewat berbagai media, terutama televisi.  Berbagai tayangan dan iklan dari kotak ajaib itu selalu menyatakan bahwa yang disebut bahagia itu pastilah identik dengan kepemilikan benda atau harta tertentu, dan itu baru bisa dipenuhi mutlak dengan uang. Sebuah keluarga yang bahagia dan penuh senyum, adalah mereka yang bisa tinggal di apartemen, sebuah hunian eksklusif, dengan fasilitas lengkap one stop living, eksklusif dan tingkat pengamanan super maksimum.

Cantik itu berarti langsing dan berkulit putih dengan rambut terurai panjang karena jenis shampo tertentu, maka berlomba-lombalah wanita untuk memenuhi standar itu supaya kepercayaan dirinya menjadi tinggi. Dan tidak sedikit uang yang dibayarkan memenuhi ambisi bak bidadari itu. Itulah nilai-nilai utama kehidupan, dan harus begitu karena tidak ada nilai lain yang bisa membuat seseorang bahagia sebagaimana yang mereka tawarkan. Sebuah belenggu, memang.

Begitu pula dalam dunia pendidikan. Sejatinya tujuan pendidikan adalah membangun manusia secara utuh yang berkarakter dan berkepribadian. Oleh karena itu, mencipta manusia yang utuh, proses sangat diperlukan agar mereka tidak hanya pintar secara intelektualitas, tetapi juga punya ketrampilan dan cerdas secara sosial maupun spiritual. Tetapi, tak bisa disangkal masih ada deviasi pemahaman bahwa pendidikan sebagai jalan menuju sukses dan berhasil, yang selalu dikuantifikasikan dengan uang. Orang tua memilihkan jurusan anaknya melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi yang potensial menghasilkan uang secara cepat dan banyak. Jurusan-jurusan ‘kering’ seperti sejarah, antropologi, arkeologi, geologi, filsafat, politik dan ilmu sosial serta humaniora jarang dilirik karena nantinya tidak easy money.

Ulah para koruptor, terutama yang kelas kakap dan yang merupakan para public figure, baik yang apes karena operasi tangkap tangan, maupun yang masih bebas bergerak di bawah tanah, alias belum tercium baunya oleh KPK, merupakan cerminan betapa uang disembah bagaikan berhala. Nilai-nilai ilahi yang tertanam dalam lubuk hati seseorang berupa kejujuran dan ketulusan seolah-olah ditindas dan dibenamkan sedalam-dalamnya di lembah noda. Tidak heran, mengapa dolar Amerika jelas-jelas terpampang tulisan ‘In God We Trust’ karena para pencipta sudah dapat memprediksi sejak awal kemana arah persepsi dan mindset manusia terhadap dolar kalau tidak menjaganya dengan hati Tuhan.

Money politics dalam pileg dan pilkada selama masa reformasi ini, memunculkan demokrasi periferal, dimana rakyat berpartisipasi hanya karena ada sejumlah uang tertentu yang mereka akan dapatkan sebagai ganti pemberian suara mereka. Uang menjadi daya penggerak, sehingga seorang calon pemimpin yang bakal dipilih haruslah memiliki standar minimal kekayaan tertentu agar bisa berhasil. Ini jelas pendidikan politik yang tidak baik. Maka muncullah istilah ‘Wani Piro?’ berani bayar berapa. Sebuah istilah yang makin kerap diucapkan, meski sekedar guyonan, tetapi sebenarnya menjadi sebuah reprensentasi kebiasaan—bahkan mungkin mulai membudaya—di kalangan masyarakat. Semoga Pilkada Jakarta memunculkan partisipasi orisinal, dimana rakyat yang justru berkorban dan mengeluarkan uang demi dukungan calon pasangan mereka yang terbaik.

Uang layak kita dapatkan, kalau disitu ada nilai kerja keras, nilai kepatutan dan profesionalitas. Dalam suatu wawancara  pekerjaan, ketika manajer personalia bertanya berapa gaji yang anda harapkan, alangkah baiknya menghindari jawaban ‘ terserah’. Ketika melamar pekerjaan, berarti seseorang ‘menjual dirinya’. Ia tahu keahlian dan kemampuan serta harga yang dimiliki, dan ia layak dengan sejumlah uang setimpal hasil kompensasi kemampuannya tersebut. Dalam istilah pasaran lu jual gua beli. Dan jangan lupa, uang tetap menjadi motivasi kuat orang untuk  berkarya, bekerja keras dan berprestasi. Itu sangat manusiawi, yang jadi pertanyaan adalah, dimana hatimu melekat?

*) SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kab Kubu Raya