Ketika Sang Superwoman Sakit

Ketika Sang Superwoman Sakit

  Rabu, 19 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Memiliki bunda multitasking memang sangat menyenangkan. Berbagai pekerjaan rumah tangga dilakukannya setiap hari. Bahkan, seakan tiada henti. Ketika bunda sakit, ‘kekacauan’ pun terjadi. Rumah berantakan, cucian kotor menumpuk, hingga makanan pun tak tersedia. Bagaimana cara menghindari kondisi tersebut?

Oleh : Marsita Riandini

Kehadiran seorang ibu atau istri dalam rumah tangga memang seperti superwoman. Ia bisa mengerjakan apa saja. Mulai dari membuka mata di pagi hari hingga tenggelam matahari. Semua dikerjakannya sendiri. Tanpa keluh kesah. 

Tetapi ketika sang superwoman sakit, semua anggota keluarga menjadi repot. Lantas, bagaimana agar seluruh pekerjaan rumah tangga tetap berjalan seperti biasa, walaupun sang bunda sakit?

Agus Handini M. Psi, Psikolog mengatakan tak hanya karena sakit, ketidakhadiran bunda karena tugas ke luar kota dan meninggalkan rumah beberapa waktu saja bisa menyebabkan kondisi rumah berantakan. Sebab tugas-tugas bunda tak ada yang menggantikan. 

“Kemampuan seorang ibu yang multitasking inilah yang memunculkan image di masyarakat bahwa ketika seorang ayah meninggal, seorang ibu masih bisa menggantikan peran ayah. Termasuk dalam pemenuhan ekonomi,” ujar Dosen di IAIN Pontianak ini. 

Sebaliknya, ketika seorang ibu pergi untuk selama-lamanya, seorang ayah belum tentu bisa menggantikan peran seorang ibu. “Anak kemana, ayahnya kemana. Ini seharusnya tidak terjadi jika seorang ayah mau mempelajari keterampilan sebagai seorang ibu,” ungkapnya. 

Harus ada peran dan tanggung jawab setiap anggota keluarga dalam rumah tangga. Anak dan ayah memiliki perannya masing-masing. Tidak semuanya dibebankan kepada seorang ibu. 

“Namanya juga manusia, ibu pasti juga lelah. Mudah capek, bahkan sampai sakit. Rumah tangga itu bukan hanya tanggung  jawab seorang ibu saja,” kata Agus. 

Pembagian tugas-tugas dalam rumah tangga itu sebaiknya dilakukan sejak awal-awal pernikahan. Apa saja yang menjadi tugas suami, apa saja yang menjadi tugas istri. Ketika sudah punya anak, mereka harus mendapatkan bagian tugas-tugasnya di rumah. 

Pembagian tugas dalam rumah tangga hendaknya menyesuaikan dengan kondisi rumah tangga setiap keluarga. Suami istri yang bekerja, tentu berbeda dengan suami saja yang bekerja. Anak-anak yang sudah remaja tentu berbeda dengan yang masih usia kanak-kanak.

 “Ketika istri bekerja, tentu akan semakin berat bagi dia jika semua pekerjaan rumah tangga dibebankan kepadanya,” tutur Agus. 

Membagi tugas dengan anak tidak begitu sulit bagi seorang ibu. Apalagi jika anak sudah dilatih sejak usia dini. Seperti membereskan mainannya, menyimpan piring sisa makanan pada tempatnya, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sesuai dengan usia mereka. Jika anak terbiasa, mereka tetap mengerjakan tugas-tugasnya ketika bunda sakit. “Apalagi jika mereka bisa mengambil alih pekerjaan ibunya,” ujar Agus. 

Tetapi, agak sulit berbagi tugas dengan pasangan. Apalagi jika sejak kecil pasangan Anda tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Jauh lebih sulit sebenarnya membagi tugas dengan pasangan. Ibarat bayi, pasangan itu bayi raksasa. Apalagi ada seorang suami yang lebih mendominasi aturan di rumah dan tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” ungkapnya 

Agus pun memberikan solusi yakni membangun komunikasi yang baik dengan pasangan. Istri pasti memiliki teknik komunikasi yang tepat dengan suaminya. Sebab, mereka yang lebih memahami suaminya. “Mungkin dengan hal-hal yang kecil saja. Misalnya ketika ayah menggunakan tisu, beritahu dia untuk membuangnya di tempat sampah. Sebab ini nanti akan menjadi contoh bagi anak-anaknya,” saran Agus. 

Keterampilan dalam menguasai peran seorang ayah dan ibu itu bisa dipelajari. Kecuali untuk hal-hal yang menyangkut kodrat seorang wanita, misalnya hamil, melahirkan, menyusui, dan menstruasi. “Seorang suami harus memahami bahwa pekerjaan rumah tangga itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Bahkan bisa jauh lebih stress dibanding pekerjaan kantor, karena tidak ada henti-hentinya,” terangnya. 

Tidak terbiasanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga sejak kecil  akan terbawa ketika menikah. Mereka akan menganggap tugas utama seorang ayah adalah mencari uang. “Segala pekerjaan rumah tangga di bebankan kepada seorang ibu,” kata Agus. 

Bahkan banyak kasus yang terjadi di rumah tangga, kondisi rumah menjadi berantakan ketika bunda sakit. Pakaian menumpuk karena tidak ada yang mencuci. Bahkan, untuk makan pun harus membeli. “Ini karena tidak ada yang menggantikan peran ibu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangganya,” pungkasnya. **

Berita Terkait